Para Desainer Tampilkan Produk Etnik dan Unik Sesuai Protokol Kesehatan.

0
28

Beragam masker, face shield dan topi dari bahan batik dan tenun dalam warna cerah, tampil etnik dan unik. Dari ki-ka, karya  Agus T. Santosa, Ita Yudi, dan Elly Y. Natadisastra. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Masa-masa pandemi COVID-19 dengan gaya hidup new normal ini, terlihat banyak masyarakat berseliweran memakai tutup wajah dan juga penutup hidung dan mulut. 

Apalagi ketika tempat wisata kuliner, mal, perkantoran dan lokasi umum lainnya sudah mulai dibuka, semua harus menerapkan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Penutup hidung dan mulut yang terkenal dengan sebutan masker, serta penutup wajah yang transparan dikenal dengan face shield, kini bermunculan dengan beragam tipe, model dan gaya. 

Tak heran kalau belakangan ini bak jamur tumbuh di musim hujan, dalam waktu cepat muncul beragam produsen atau penjual masker dan face shield dari berbagai kalangan.

Kini banyak ibu rumah tangga biasa yang hanya mengurus anak dan keluarga, mulai berbisnis dengan membuat masker yang cukup mudah. Atau para UKM yang semula menjahit busana, tas, dan sepatu, juga ikut berlomba memproduksi masker. Karena masyarakat sekarang memang membutuhkan alat pelindung wajah tersebut.

Dari berbagai macam masker dan face shield yang ditawarkan, tetap saja ada yang melirik dan mendesain masker khusus dari bahan berbeda. Yaitu menggunakan kain-kain etnik atau wastra nusantara seperti kain batik, tenun, dan songket. Juga kreasi masker dari olahan renda brukat dipadu dengan bahan polos yang nyaman dipakai.

Model yang dibuat juga unik. Ada yang merancang satu set masker dan face shiel dari bahan batik, atau dari kain tenun. Ada yang membuat masker satu set dengan topi bulat yang menutup sebagian wajah  dari bahan batik. 

Beragam karya masker etnik dan unik ini, bila dipakai akan menambah kepercayaan diri pemakain, dan terpenting akan membuat orang sekitarnya tahu akan batik dan tenun.

Seperti Elly Yulia Natadisastra dari Bandung. Desainer aksesoris ini biasa membuat barang kerajinan seperti kalung dan gelang dari batu-batuan, karya decoupage pada tas wanita, dompet dan lainnya dari bahan anyaman dari Tasik, Jawa Barat ini, tergelitik hatinya untuk membuat masker dan face shield dari batik. Dan jadilah karya yang cantik dan bisa dibilang unik. Kaca atau mika penutup wajah diberi lis kain batik dan tenun.

“Awalnya ini saya buat untuk diri sendiri dan handemade. Tapi belakangan banyak pesanan, saya juga mengajarkan para UKM binaan Dekranasda Jawa Barat untuk membuatnya. Alhamdulillah orderan terus ada dari berbagai kota di Indonesia. Setidaknya bisa membantu ibu-ibu lain dalam mendapatkan penghasilan,” ungkap Elly per telepon.

Apalagi karya masker dan face shield Elly ini langsung dipakai oleh Ibu Atalia Praratya Ridwan Kamil, isteri Gubernur Jawa Barat, yang juga Ketua Dekranasda Jabar dalam berbagai kegiatan. Tak hayal lagi permintaan terhadap produknya berdatangan.

Menurut Elly, membuat face shiled cukup mudah. Beli mika meteran, lalu potong sesuai ukuran wajah. Dan dibuat melengkung. Pinggirannya diberi lis kain batik atau tenun dengan alat perekat double tape. Untuk bagian atas diberi busa yang ditutup dengan kain yang sama, serta diperkuat dengan kancing khusus yang dipakai untuk celana jeans.

“Semuanya dilem, sehingga kuat.  Untuk masker dijahit. Dibuat dari bahan yang sama dengan lis face shield, jadi satu set,” ujar Elly yang juga pengurus di Dekranasda Jawa Barat ini. Untuk satu set masker dan face shield ini, warga cukup membayarnya Rp65.000.

Topi dan masker

Lain lagi cerita Agus T. Santosa, desainer busana dengan label Apikmen. Pengusaha yang sering pameran ke luar negeri seperti ke Moskow ini, saat pandemi Covid-19 ingin membuat sesuatu untuk isterinya supaya aman dan terlindungi dari virus.

Agus sudah terbiasa mengolah batik jadi busana. Kali ini dia membuatkan masker dan topi bulat (bucket hat). “Isteri saya pakai kerudung. Nah, biar simpel saya buatkan dia masker dan topi bulat dari bahan senada, yang bisa menutupi kepala dan wajahnya. Untuk bagian leher tinggal dikalungi dengan syal. Jadi semua tetap tertutup,” paparnya.

Ternyata koleksi masker dan topi tersebut cukup membuat oang lain ingin juga memilikinya. Akhirnya Agus memproduksinya lebih banyak. Dia memakai batik antara lain motif kreneng untuk produknya. 

“Permintaan cukup banyak,” tambahnya. Masker dan topi ini bisa dipakai oleh semua kalangan, baik laki-laki dan perempuan. Untuk satu set dijual Rp150.000.

Begitu juga dengan desainer Ratih Puspitawati yang akrab disama Bu Ita Yudi. Perempuan yang satu ini biasa merancang aksesoris handemade berupa kalung, gelang dan anting dari dari perpaduan berbagai bahan seperti mutiara, payet, batu-batuan, kayu, kerang, perak dan kristal ini.

Ita dengan produk berlabel Poes Craft yang sudah sudah 20 tahun lebih dilakoninya, sering melanglang buana ke luar negeri untuk memamerkan karyanya. Dia juga banyak mendapatkan penghargaan sebagai desainer aksesoris. Diantaranya Smesco Award pada 2018, dan Penghargaan Aksi Hidup Baik Sebagai Perajin DKI Jakarta yang diberikan oleh Guberner DKI pada Hari Ibu Desember 2019.

Selama masa pandemi Covid-19 ini, Ita ikut membuat alat pelengkap kesehatan seperti baju APD dan masker. Setelah order APD sepi, Ita beralih membuat bucket hat dan topi lebar, masker, face shield, lengkap dengan tas  dan dompet dari bahan tenun. Dia juga memproduksi masker yang dipermanis sulam tangan.

Dalam memproduksi produknya ini Ita dibantu oleh 15 perajinnya yang sudah lama bekerja sama dengannya. “Mereka rata-rata sudah 15 tahun ikut saya. Selama pandemi ini mereka kerja di rumah. Selama ini mereka bikin aksesoris, sekarang saya latih mereka bikin masker dan topi, tas dan  lainnya. Alhamdulillah, cukup banyak pesanan dan bisa membantu menghidupi semuanya,” ungkap Ita.

Menurut dia, selama COVID-19 ini orang agak takut juga memakai barang-barang branded keluar. “Nah, saya terpikir untuk buat tas bertali panjang atau tali pendek yang bisa menyimpan Hp dan dompet serta enteng dibawa. Dan juga modis karena dirancang satu set dengan topi, face shield, serta masker,” lanjutnya. Untuk satu set produknya itu, Ita mematok harga Rp250.000.

Kini jalan-jalan ke luar rumah sudah boleh dilakukan, namun tetap waspada dan memenuhi penerapan protokol kesehatan, seperti memakai masker, jaga jarak dan sering cuci tangan. Ingin berwisata atau sekadar menghirup udah segar di luar rumah, Anda bisa tampil modis dan cantik dengan produk masker etni dan unik.   ([email protected])

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.