Tenun Ikat Kediri Memikat Desainer Jakarta

0
317
Tenun ikat kediri tampil di Dhoho Fashion Street (Foto: .sindonews.net)

KEDIRI, bisniswisata.co.id: Kediri bukan hanya dikenal sebagai kota Tahu, namun juga memiliki kain tenun ikat yang unik dan khas. Pengerjaan secara tradisional ini, selalu dihiasi aneka ragam motif hias sehingga tampak indah dan enak dipandang, sehingga memikat semua orang. Apalagi produknya juga beragam, selain kain juga ada sarung.

Tercatat ada tiga ragam hiasi tenun ikan Kediri. Ragam hias geometris berupa motif garis lurus, melengkung, sudut menyudut, garis silang menyilang, garis membentuk tanda tambah, segitiga, segi enam, segi delapan dan lingkaran. Juga Ragam hias tumbuhan – tumbuhan berupa motif pohon, daun, bunga dan sulur–suluran atau patra. Terakhir Ragam hias binatang berupa motif jangkrik dan kupu-kupu.

Hal yang spesifik dari ragam hias tenun ikat ini, pemberian nama ada setiap ragam hias seperti Ceplok (motif bunga yang tertata), Loong (bunga-bunga tak beraturan), TirtoTirjo (air bergelombang), Corak Garis Miring, Salur (polos dan motif), Walangan, Ceplok Putihan, Cemoro Separo, Lurik, Rang Rang dan Gelombang (seperti TirtoTirjo, namun lebih besar gelombangnya).

Berbeda dengan kain tenun Bali dan Lombok yang menggunakan benang tebal, tenun Kediri menggunakan benang halus. Sehingga tak ada yang menyangka jika kain tenun ikat Kediri ini ditenun dengan alat tradisional. Hasilnya sangat halus seperti produk mesin tekstil.

Saat menyemarakkan Dhoho Street Fashion 2018 yang digelar di Taman Sekartaji, Kediri Jawa Timur pada Kamis 13 Desember 2018, Perancang busana asal Jakarta, Didiet Maulana terpikat dengan tenun ikat Kediri. “Tenun Kediri memiliki ciri khas dan karakter kuat untuk bersaing di industri nasional,” lontar desainer Didiet.

Di mata Didiet, tenun ikat Kediri memiliki ciri khas dan karakter kuat dengan pola geometris kontras dan berani. Ini tampak pada sejumlah motif khas tenun ikat Kediri seperti ceplok, kawung, tirto tirjo, kuncup, es lilin, bunga, gelombang air, dan motif abstrak. “Dengan ciri ini, tenun Kediri bisa bersaing di pasar tenun nasional,” kata Didiet Maulana seperti dilansir laman Tempo, Sabtu (15/12)

Dengan bahan dan motif tersebut, tak sulit bagi Didiet Maulana untuk mendesain 24 pakaian dalam peragaan busana tersebut. Setiap mode pakaian menampilkan ciri khas motif tenun Kediri menyesuaikan tema acara yang bertajuk Warisan Agung Panji Sekartaji. Sebagian motif diambil dari simbol kisah romansa klasik Raden Panji dan Dewi Sekartaji yang hidup di zaman Kerajaan Kediri.

Didiet mengapresiasi pemilik usaha tenun yang melibatkan banyak tenaga kerja muda di Kediri. Secara tidak langsung, langkah ini akan membuat industri tenun Kediri hidup berkelanjutan karena melahirkan banyak penenun muda. “Pola pikir penenun Kediri sangat terbuka dengan melibatkan banyak pekerja muda,” lontarnya.

Melalui acara Dhoho Street Fashion yang telah berjalan selama empat tahun ini, produk tenun Kediri bisa dikenal masyarakat dan menembus pasar internasional. Keterlibatan perancang busana ternama seperti Didiet Maulana dan Lenny Agustin juga diharapkan bisa mendongkrak produk tenun ini naik kelas.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar bahkan berani menggaransi kualitas produk tenun masyarakatnya. Dengan spesifikasi sama, tenun Kediri dijamin tak akan luntur saat dicuci dibanding tenun kota lain. “Saya sudah membuktikan itu,” katanya.

Kehadiran Didiet Maulana dan Lenny Agustin diharapkan bisa membuka pengetahuan para perajin Kediri tentang strategi pasar. Abu Bakar berharap para perajin tak hanya memproduksi kain, tetapi mampu mendesain dan menjahit menjadi pakaian dengan mode mutakhir.

Mereka juga diminta aktif memantau perkembangan harga tenun nasional agar tak menjadi bulan-bulanan pasar. Abu Bakar mencontohkan, dalam sebuah kegiatan pameran, harga tenun Kediri hanya dibanderol Rp 250 ribu per potong. Sementara tenun dari kota lain dipatok Rp 750 ribu. “Orang tak akan ambil tenun kita karena melihat harganya. Tidak mungkin harga segitu benar-benar produk ATBM (alat tenun bukan mesin atau manual),” katanya.

Saat ini di Kediri terdapat lebih kurang 11 pemilik usaha tenun yang menyerap 500 pekerja. Mereka terkonsentrasi di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri yang menjadi sentra kampung tenun.

Dhoho Fashion Street merupakan event tahunan yang diselenggarakan Pemkot Kediri. Menggelar fashion dengan cat walk di jalanan tahun 2018 ini merupakan event yang keempat kalinya. Dalam perhelatan itu Didiet dan Lenny memamerkan masing masing 24 karya. Semua desain yang dilenggak lenggokkan perawagan dan peragawati itu menggunakan bahan tenun ikat Kota Kediri.

Begitu juga dengan sejumlah karya desainer lokal, di antaranya Desty Rachmaning, Ahmad Qosim, Numansa dan perwakilan SMKN 03 Kediri, juga berbahan tenun ikat Kota Kediri.

Kisah tentang tenun ikat di Kota Kediri bermula seorang warga keturunan Tionghoa, Freddy Jie membuka usaha tenun di daerah Pecinan Jl Yos Soedarso. Usaha yang dirintis sejak 1950-an mengalami perkembangan pesat. Memiliki sekitar 200 alat tenun bukan mesin (ATBM) dan ratusan buruh tenun. Usaha tenun ini hanya memproduksi sarung dengan motif sederhana kotak-kotak.

Masa itu, masyarakat yang tinggal di Barat sungai Brantas dikenal memiliki kehidupan ekonomi terbelakang atau miskin. Rata-rata buruh tenun ikat milik Freddy dari daerah sekitar Desa Bandar Kidul, Banjar Mlati, Waung dan Bandar Lor yang kesemuanya berada di Barat sungai dan berada di wilayah Kecamatan Mojoroto.

Prahara 1965 tidak berpihak pada Freddy, saat itu etnies Tionghoa termasuk dalam kelompok yang tersingkir pasca peristiwa 30 September 1965. Usaha tenun ikat Freddy Jie tutup, dan karyawannya dirumahkan. Selain usaha tenun ikat Freddy Jie, semua jenis bidang usaha yang dikelola etnies Tionghoa juga mendapatkan tekanan serupa.

1965 adalah masa-masa suram bagi industry tenun ikat Kediri, para pekerja menganggur karena tutupnya tempat usaha Freddy. Ada beberapa karyawan yang merintis usaha tenun ikat, namun kondisi ekonomi membuat bahan baku sulit di dapat. Pada akhir 1965 praktis industri rumahan tenun ikat di Kota Kediri berada di titik nadir.

Tahun 1990, tenun ikat Kediri kembali bangkit hingga sekarang ini. Salah satu yang menjadi sentral kerajinan tenun ikat Kediri adalah Kelurahan Bandar Kidul Kota Kediri. Ada sekitar 11 pengusaha tenun ikat ATBM yang setidaknya telah menyerap 500 orang tenaga kerja. (EP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.