Festival Makanan Khas Nias, Daya Tarik Wisata Gunungsitoli

this formate

GUNUNGSITOLI, SUMUT, bisniswisata.co.id: Gunungsitoli Sumatera Utara (Sumut) punya kalander wisata yang menarik. Festival makanan khas Nias, namanya. Festival yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kota Gunungsitoli digelar di pusat jajanan dan kuliner di Pasar Gomo, Kelurahan Pasar, Kota Gunungsitoli.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Gunungsitoli Yasokhi T Harefa, di Gunungsitoli, Jumat (2/3), mengatakan, tujuan pelaksanaan festival untuk melestarikan serta mempromosikan kuliner Nias sebagai salah satu daya tarik wisata kuliner di Kota Gunungsitoli khususnya dan Kepulauan Nias pada umumnya.

Selain itu, menjadikan kuliner sebagai salah satu faktor penggerak ekonomi masyarakat dan meningkatkan kreatifitas kuliner Nias melalui pemanfaatan “bulu damo” (Daun Damo) sebagai pembungkus nasi yang menjadi salah satu ciri khas atau branding khas Nias.

“Dalam festival, peserta yang terdiri dari tiga orang setiap kelompok harus memasak salah satu makanan khas Nias, dimana bahan mentahnya telah disiapkan dari rumah, dan peserta tinggal mengolah dan memasak di lokasi festival,” katanya.

Makanan khas Nias yang dipertandingkan dalam festival diantaranya Nibini’ogo (makanan yang dibungkus pakai daun pisang dan dibakar), Lehe Dalo (Sayur dari daun talas), Ni’Unago (daging babi atau ikan yang diawetkan dengan diasapi),

Kumudian Kofo Kofo (ikan yang dibuang kulitnya dan dimasak dengan santan kelapa setelah digoreng), Gowi Nifufu (Ubi yang ditumbuk), dan beragam macam lainnya makanan khas Nias.

“Juri yang menilai masakan para peserta ada sebanyak lima orang, semua warga Nias yang sudah berpengalaman dan tidak diragukan lagi kemampuannya dalam mengolah dan menilai makanan khas Nias,” katanya seperti dilansir laman Antara.

Para peserta berasal dari unsur pelaku usaha kuliner yang ada di Kota Gunungsitoli, dari tim penggerak PKK/DWP di Kota Gunungsitoli, organisasi perempuan, perwakilan kecamatan, perwakilan sekolah, dan masyarakat umum.

Dalam festival kuliner tersebut, yang diperlombakan ada tiga kategori, yaitu kategori makanan nasional khas Nias, makanan daerah khas Nias dan makanan ringan/jajanan/oleh oleh khas Nias. “Festival akan diselingi dengan pembukaan secara resmi pusat oleh oleh dan kuliner Nias di Kota Gunungsitoli, serta lounching pemanfaatan bulu damo sebagai salah satu ciri khas kuliner khas Nias,” katanya. (NDHYK)

Sisi Gelap Asisten Dunia Mode

this formate

PARIS, bisniswisata.co.id: Dunia mode yang gemerlap dan glamor tak akan ada tanpa usaha keras para pekerja balik layar. Seperti halnya karier-karier di bidang lain, industri mode memiliki sisi gelap yang mungkin hanya dialami oleh asisten-asisten industri mode di posisi tertentu.

Akun Instagram @fashionassistans meminta para pengikutnya untuk membagi kisah-kisah horor yang pernah mereka alami selama menjadi asisten perancang busana ternama atau perusahaan mode tertentu.

Dari perancang busana yang galak, kerja keras yang tidak dibayar, hingga aturan-aturan tidak masuk akal di sesi pemotretan, berikut adalah beberapa kisah horor dari asisten fesyen, seperti dilansir dari laman Refinery29, Jumat (02/03/2018).

1. Dilempar sepatu Louboutin

Seorang asisten menceritakan pengalamannya ketika bekerja di lokasi pemotretan editorial. Tiba-tiba, perancang busana terjebak di lift karena listrik di gedung mulai dimatikan. Setelah akhirnya bisa keluar dari lift dan kembali ke lokasi pemotretan, perancang busana tersebut terus berteriak sambil menendang dan melempar barang-barang. Berada di lokasi, asisten tersebut ikut terkena lemparan sepasang sepatu boots Louboutin tumit tinggi. Sakit? Tentu saja. Ditambah lagi, asisten tersebut baru saja menghabiskan sehari penuh membantu mengangkut barang-barang berat.

2. Marah-marah

Seorang asisten mode berusia 18 tahun mendapat perintah untuk mengisi daya ponsel seorang perancang busana di mobil. Setelah menemukan bahwa alat pengisi daya (charger) milik perancang busana tersebut rusak, asisten pun melaporkannya kembali. Karena marah, perancang busana tersebut tiba-tiba melempar ponselnya sendiri dan mengomeli sang asisten. Selama sembilan bulan, asisten tersebut bekerja tanpa dibayar. Perancang busana tersebut juga kerap melontarkan kata makian kepada sang asisten.

3. Tidak boleh makan

Ada satu peraturan tidak masuk akal yang digalakkan seorang perancang busana. Menurut cerita seorang asisten, perancang busana tersebut melarang semua orang untuk makan di lokasi pemotretannya atau di kantornya. Padahal, mereka disuruh bekerja keras seharian untuk mempersiapkan pemotretan perancang busana itu.

4. Dilempar alas setrika

Seorang asisten sedang membantu sesi pemotretan majalah fesyen. Ketika itu, sang editor melihat bahwa kemeja yang dikenakan model memiliki bagian yang kusut. Ia pun memerintahkan asisten tersebut untuk menyetrikanya. Karena tidak sabar, editor merebut setrika dari tangan asisten tersebut dan menyetrika kemeja itu sendiri. Setelah selesai, sang editor melempar alas setrika tersebut ke arah asistennya dan berkata bahwa ia harus bekerja lebih cepat. (NDHYK)

2018, Bali Tourism Board Optimis Kunjungan Wisman Tembus 6,5 Juta

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Bali Tourism Board (BTB) optimistis mampu menembus target 6,5 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang tahun 2018 di Pulau Dewata. Optimis itu seiring membaiknya kondisi pariwisata setelah aktivitas vulkanik Gunung Agung menurun. Juga Bali bakal menjadi tuan rumah konferensi internasional World Bank – IMF pada Oktober 2018.

“Target kunjungan wisman di Bali tahun ini sekitar 40 persen dari total nasional sebanyak 17 juta wisman,” kata Ketua BTB Ida Bagus Agung Partha Adnyana seperti dilansir laman Antara, Jumat (02/03/2018).

Badan Pusat Statistik Provinsi Bali mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara di Bali tahun 2017 mencapai hampir 5,7 juta orang, naik 15,6 persen jika dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 4,92 juta orang.

Dengan adanya peningkatan target tersebut maka pihaknya bersama pelaku pariwisata di Bali lainnya akan bekerja sama untuk melakukan promosi langsung menyasar pangsa pasar wisatawan mancanegara.

Para pelaku pariwisata di Kabupaten Badung misalnya juga akan terbang ke Berlin, Jerman untuk mengikuti promosi pariwisata langsung di ajang eksebisi pariwisata skala internasional di ITB Berlin, 7-11 Maret 2018.

Dengan promosi itu, pariwisata Bali diharapkan semakin dikenal sehingga menarik kunjungan wisatawan khususnya dari pasar Eropa. Pasar lain yang juga dinilai gemuk adalah pasar yang selama ini dinilai sudah biasa yakni Australia dan negara lain di Asia seperti China dan India yang kini muncul menjadi sumber wisman baru dengan jumlah yang banyak.

Partha menambahkan upaya promosi itu dilakukan sekaligus untuk memulihkan pariwisata Bali yang sempat tersendat karena terdampak peningkatan aktivitas Gunung Agung akhir tahun 2017.

Pihaknya juga mengapresiasi langkah pemerintah yang mengambil inisiatif salah satunya dengan mengundang para duta besar negara sabahat untuk berwisata di Bali termasuk mengunjungi Kabupaten Karangasem yang paling terdampak erupsi Gunung Agung.

“Mengundang duta besar merupakan salah satu cara jitu karena beberapa negara membutuhkan campur tangan pemerintah. Dengan undangan itu mereka dapat melihat langsung kenyataan Bali yang masih aman,” katanya.

Meski demikian, pihaknya tidak akan mengesampingkan kualitas para turis yang berkunjung di Bali agar citra pariwisata di Pulau Dewata tidak dicap murah. “Kami lebih baik juga mengejar kualitas daripada kuantitas misalnya turis China harus siap undang mereka yang lebih berkualitas,” katanya. (NDHYK)

Tiga Tahun Rugi, Hotel Indonesia Natour Cetak Laba

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Setelah tiga tahun merugi, PT Hotel Indonesia Natour (Persero) sepanjang tahun 2017 berhasil mencetak laba sebesar Rp9 juta. Memang laba yang dihasilkan sangat sangat kecil, namun Hotel plat merah ini mampu keluar dari daftar BUMN yang merugi mengingat pada 2015 kerugian mencapai Rp140 miliar.

“Hasil 2017 sudah positif lagi, meskipun cuma Rp9 juta. Tapi, yang jelas kita bukan termasuk BUMN yang merugi,” ungkap Direktur Utama Hotel Indonesia Natour (HIN) Iswandi Said dalam keterangan tertulis yang diterima Bisniswisata.co.id, Jumat (02/03/3028).

Ia memaparkan saat dirinya bergabung pada 2015, HIN membukukan kerugian sebesar Rp140 miliar, kemudian pada 2016 kerugian bisa diturunkan menjadi Rp89 miliar. Pada 2017, HIN melakukan banyak pembenahan baik renovasi kamar maupun peningkatan pelayanan hingga akhirnya bisa menutup semua kerugian.

Menurut Iswandi, laba perseroan sebenarnya bisa lebih besar lagi jika tidak terjadi bencana erupsi Gunung Agung di Bali yang membuat seluruh sektor pariwisata lumpuh dari November sampai Desember 2017. Apalagi, HIN memiliki tujuh hotel di Bali sehingga dampak bencana tersebut terhadap tingkat hunian amat signifikan.

“Erupsi datang November, antusiasme kamar sampai 5.000 kamar hotel hilang sampai Desember. Tapi sekarang sudah mulai membaik karena justru Januari biasanya `low season`, orang-orang yang kemarin tertahan mulai berdatangan,” kata dia.

Ia menambahkan tingkat hunian hotel secara konsolidasi pada 2017 bisa mencapai 75 persen, meningkat dari 2017 yang sebesar 69 persen dan 62 persen pada 2017. “Insya Allah bisa tercapai karena Grand Inna yang di Bali itu okupansinya bisa 80 sampai 90 persen,” kata Iswandi.

Dilanjutkan tingkat isian kamar atau occupancy room rate tahun 2017 mencapai sebesar 67,1% meningkat dari 60,2% pada tahun 2016. “Sejalan dengan berbagai pengembangan yang dilaksanakan, pada tahun 2018 HIN menargetkan tingkat isian kamar akan mencapai sebesar 72,8%,” ungkap dia

Selain itu, inventory (jumlah) kamar juga meningkat dari 842.166 pada tahun 2016, menjadi 851.638 di tahun 2017. Peningkatan sekitar 1,12% tersebut dicapai sejalan dengan pelaksanaan renovasi kamar serta bergabungnya Hotel Grand Inna Daira Palembang pada Kuartal IV tahun 2017. “HIN menargetkan untuk menambah jumlah kamar menjadi 853.370 di tahun 2018,” ujar Iswandi.

Secara umum, ia mengatakan jumlah tamu meningkat dari 356.218 pada 2016 menjadi 486.274 tahun 2018, atau meningkat sekitar 36,5%, di mana 71% di antaranya didominasi oleh wisatawan Nusantara. Wisman juga mengalami peningkatan sebesar 132% dibanding tahun 2016, dengan tamu terbanyak dari China, Australia dan Eropa.

Harga rata-rata kamar (average room rate/ARR) meningkat sebesar 8,4% dari Rp 650 ribu menjadi Rp 713 ribu. Kenaikan teraebut di atas tingkat inflasi tahunan Indonesia.

Pada 2017, pendapatan usaha HIN mengalami peningkatan cukup signifikan, dari Rp 539 miliar tahun 2016, menjadi Rp 637 miliar pada 2017. Tiga penyumbang pendapatan terbesar berasal dari “Online Travel Agent” (OTA) dan Domestic Travel Agent dan Government.

“Ini merupakan perbaikan signifikan, mengingat pada tahun sebelumnya, HIN rugi. Tahun 2017 ini kami mudah-mudahan sudah bisa mencatatkan break event point. Namun angkanya masih diaudit jadi belum bisa disebutkan sampai sekarang,” sambungnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Gapkodar: Nelayan Muara Gembong Ingin Kembangkan Ekowisata

this formate

BEKASI, bisniswisata.co.id: Pantai Mekar, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi Jawa Barat ternyata memiliki potensi untuk menarik kunjungan wisatawan, dengan mengembangkan ekowisata mangrove. Para nelayan Pantai Mekar optimis jika kawasan seluas 650 meter dijadikan kawasan wisata, akan mengangkat taraf kehidupan dan pemasukan pendapatan para nelayan serta warga sekitar.

Sayangnya impian nelayan serta warga Pantai Mekar terganjal anggaran pengembangan, dan hingga kini masyarakat susah menggaet investor untuk membangun ekowisata mangrove. “Untuk membangun ekowisata mangrove tahap awal seluas 100 meter menghabiskan anggaran Rp20 juta. Kami nggak punya dana,” papar Ketua Kelompok sadar wisata (Gapokdar), Ahmad Daryanto saat dikunjungi Kandidat Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil alias Kang Emil.

Masyarakat Pantai Mekar hanya bisa berharap jika Kang Emil menjadi Gubernur Jabar, warga desa nelayan hanya minta agar Kang Emil bisa mewujudkan ekowisata mangrove. “Karena dengan membangun pariwisata, para nelayan optimis ada pemasukan dari kunjungan wisatawan mulai tiket masuk, jualan kuliner, souvenir dan usaha lainnya,” sambungnya.

Dilanjutkan, selama ini desa nelayan Muara Gembong memiliki masalah sangat kompleks. Masalah yang dihadapi mulai kesehatan dimana Pantai tercemar limbah pabrik yang menyebabkan banyak ikan mati. Air menjadi tercemar, kotor, bau dari limbah industri yang seenaknya membuang ke sungai dan pantai . juga banyak penyakit seperti penyakit kulit, koreng dan penyakit lainnya.

Selain itu, sambung dia, masalah ekonomi dimana hasil nelayan susah dijual mahal. Bahkan tambak ditinggal nelayan karena tidak ada hasilnya. “Sekarang nelayan melautnya sangat jauh di tengah laut dengan resiko sangat besar,” paparnya

Ahmad pernah membuat gerakan ibu-ibu wirausaha, dengan mengolah ikan hasil tangkapan suaminya. “Sudah dikemas bagus tapi bingung soal penjualan,” kata dia.

Ketua Gabungan Kelompok Nelayan (Gapokyan), Nari menambahkan pihaknya sudah melaporkan masalah limbah ke pemerintah Kabupaten dan KLH. Namun sampai sekarang belum ada penanganannya. “Saya malah disuruh cari darimana asal limbah itu. Bagaimana saya mau nyari, caranya saja saya tidak tahu dan setiap hari saya sibuk cari ikan di laut,” ujarnya.

Sejumlah nelayan Muara Gembong mengeluhkan soal abrasi yang sering terjadi karena tidak ada dam atau pemecah air. Selama ini, untuk menghindari abrasi, nelayan menanam mangrove. Tapi mangrove tak mampu menahan abrasi yang cukup kuat. “Kami ingin pemimpin Jabar nanti, Pak Ridwan Kamil bisa membangun dam agar abrasi tidak terus terjadi,” katanya

Dia juga mengungkapkan bahwa di desanya kesulitan air bersih. PAM jarang ke desanya. Selain itu, kali menuju laut yang tidak terlalu luas, sebaiknya dilebarkan atau dinormalisasi. Tujuannya, kata dia agar air dari Sungai Citarum bisa mendorong air laut hasil abrasi ke laut.

Menanggapi keluhan nelayan, Kang Emil menyatakan pihaknya sudah mencatat dan akan mencarikan solusinya. Menurut dia, solusi abrasi, maka laut harus di dam dan mangrove harus tetap dilestarikan. “Soal limbah laut, biar pemerintah yang mencarikan solusinya. Nggak masuk akal kalau nelayan yang harus selidiki limbah,” ujarnya.

Terkait ekowisata, Kang Emil memperlihatkan gambar yang dibuatnya beberapa menit setelah menyusuri muara, membuat mantan Walikota Bandung yang sukses mengelola pariwisata Kota Bandung, sangat tertarik dengan konsep ekowisata mangrove.

“Saya berencana membangun ekowisata di sepanjang sungai Muara Gembong Bekasi. Nanti rencananya ada teras di sepanjang sungai yang jual makanan, suvenir, dan wisata mangrove. Sehingga dapat meningkatkan taraf kehidupan para nelayan, karena kondisi lingkungan di wilayah ini sudah tercemar sehingga hasil tangkapan ikan rendah,” pungkasnya. (NDHYK)

Pelaku Pariwisata Perlu Antisipasi Disrupsi Teknologi

this formate

SLEMAN, bisniswisata.co.id: Co Founder dan Direktur PT Java Bagus Indonesia, Cunduk Bagus Sudarwono menilai, pelaku industri pariwisata harus bisa mengantisipasi disrupsi teknologi. Hal itu dirasa harus dilakukan agar bisa bertahan dalam persaingan global.

Mengingat, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah menyebabkan berbagai perubahan dalam berbagai bidang. Termasuk, industri pariwisata, yang tentu bisa jadi peluang sekaligus ancaman bagi para pelakunya.

“Sektor pariwisata telah mengalami disrupsi, disrupsi ini membawa keberkahan bagi konsumen tapi menjadi ancaman bagi usaha jasa pariwisata,” kata Bagus di Seminar Strategi UPW Menghadapi Disrupsi Teknologi Pemasaran Jasa Pariwisata di Pusat Stufi Pariwisata UGM.

Menghadapi gelombang disrupsi, Bagus mengimbau pelaku usaha jasa pariwisata untuk dapat beradaptasi, melakukan perubahan dan mengikuti tren yang tengah berlangsung. Pasalnya, disrupsi dapat menghempaskan siapa saja yang tidak siap dengan perubahan dan inovasi.

Ia melihat, tren industri saat ini berubah dari owning economy ke sharing economy. Hal itu mengharuskan pelaku usaha mengasah kejeliannya melakukan perubahan-perubahan, supaya bisa terus bertahan.

Bagus menekankan, para pelaku usaha jasa parisiwata harus melakukan redefinisi terhadap bisnis yang dijalankan, disesuakan dengan perkembangan zaman. Selain itu, mereka harus bisa menyesuaikan terhadap nilai-nilai, visi dan misi perusahaan dan restrukturisasi.

Strategi lain, lanjut Bagus, dapat dilakukan dengan mengubah arah perusahaan, menggarap pangsa pasar yang belum banyak dijamah dan memangkas produk yang dinilai tidak efisien. Selain itu, dapat pula dilakukan shifting, merger, akusisi, konsolidasi dan afiasi.

“Harus go digital juga, karena pangsa pasar saat ini kebanyakan adalah generasi milenial yang sangat akrab dengan teknologi, pemasaranpun dilakukan secara digital,” ujar Bagus seperti dilansir laman Republika.co.id, Kamis (1/3/2018). (REP)

IHGMA Yogya Dorong Penguatan Budaya & Pariwisata

this formate

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Komunitas Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) chapter Yogyakarta mengadakan rapat kerja daerah (rakerda) dengan tema “Budaya untuk Pariwisata, Pariwisata Untuk Budaya”, yang digelar di Yogya, pada 24 Februari 2018. Rakerda bertujuan untuk mereview kegiatan sejak awal berdiri, sekaligus merencanakan program kerja di 2018.

Berlangsung di Grand Keshia Hotel by Horison Yogyakarta, rakerda dihadiri oleh seluruh anggota DPD Yogyakarta yang berjumlah 35 general manager (GM). Humas IHGMA chapter Yogyakarta, Atik Damarjati, mengatakan sejak awal berdirinya pada 2016 hingga sekarang ini berbagai kegiatan telah dilakukan oleh IHGMA.

Antara lain, membantu masyarakat Kulonprogo untuk menyongsong hadirnya bandara internasional Kulonprogo dengan memberikan pelatihan di SMK setempat selama empat bulan. Kemudian, mendukung Sendratari Ramayana Ballet Purawisata dengan press conference dan acara dinner dengan mengajak kerja sama para seniman untuk tampil di hotel masing-masing anggota.

“Selain itu juga, memberikan training dan pemagangan terkait materi perhotelan selama empat bulan yang dilakukan oleh anggota IHGMA dengan cuma-cuma, dan masih banyak lagi,” katanya, dalam siaran pers yang diterima Kamis (01/03/2018).

Menurutnya, setelah rakerda berakhir, diadakan pertemuan pra rakernas IHGMA. Kegiatan dihadiri oleh sebagian besar pengurus DPP dari Jakarta, Bali, dan berbagai kota lain. “Kami selama ini telah ikut aktif mendukung program pemerintah daerah dalam meningkatkan nilai-nilai budaya dan pariwisata di DIY,” tandasnya.

Ketua IHGMA chapter Yogyakarta, Heryadi Baiin, menegaskan semua kepala bidang di IHGMA mempunyai rencana yang selalu mengedepankan peningkatan sumber daya manusia sebagai tolok ukur kemajuan pariwisata di DIY tanpa meninggalkan nilai–nilai budaya setempat.

IHGMA adalah organisasi resmi asosiasi General Manager yang berbadan hukum yang diresmikan pada 20 April 2016 di Hotel Bali Beach-Bali. Saat ini berangotakan sekitar 1.000 general manager dari seluruh wilayah di Indonesia. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Awal Tahun, Kunjungan Wisman malah Turun

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia selama Januari 2018 turun 6,17% dibandingkan periode yang sama 2017. Januari 2018, jumlah wisman ke Indonesia 1,04 juta kunjungan sementara Januari 2017 mencapai 1,11 juta kunjungan.

“Penurunan ini wajar karena periode awal tahun bukan musim liburan dan Bali belum normal meski sudah ada perbaikan akibat erupsi Gunung Agung. Porsi Bali (sebagai penyumbang wisman ke Indonesia) sebesar 40% dari Jumlah penumpang yang Ngurah Rai 39%-40%. Signifikan sekali ketika terjadi sesuatu di Bali,” kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto di Jakarta, Kamis (1/3/2018).

BPS mencatat, lanjut dia, jumlah kunjungan wisman ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai merosot pada Januari 2018 yang hanya sebesar 645.605 kunjungan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 746.671 kunjungan, dibandingkan dengan Desember 2017, jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia mengalami penurunan sekitar 9,36%.

Menurut dia, hal ini lantaran Desember sendiri merupakan musim puncak liburan. “Disadari Desember itu peak season dan Januari sudah normal. Jadi itu wajar,” katanya.

Meski demikian, dia mengatakan bahwa jumlah wisman Bali akan berangsur membaik. “Di Bandara Ngurah Rai, pada Januari 2018 lebih tinggi dari Desember 2018, artinya sudah ada recovery. Di Ngurah Rai sudah ada kenaikan 11,55%, tapi yoy-nya turun 24,29%. Tentu kami harap di Bali kembali pulih,” jelasnya.

Sementara Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Januari 2018 mencapai rata-rata 51,91% atau naik 1,25 poin dibandingkan dengan TPK Januari 2017 yang tercatat sebesar 50,66%. Dibandingkan dengan TPK Desember 2017, TPK hotel klasifikasi bintang pada Januari 2018 mengalami penurunan sebesar 7,62 poin.

Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama Januari 2018 tercatat sebesar 2,02 hari, terjadi kenaikan 0,08 poin dibandingkan dengan keadaan Januari 2017. (NDHYK)

TripAdvisor: Lima Hotel Kelas Dunia Bernuansa Alam

this formate

LONDON, bisniswisata.co.id: Traveling atau melancong tidak lagi hanya sekadar memenuhi kebutuhan refreshing, tapi telah menjadi gaya hidup. Perkembangan teknologi digital, smartphone, fotografi, dan media sosial menjadi salah satu pemicu tren ini.

Dengan smartphone, saat ini orang-orang semakin mudah melihat tempat-tempat wisata di seluruh dunia. Dengan perangkat tersebut pula, orang dengan mudah merencanakan perjalanan hingga memesan tiket dan hotel. Gadget ini juga membuat ringkas pengambilan foto dan mengunggah dokumentasi perjalanan mereka ke media sosial.

Perkembangan teknologi digital semakin mempermudah karena layanan jasa-jasa perjalanan yang menyediakan paket liburan, reservasi perjalanan, reservasi hotel, restoran, dan lain-lain semakin dekat. Indonesia memiliki beberapa situs perjalanan, seperti Traveloka dan Tiket.com, sedangkan di dunia ada satu situs perjalanan yang terkenal, yakni TripAdvisor.

Baru-baru ini, TripAdvisor memberikan penghargaan dengan predikat “2018 Travelers Choice Tripadvisor” kepada 25 hotel di seluruh dunia. Pemenang penghargaan ini ditentukan berdasarkan jutaan ulasan dan opini yang ditinggalkan di situs TripAdvisor setiap tahunnya.

Apabila Anda sedang merencanakan perjalanan tahun ini, lima hotel teratas ini bisa menjadi pilihan. Berikut 5 hotel teratas di dunia pilihan para wisatawan dengan persentase tertinggi untuk nilai Excellent.

#. Viroth’s Hotel di Kamboja

Viroth’s Hotel terletak di lingkungan yang rimbun di kota tua Siem Reap, di tepi Timur Sungai Siem Reap, Kamboja. Dari tempat ini, kita cukup berjalan kaki beberapa menit untuk pergi ke pusat belanja, hiburan, dan restoran di Old Market dan Central Market. Kota tua di wilayah itu berjarak 20 menit berkendara dari pintu masuk ke Taman Arkeologi Angkor. Hotel ini memiliki 35 kamar bergaya Kamboja dengan harga sewa inap yang tidak mahal, berkisar US$128 per malam. Biaya sewa paling terjangkau terjadi pada bulan September, hanya US$108 per malam. Salah satu daya tarik dari hotel ini adalah layanan antar-jemput ke bandara dengan menggunakan armada Mercedes dan Limosin kuno kecil. Berbagai ulasan menarik di TripAdvisor mengatakan hotel ini memiliki staf yang ramah dan selalu siap membantu. Hotel ini memiliki dekorasi yang menarik dengan patung-patung, kamar yang bersih dan luas, desain interior yang apik dan nyaman bagaikan rumah. Di hotel ini juga ada beberapa kucing penduduk yang menambah pesona tersendiri.

#. Gili Lankanfushi di Maldives

Gili Lankanfushi dirancang dengan gaya otentik, dibangun menggunakan bahan-bahan ecofriendly, dipadukan dengan pemandangan lingkungan alami yang menciptakan suasana intim sehingga pengunjung merasa benar-benar di rumah. Tempat ini juga memberikan kebebasan bagi para pengunjung untuk membuat pilihan dan mendefinisikan sendiri arti kemewahan. Selama tinggal di tempat ini, pengunjung akan menjadi tuan rumah, mendesain tempat tinggal seperti mendirikan tempat tidur di bawah bintang, serta merencanakan makanan. Pengunjung juga dapat mengatur kegiatan, seperti snorkling, menyelam, memasak, dan berlayar dengan kapal pesiar. Untuk dapat melakukan semua itu, pengunjung cukup membayar biaya akomodasi sebesar US$2.004 per malam, atau US$1.526 per malam pada bulan September. Keindahan dan kesenangan di Gili Lankafushi juga digambarkan oleh para pengunjung. Di tempat ini, pengunjung dapat berjalan dan melakukan aktivitas berhari-hari tanpa alas kaki, tidur di bawah bintang-bintang tanpa nyamuk, hingga mandi di ruang terbuka. Menghabiskan waktu libur berhari-hari di tempat tersebut sangat menyenangkan.

#. Hanoi La Siesta Hotel & Spa di Vietnam

The La Siesta Hotel adalah anggota terbaru dari Hanoi Elegance Hotel Group. Hotel dengan gaya tradisional ini menawarkan pesona Old Quarter Hanoi yang tersembunyi. Tempat ini cocok bagi pecinta kuliner khas Vietnam di Red Bean Restaurant yang terletak di lantai dasar. Di hotel ini juga terdapat sajian atraksi di Danau Hoan Kiem dengan Ngoc Son Temple di tengahnya serta Jembatan Merah yang menarik. Hotel ini memiliki 50 kamar mewah yang luas dengan biaya sewa rata-rata US$133 per malam, dan biaya terjangkau US$106 per malam di bulan Mei. Setiap kamar memiliki fasilitas yang nyaman dengan area berkumpul bersama keluarga atau teman. Selain fasilitas umum seperti yang tersedia di hotel pada umumnya seperti wifi gratis, hotel ini juga memberikan layanan istimewa seperti pemutaran teater. Hotel ini terletak di tempat yang sangat bagus dengan banyak pusat perbelanjaan lokal. Restoran Red Bean adalah yang terbaik di Hanoi dengan berbagai hidangan lokal dan internasional yang baik. Untuk menuju danau, terdapat rute bagi pejalan kaki dengan waktu yang cukup singkat dan terhubung dengan rute ke kawasan kota tua Old Quarter.

#. Tulemar Bungalows & Villas di Kosta Rika

Tulemar Bungalows & Villas adalah resor di dekat Taman Nasional hutan hujan Manuel Antonio, salah satu tempat yang sangat populer di Kosta Rika. Tulemar memiliki taman (Tulemar Gardens) seluas 33 hektar dengan hutan, jalan alam, berbagai satwa liar, dan pantai berpasir di salah satu sisinya. Bungalow dan vila sebanyak 34 rumah mandiri terletak di salah satu sisi bukit hutan Manuel Antonio dengan panorama pantai yang menakjubkan. Biaya menginap per malam di tempat ini rata-rata US$414 dan US$241 khusus di bulan September. Dengan akomodasi tersebut, pelanggan akan mendapatkan vila-vila tersendiri yang mewah dengan pemandangan indah Samudera Pasifik, hutan subur, atau keduanya. Bungalow juga tersedia dengan berbagai fasilitas penawaran yang sama seperti vila, seperti akses ke pantai pribadi. Tulemar Resort juga dikenal sebagai tempat eksklusif berdasarkan ulasan pelanggan setelah masa inap mereka di sana. Beberapa wisatawan mengatakan perjalanan ke Manuel Antonio, Kosta Rika adalah perjalanan terbaik yang tidak boleh dilewatkan. Di tempat itu, pengunjung akan merasa seperti berada di tengah hutan hujan yang menghadap ke Samudera Pasifik yang indah. Di tempat itu, pengunjung juga dapat menikmati pengalaman arung jeram terbaik, memancing di lepas pantai, dan naik perahu melalui hutan bakau.

#. Taj Umaid Bhawan Palace Jodhpur di India

Taj Umaid Bhawan Palace Jodhpur adalah istana termuda yang dibangun di India oleh Maharaja Umaid Singh Dinasti Rathore. Tempat ini menjadi warisan yang memberi pengalaman kerajaan yang sejati. Istana menjulang tinggi di atas kota Rajasthan ini memiliki taman seluas 26 hektar dengan kolam-kolam renang yang panjang dan keberadaan satwa burung merak. Lokasi hotel terletak 4 kilometer dari Bandara Jodhpur dan 5 kilometer dari Stasiun Kereta Api Jodhpur. Biaya menginap tahunan rata-rata US$852 per malam, dan US$432 per malam khusus di bulan Mei. Hotel memiliki 64 kamar bergaya Art Deco dan suites. Selama menginap di tempat ini pengunjung dapat menikmati warisan keramahan yang tetap hidup dan masakan khas yang dipertahankan untuk memanjakan para tamu. Fasilitas lain yang juga tersedia adalah perawatan spa di tempat, yoga, dan meditasi. Wisatawan yang pernah berkunjung mengatakan hotel ini memberikan layanan kelas dunia, namun tetap memberikan rasa yang unik dengan mempertahankan warisan lokal. Hotel ini melebihi harapan setiap pengunjung. Pengunjung bukan sekadar mendapat pengalaman tinggal di hotel, namun sebuah pengalaman yang mendalam dari keindahan India. Menyusuri istana dengan heritage walk dan sajian tarian rakyat membuat pengunjung bagaikan berada di era yang berbeda. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Januari 2018, Wisman Kunjungi Sumbar Turun 62,39 Persen

this formate

PADANG, bisniswisata.co.id: Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Sumatra Barat melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dan Pelabuhan Teluk Bayur bulan Januari 2018 mencapai 3.246 orang. Angka ini mengalami penurunan 62,39 persen dibanding wisman Desember 2017 yang tercatat sebanyak 8.568 orang.

“Awal tahun memang polanya seperti ini. Karena peak season-nya ada di libur akhir tahun, Desember,” kata Kepala BPS Perwakilan Sumbar, Sukardi, di Padang, Kamis (1/3/2018).

Dilanjutkan, tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Sumatra Barat bulan Januari 2018 mencapai rata-rata 47,34 persen. Capaian ini justru menurun sebanyak 17,55 poin dibanding TPK bulan Desember 2017 sebesar 64,89 persen.

Sementara untuk tingkat Penghunian Kamar (TPK) Akomodasi Lainnya di Sumatra Barat bulan Januari 2018 mencapai rata-rata 28,55 persen, atau mengalami penurunan 13,47 poin dibanding bulan Desember 2017 sebesar 42,02 persen.

BPS juga mencatat, rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang bulan Januari 2018 yaknit selama 1,48 hari, naik 0,06 hari bila dibandingkan dengan Desember 2017 yang tercatat 1,42 hari. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada Akomodasi Lainnya bulan Januari 2018 tercatat selama 1,45 hari, naik 0,22 hari bila dibandingkan dengan Desember 2017 yang tercatat 1,23 hari.

Jumlah penumpang angkutan udara domestik di Bandara Internasional Minangkabau pada bulan Januari 2018 turun sebesar 7,11 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu jumlah penumpang angkutan udara internasional mengalami penurunan sebesar 22,81 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Dan jumlah barang yang diangkut oleh angkutan laut dalam Sumatera Barat pada bulan Januari 2018 mengalami penurunan sebesar 36,06 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kota Padang sebagai ibukota dari provinsi Sumatera Barat sebenarnya tak hanya punya Pantai Padang. Beragam destinasi wisata menarik tersebar di Padang. Dari penelusuran Liputan6.com, berikut enam di antaranya dari destinasi-destinasi keren di Padang.

# Pantai Padang

Orang Minang sering menyebutnya Taplau. Berbeda dengan dahulu, Pemerintah Kota Padang terus berbenah dan memperbaiki fasilitas di pantai ini. Pantai Padang kini cantik dan indah dengan aneka bunga yang menghiasi di sekitarnya. Lokasinya di dekat Ramayana Plaza Andalaz, Pasar Raya Padang dan dekat juga dengan Jembatan Siti Nurbaya.

# Pantai Pasir Jambak

Masih sama-sama pantai, Pantai Pasir Jambak juga tak kalah menarik. Pantai ini berada di Tabing, sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Padang. Pantai ini berpasir putih, lebar, landai dan dipenuhi oleh nyiur tinggi. Pantai ini sangat cocok untuk berjemur, berenang bersantai dan menyaksikan matahari terbenam.

# Pantai Air Manis Batu Malin Kundang

Pantai Air Manis atau Pantai Aia Manih di dekat Pelabuhan Teluk Bayur. Pengunjung akan diingatkan dengan legenda Malin Kundang yang durhaka. Ada banyak penjual souvenir khas Pantai Aia Manih berupa batu Malin Kundang dan sebagainya.

# Pantai Caroline

Pantai ini menjadi salah satu tempat wisata di Padang yang wajib dikunjungi. Lokasinya di Teluk Bungus, 25 km di selatan Kota Padang. Nama pantai ini jadi inspirasi lirik lagu Pantai Caroline. Pantai nan landai dan dengan pepohonan menjadi daya tarik spesial.

# Jembatan Siti Nurbaya

Kisah Siti Nurbaya terabadikan di Jembatan Siti Nurbaya. Jembatan ini selalu ramai pada sore hingga malam hari. Lampu kota menerangi jembatan saat malam hari. Lokasi jembatan ini dekat dengan pantai Padang dan Pasar Raya.

# Museum Adityawarman

Museum Adityawarman berlokasi di Jl.Diponegoro,Kota Padang. Museum Negeri Provinsi Sumatera Barat mulai dibangun pada 1974 dan diresmikan 16 Maret 1977. Nama Adityawarman diambil dari nama seorang Raja besar yang pernah berkuasa di Minangkabau, sezaman dengan Kerajaan Majapahit pada masa Patih Gajah Mada. Museum Adityawarman di Padang itu museum budaya terpenting di Sumatera Barat. Museum tersebut berfungsi sebagai tempat menyimpan dan melestarikan benda-benda bersejarah seperti cagar budaya Minangkabau, cagar budaya Mentawai, dan cagar budaya Nusantara. (NDHYK)