NASIONAL NEWS

Travel Agent Tradisional Terancam Punah Jika Tak Segera Berdaptasi

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Di era dimana perjalanan internasional masih minim, para pemilik hotel kini lebih mengandalkan online travel agent (OTA). Di Indonesia ada beberapa OTA yang populer, yakni: Traveloka, PegiPegi, Tiket.Com , Agoda, Booking.Com, Expedia, dsb. Tren ini mengancam keberadaan agen-agen perjalanan tradisional dan perusahaan wholesaler yang biasa melayani reservasi hotel para agent di dalam maupun luar negeri. Namun sebaiknya hotel juga tidak mengabaikan saluran tradisional yang menurut para ahli masih penting. Mengapa? Karena sebelum pandemi COVID-19, kontribusi penjualan dari saluran tradisonal rata-rata mencapai 50-70%. Angka itu masih tinggi di tengah popularitas OTA yang terus meningkat.

Pasca COVID, persentase ini dipastikan akan berubah dengan kecenderungan orang memilih OTA sebagai pilihan bertransaksi.

Banyak negara kini gencar mengkampanyekan industri pariwisata lokal karena minimnya kedatangan turis asing. Pemerintah bahkan mendanai sejumlah promosi yang tujuannya mendorong perjalanan domestik. Kampenye ini biasanya direspons baik oleh sejumlah OTA global yang menyediakan layanan B2C online. Sementara agen perjalanan lokal banyak yang tidak terlibat.

Dalam tempo kurang dari 6 bulan, bisnis hotel yang mengandalkan saluran tradisional sudah hampir punah, demikian seperti dinukil dari traveldailynews.

Ketidaksiapan travel agent tradisional merespons keadaan yang menuntut konektivitas tinggi menjadi penyebab ketertinggalan mereka. Selama ini bisnis mereka banyak bergantung pada kontrak-kontrak offline. Demikian juga sistem pembayaran.

Yang tak kalah penting, mereka juga cenderung menetapkan tarif yang statis selama periode 6 bulan hingga 2 tahun. Sementara OTA menawarkan sejumlah fleksibilitas.

Harga promo yang banyak ditawarkan OTA menjadi keunggulan. Hal ini dapat terlaksana karena mereka tersambung langsung secara online dengan pihak hotel sehingga informasi terkait tarif promo langsung diketahui. Itulah sebabnya OTA bisa menawarkan harga lebih murah. Apalagi di masa krisis seperti saat ini dimana tingkat hunian rendah, banyak hotel menawarkan harga diskon via online.

Selama ini agen perjalanan secara tradisional berperan sebagai pintu masuk dan keluar. Tetapi dengan lingkungan dimana semua sudah terkoneksi dan penerbangan internasional pun mengalami disrupsi maka cara kerja tradisonal menjadi tidak relevan lagi.

Sementara OTA memiliki akses online yang jangkauannya lebih luas baik ke pemasok maupun pelanggan di luar negeri dan rumah-rumah. Itu sebabnya OTA lebih siap menghadapi situasi krisis saat pandemi.

Mereka telah dilengkapi teknologi untuk menghadapi lonjakan inisiatif perjalanan domestik yang bakal terjadi pasca COVID-19. Teknologi memungkinkan Mereka menyediakan akses online baik ke pemasok maupun pelanggan.

Saat ini banyak hotel mensyaratkan pembayaran dimuka via online. Ini dilakukan untuk mengurangi risiko. Para pemain tradisional tidak memiliki akses seluas itu sementra OTA telah lebih dulu menerapkan mekanisme pembayaran dimuka secara online seperti dengan menggunakan kartu kredit virtual.

Jika travel agent tradisional tak dapat mengimbangi pola kerja OTA terutama dalam hal konektivitas dan pembayaran online, maka ia akan mati terkubur dan lenyap.

Ada kebutuhan mendesak untuk berubah di kalangan para agen perjalanan dan perusahaan wholesaler yang umumnya lambat dalam beradaptasi dengan teknologi baru.

Tetapi perusahaan teknologi perjalanan yang kini banyak muncul banyak membantu mitra B2B yang telah mengubah jaringan distribusi dan kemitraan mereka. Solusi yang ditawarkan termasuk menyediakan kemudahan akses bagi mitra B2B ke konektivitas hotel langsung dan pembayaran online.

Setelah COVID, isu kesehatan dan keselamatan menjadi sangat penting. Operator perjalanan yang memiliki banyak tenaga manusia perlu memikirkan ulang posisi yang lebih baik. Selain mengadopsi teknologi, mereka juga bisa menyediakan paket perjalanan yang sifatnya personal. Atau mengatur perjalanan tur kelompok besar dan kecil sesuai kebutuhan mereka.

Hanya dengan mengimbangi OTA, terutama dalam jangkauan dan harga yang kompetitif, para operator perjalanan dapat kembali merebut pangsa pasar. Strategi ini perlu dilakukan sejak dini sehingga akan lebih siap menghadapi permintaan yang melonjak saat orang kembali percaya diri untuk melakukan perjalanan.

Rin Hindryati