NASIONAL

Disayangkan, Debat Capres Tak Masukkan Isu Pariwisata

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pelaku usaha pariwisata menyayangkan isu pariwisata tidak disinggung, apalagi dimasukkan dalam debat capres-cawapres 2019. Padahal, industri pariwisata bisa menjadi penyumbang devisa terbesar. Tahun 2016 mencapai USD 13,5 miliar, tahun 2017 tembus US$ 15 Mili dan tahun 2018 saja mencapai 17 miliar dolar AS, hanya satu tingkat di bawah CPO.

Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) sangat menyayangkan pariwisata tak masuk dalam debat capres 2019. Padahal ini sangat penting dan sangat perlu karena pariwisata bisa menyerap lapangan tenaga kerja yang sangat besar.

“Namun kami menyadari tidak masuknya Pariwisata dalam Debat Capres, karena Pariwisata selama ini belum menjadi Sektor Pariwisata, namun dianggap hanya berupa bidang Pariwisata saja. Padahal sektor itu memiliki nilai strategis ketimbang bidang,” papar Ketua Umum ICPI Prof. Azril Azahari, PhD kepada Bisniswisata.co.id, Ahad (17/02/2019).

Sebagai salah satu bidang yang sedang dan digandrungi banyak pihak, lanjut pengamat pariwisata ini, pariwisata rupanya tidak bisa berjalan sendiri. Ada beberapa aspek yang sangat terkait, termasuk yang menjadi tema untuk debat capres kedua di Pilpres 2019 yakni pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. “Karena itu pariwisata tak dibahas khusus dalam debat Capres,” ucapnya.

Dilanjutkan, sektor pangan, sumber daya alam, dan lingkungan hidup juga memiliki ikatan kuat dengan pariwisata. Karena menurutnya saat ini pariwisata sudah masuk ke dalam tahap keberlangsungan, sehingga lingkungan hidup adalah aspek yang sangat penting. “Nah jika pariwisata sudah menjadi sektor, maka dia bisa berdiri sendiri,” tandasnya.

“Bukti pariwisata masih kategori bidang, coba chek di Badan Pusat Statistik (BPS). Padahal yang disebut sektor pariwisata disejajarkan dengan sektor lainnya yang ada. Karena itu, saya juga sangat meragukan dengan data pariwisata selama ini yang dikeluarkan. Karena Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia yang diterbitkan BPS, tidak match dengan Jenis usaha yang diterbitkan oleh KEMENPAR melalui PERMENPAR No 10 thn 2018,” ungkapnya serius.

Dicontohkan pengukuran Makro Ekonomi bukanlah dihitung dari jumlah devisa, tapi dari kontribusi Pariwisata terhadap PDB (Produk Donestik Bruto). Sedangkan kontribusi Pariwisata terhadap PDB hanya 5,6 %. “Jadi jauh dibawah Pertanian dan Minyak/Sawit. Kesalahan kita mungkin kurang faham dengan pengukuran atas makro ekonomi kita,” papar Prof Azril.

Menurutnya, siapa pun yang kelak menjadi President harus mampu mengembangkan pariwisata jadi Sektor tersendiri serta harus mampu menghitung Perencanaan TK bidang Pariwisata, yang sampai saat ini Belum ada.

“Saya menilai kerugian yang besar jika pariwisata tidak masuk dalam Debat Capres. Pariwisata yang seharusnya menjadi Sektor yang harus berdiri sendiri akan terabaikan dan tidak menjadi titik perhatian maupun prioritas. Jadi yang harus dibenahi bila pariwisata mau disejajarkan dengan Sektor atau Lapangan Usaha lainnya yang sudah baku,” sambungnya.

Di tempat terpisah, Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Didin Junaedy mengaku kecewa masalah pariwisata tak masuk dalam debat capres 2019, padahal pariwisata memiliki nilai ekonomi yang strategis, mampu menciptakan lapangan kerja yang besar hingga mensejahterakan masyarakat hingga ke pelosok nusnatara, terutama yang memiliki obyek wisata.

“Pariwisata ini alurnya ke ekonomi, jangan di budaya atau kesra. Jadi, pariwisata nanti harus menjadi salah satu prioritas penbangunan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat karena pariwisata itu langsung bersinggungan dengan rakyat,” papar Didin saat menghadiri acara penandatanganan Kuningan MICE Alliance di Jakarta, akhir pekan ini.

Padahal, lanjut Didin, Indonesia ke depan hidup dari pariwisata. Peluang pariwisata Indonesia sangat besar untuk menjadi yang terbaik di dunia. Presiden Jokowi pada Ulang Tahun ke-50 PHRI, bahwa Indonesia masuk deretan 6 besar negara terindah di dunia versi penerbit ternama Inggris, Rough Guides. Kedua, Indonesia juga masuk 10 besar negara yang wajib dikunjungi pada 2019. Persisnya, Indonesia menempati nomor 7, dan menjadi satu-satunya negara ASEAN yang lolos top 10 versi Lonely Planet.

Selain itu Pariwisat menjadi penghasil devisa terbesar di Indonesia 2018, dengan 17 miliar dolar AS. Angka itu sudah mengalahkan CPO (crude palm oil) atau minyak kelapa sawit, juga oil and gas, minyak dan gas bumi. “Pariwisata menjadi penghasil devisa nomor satu Indonesia. Lho kenapa tidak masuk dalam bahasan Debat Capres, ini yag membuat saya kecewa,” lontarnya.

Debat capres kedua akan digelar di Hotel Sultan, Jakarta, dan dimulai pukul 20.00 WIB. Pembaca berita Tommy Tjokro dan Anisha Dashuki diplot sebagai moderator sekaligus memandu jalannya debat capres kedua ini. Nama Najwa Shihab sempat menjadi kandidat kuat moderator debat sebelum akhirnya KPU memutuskan Tommy dan Anisha.

Tim panelis beranggotakan Joni Hermana (Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Nur Hidayati (Direktur Eksekutif Walhi), Arif Satria (Rektor Institut Pertanian Bogor), Irwandy Arif (ahli pertambangan Institut Teknologi Bandung), Ahmad Agus Setiawan (pakar energi Universitas Gadjah Mada), Sudharto Prawata Hadi (pakar Lingkungan Hidup), Dewi Kartika (Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA). (ENDY)

Endy Poerwanto