NEW YORK, bisnuswisata.co.id: Mamdani, wali kota terpilih New York City, membingkai kemenangannya sebagai teguran terhadap status quo dan sebuah sinyal bagi khalayak nasional yang lebih luas.
Dikutip dari halalfocus yang melansirnya dari www.trtworld.com, Zohran Mamdani berpidato dalam pidato kemenangan di pesta malam pemilihan wali kota, Selasa, 4 November 2025, di New York.
Zohran Kwame Mamdani berubah dari sosok yang relatif tidak dikenal menjadi pusat badai politik nasional — dan, pada hari Selasa, meraih kemenangan penting yang menjadikannya wali kota Muslim pertama di New York City.
Sebagai anggota parlemen negara bagian dari Queens di awal usia 30-an, Mamdani menjalankan kampanye yang dibangun di atas dua hal sederhana: fokus yang lugas pada biaya hidup warga New York biasa dan penjangkauan yang gigih.
Janji-janji seperti sewa yang diatur, perjalanan bus kota gratis, toko swalayan kota, dan layanan penitipan anak universal menjadi inti pesan yang ditujukan kepada orang-orang yang terhimpit oleh masalah perumahan, transportasi umum, dan pengeluaran sehari-hari.
Ia mengemas agenda ini dengan gaya yang informal dan mudah diakses: klip video sosial pendek yang ditonton jutaan kali, kampanye lapangan yang masif, dan kemampuan untuk bertemu pemilih di tempat tinggal mereka.
Seperti yang ia katakan setelah kemenangannya: “Perhentian berikutnya dan terakhir adalah Balai Kota. Semua orang siap beraksi”
Kebangkitan Mamdani sangat dramatis. Ia mengejutkan partai pada bulan Juni, mengalahkan mantan gubernur Andrew Cuomo dalam pemilihan pendahuluan Demokrat pilihan peringkat, dengan Cuomo mengakui kekalahan pada malam pemungutan suara.
Kekecewaan itu membawanya dari anonimitas relatif ke panggung nasional, di mana ia diperdebatkan bukan hanya untuk kebijakan tetapi juga untuk apa arti kemenangannya bagi arah Partai Demokrat.
Para pendukung memuji seorang kandidat yang “benar-benar tampak nyata” dan berbicara tentang isu-isu sehari-hari, seperti “harga gerobak makanan halal”, seperti yang dikatakan seorang komentator, dengan cara yang menghubungkan berbagai komunitas.
Namun, kebangkitannya diperjuangkan di berbagai bidang. Mamdani menghadapi serangan bertubi-tubi dari media konservatif, pendukung bisnis terkemuka dari para pesaing, dan sindiran berulang kali dari Presiden AS Donald Trump, yang mencaci-makinya dan melakukan intervensi di saat-saat terakhir.
Trump dan lawan lainnya juga menyuarakan kekhawatiran tentang proposal Mamdani, menyebutnya ekstrem dan mengancam akan menahan dana federal jika ia menang.
Bahkan di kalangan Demokrat sentris pun terdapat skeptisisme, dan para pengamat memperingatkan bahwa memerintah New York akan penuh tantangan.
Menavigasi Medan yang Bermusuhan
Kampanye ini juga memicu gelombang permusuhan daring. Kelompok advokasi yang melacak insiden kebencian mencatat lonjakan tajam unggahan anti-Muslim dan ancaman kekerasan setelah kekalahan telak di pemilihan pendahuluan, termasuk ratusan penyebutan Islamofobia dan lebih dari seratus laporan kekerasan terkait kebencian sehari setelah pemungutan suara ditutup.
Para pendukung Mamdani dan kelompok hak-hak sipil mendesak pejabat publik untuk mengutuk lonjakan Islamofobia dan pelecehan.
Namun, Mamdani membingkai kemenangannya sebagai teguran terhadap status quo dan sebuah sinyal kepada khalayak nasional yang lebih luas.
Dalam pidato kemenangannya, ia menjadikan New York sebagai model untuk melawan apa yang ia sebut sebagai kemunduran nasional: “Jika ada yang dapat menunjukkan kepada bangsa yang dikhianati oleh Donald Trump cara mengalahkannya, kota itulah yang melahirkannya. Di masa kegelapan politik ini, New York akan menjadi cahayanya.”









