DAERAH

Pasca Tsunami Aceh, 4 Pulau Muncul Jadi Daya Tarik Wisata

BANDAACEH, bisniswisata.co.id: Dibalik fenomena alam tsunami Aceh pada Desember 2004, juga tersimpan banyak hikmah dan berkah untuk kehidupan warga di Serambi Mekkah. Tsunami meluluh lantakkan kawasan pesisir Aceh hingga menewaskan sedikitnya 250.000 jiwa melayang di provinsi paling barat Indonesia itu. Hikmah yang datang setelahnya, telah menyadarkan manusia tentang kekuasaan Ilahi.

Setelah itu datang bantuan melimpah dari berbagai negara donor di dunia sehingga merubah wajah provinsi Aceh dengan pembangunan jutaan rumah, ribuan gedung, ribuan kilometer badan jalan. Kemudian ratusan ilmuan atau peneliti tsunami lahir karena diawali bencana maha dahsyat itu.

Yang menarik lagi, empat pulau yang sempat hilang kini timbul kembali ke permukaan laut di kawasan kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh. Pulau itu Pulau Jejawi, Pulau Maleno, Pulau Gosong Sianje dan satu pulau tanpa nama. Pulau ni timbul kembali setelah tenggelam sekitar 10 tahun lebih.

Kehadiran pulau ini, menjadi daya tarik wisata terbukti semakin diminati wisatawan lokal dan mancanegara untuk datang. Pulau-pulau kecil nan indah ini berada diantara puluhan gugusan pulau lain dalam wilayah Kecamatan Pulau Banyak dan Kecamatan Pulau Banyak Barat. Pulau yang tidak dihuni penduduk dan hanya ditumbuhi hutan dan pohon kelapa juga pohon lainnya.

Pengunjung datang ke pulau tersebut untuk menikmati keindahan bawah laut perairan Samudera Hindia dan mandi di tepi pantai yang memiliki pasir putih bak permadani. Hal paling menarik yakni ada ribuan burung camar setiap hari hinggap di pulau tersebut.

Pegiat wisata di Aceh Singkil, Adi Novri mengatakan, biasanya pulau itu muncul saat air surut. Lalu ketika air pasang, keberadaannya kembali hilang ditelan laut biru. Menariknya ribuan burung hinggap disitu pada waktu siang ketika pulau tampak ke permukaan samudera.

Sehingga membuat pemandangan sangat indah dan menjadi daya tarik pengunjung. Malam hari, kawanan burung camar menghilang ke pulau lain. “Rombongan burung camar lebih suka mencari ikan kecil sekitar air dangkal pulau ini. Walaupun perjalaan laut sekitar 4 jam naik kapal ferry dari daratan Aceh Singkil, ditambah sekitar 30 menit dari Pulau Balai, Ibu kota Kecamatan Pulau Banyak, tapi keindahannya sangat mempesona pengunjung,” tuturnya seperti diunduh laman MediaIndonesia, Sabtu (21/12/2019).

Dijelaskan, jumlah pulau besar kecil di kawasan Kepulauan Banyak sekitar 71 pulau, namun saat gempa bumi dan gelombang tsunami, 3 pulau tenggelam.
“Jadi, sekarang jumlah pulau di kawasan gugus Kepulauan Banyak sekitar 68 pulau lagi termasuk dengan Pulau Setan. Jadi, 28 pulau masuk dalam Kecamatan Pulau Banyak Barat dan 40 pulau masuk ke wilayah Kecamatan Induk Pulau Banyak,” jelasnya.

Fenomena serupa pernah terjadi di perairan Pasifik. Murray Ford and Paul Kench, ilmuwan dari University of Auckland Selandia Baru, memublikasikan fenomena pulau Nadikdik Atoll atau Knox Atoll yang muncul ke permukaan lagi di jurnal Geomorphology pada 2 Februari 2014. Dalam temuannya kedua ilmuwan itu mengemukakan pulau karang tersebut lenyap saat terjadi badai topan pada 1905, dan setelah lebih dari satu abad muncul kembali.

Dalam penelitiannya kedua ilmuwan mendokumentasikan perubahan gerakan posisi, bentuk di daerah pulau Nadikdik Atoll. Dari pendokumentasian itu diperoleh gambaran sebuah fitur mencolok pembentukan satu pulau dan penyebaran yang cepat dari beberapa pulau lain di timur laut dari kepulauan Atol. (*)

Endy Poerwanto