Sektor MICE Jadi Fokus Saat Filipina Hadapi Ajang-ajang ASEAN

this formate

(Foto: Philipine Star/Rudy Santos)

MANILA, bisniswisata.co.id: Para pakar industri perhotelan memperkirakan bahwa Filipina akan menjadi tuan rumah bagi ajang-ajang besar Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) tahun depan, yang akan memperkuat posisi negara tersebut sebagai pemain kunci di pasar pertemuan, insentif, konferensi, dan pameran (MICE) di kawasan ini.

Dilansir dari www.bworldonline.com, Menyelenggarakan ajang-ajang ini akan meningkatkan visibilitas merek kami di kancah internasional dan memposisikan Filipina sebagai destinasi wisata bisnis dan liburan,ujar Ma. Celeste B. Romualdo, direktur keanggotaan di Hotel Sales and Marketing Association International, Inc. (HSMA), melalui surel.

Filipina akan menjadi tuan rumah KTT ASEAN dan Forum Pariwisata ASEAN tahun depan, ajang-ajang yang diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke destinasi-destinasi utama seperti Manila, Boracay, dan Cebu.

“Jika penyelenggaraan ajang-ajang ini sukses, hal ini dapat menciptakan manfaat jangka panjang dengan mendorong kunjungan berulang dan pemasaran dari mulut ke mulut yang positif,” kata Romualdo, yang juga menjabat sebagai manajer umum The Linden Suites.

“KTT ASEAN pada tahun 2026 akan menempatkan kami di peta yang lebih baik dan akan memperkuat posisi kami sebagai pelaku MICE, dan kami sedang membangun banyak hotel dalam lima tahun ke depan,” ujar Agnes Pacis, direktur pendidikan di HSMA dan wakil presiden komersial SM Hotels and Convention Corp.

Menurut dia, hal itu pertanda bahwa Filipina akan menyambut semakin banyak wisatawan internasional. Acara-acara mendatang menawarkan platform untuk menunjukkan bagaimana industri pariwisata Filipina telah pulih dan berkembang sejak pandemi, kata Alfred Lay, direktur perhotelan, pariwisata, dan rekreasi di Leechiu Property Consultants.

Acara seperti ini menempatkan Filipina di peta dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh kampanye pariwisata biasa, tambahnya. “Anda mendapatkan menteri pariwisata, pembeli, media, dan influencer regional di satu tempat, melihat apa yang ditawarkan negara ini.”

Industri pariwisata merupakan salah satu sektor yang paling terpukul akibat karantina wilayah akibat pandemi. Pangsa pariwisata dalam produk domestik bruto (PDB) negara ini turun menjadi 5,4% pada tahun 2020 dari 12,8% pada tahun 2019.

Kontribusinya terhadap PDB telah pulih menjadi 8,89% pada tahun 2024, tetapi angka ini masih di bawah tingkat sebelum pandemi.

Untuk mempersiapkan industri pariwisata menghadapi acara-acara bergengsi seperti itu, hotel harus lebih meningkatkan penawaran mereka, seperti pilihan tempat makan, fasilitas rekreasi, dan ruang konferensi, ujar Romualdo. Staf hotel juga harus dilatih untuk meningkatkan layanan mereka, ujarnya.

“Menonjolkan pengalaman lokal yang unik juga dapat menarik minat para peserta yang ingin mendalami destinasi tersebut,” ujarnya.

Menjelang acara, hotel juga harus menargetkan calon peserta melalui saluran pemasaran digital mereka untuk mendorong pemesanan, ujar Romualdo.

“Hotel harus berfokus pada penceritaan — menonjolkan desain, makanan, dan layanan lokal — dan memastikan para tamu pulang dengan membicarakan lebih dari sekadar konferensi,” ujar Lay.

Romualdo juga menekankan perlunya peningkatan infrastruktur dan layanan lokal tepat waktu untuk KTT dan untuk industri pariwisata dalam jangka menengah.

Lay menambahkan bahwa hotel juga harus bekerja sama dengan Departemen Pariwisata dan kelompok pariwisata lainnya untuk menjadi tuan rumah bersama dan mendukung acara-acara terkait KTT tersebut.

“Jika kita memperlakukan ini lebih dari sekadar peningkatan pemesanan dan lebih seperti panggung untuk menjual produk Filipina, kita akan mendapatkan lebih banyak manfaat dalam jangka panjang,” kata Lay.

Industri MICE Penting di Asia Tenggara

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Memang, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa MICE merupakan kontributor signifikan bagi aliran pendapatan industri pariwisata, dan juga merupakan salah satu sektor yang telah menciptakan banyak lapangan kerja di era pasca pandemi.

Dilansir dari www.traveldailymedia.com, sebagai buktinya: perusahaan riset Mordor Intelligence melaporkan bulan lalu bahwa sektor MICE Asia-Pasifik saat ini bernilai US$212,83 miliar pada akhir semester pertama tahun 2025.

Para ahli menunjukkan bahwa, jika sektor ini terus tumbuh pada CAGR sebesar 9,1 persen per tahun, nilainya akan mencapai US$328,97 miliar pada akhir dekade ini.

Pertumbuhan ini disebabkan oleh pemulihan pesat benua Asia pasca pandemi, yang dipadukan dengan adopsi format acara hibrida yang lebih luas, serta peningkatan belanja perjalanan korporat dari tahun 2023 hingga saat ini.

Di kawasan ini, negara-negara anggota ASEAN berkembang pesat sebagai penggerak utama di sektor MICE, berperan sebagai tempat penyelenggaraan sekaligus badan penyelenggara dan penyedia layanan.

ASEAN perlu meningkatkan perannya

Pada konferensi BE in Sabah tahun ini di Kota Kinabalu, Malaysia, Datuk Dr. M. Gandhi menyatakan Asia Pasifik merupakan sumber bisnis dan inspirasi, dan pasar sub-regional harus memanfaatkan posisi strategis mereka.

Oleh karena itu, Gandhi menyarankan agar negara-negara seperti Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Filipina memposisikan diri sebagai gerbang menuju pasar global, yang berfungsi sebagai tempat berkumpul berbagai industri serta organisasi dengan kepentingan khusus.

Memang, dua pusat MICE terbesar di APAC terletak di Asia Tenggara: Singapura dan Thailand. Namun, Gandhi berpesan: “Daripada bersaing dengan pusat-pusat yang sudah mapan ini, ASEAN harus berfokus pada pengembangan kekuatan sub-regional untuk menciptakan ekosistem acara bisnis yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Para ahli menunjukkan bahwa negara-negara Asia Tenggara lainnya tidak perlu mengulang hal yang sama: negara-negara seperti Vietnam dan Filipina, yang dikenal sebagai destinasi wisata, justru dapat memanfaatkan tren bisnis+wisata (bleisure) dan memanfaatkan keahlian mereka untuk membangun inisiatif dan kampanye MICE yang lebih baik, tambah Gandhi

Dalam hal ini, diperlukan dukungan pemerintah yang lebih besar dalam membangun infrastruktur MICE baru atau memperkuat infrastruktur yang sudah ada agar kawasan ini dapat mencapai potensi sepenuhnya sebagai pusat kekuatan sektoral.

HotelsGuests Dapat Memesan Penginapan Dengan Harga S$60 nett per Malam di 13 hotel yang Berpartisipasi.

this formate

Hotel 81 Chinatown adalah salah satu dari 13 properti yang menawarkan staycation S$60 sebagai bagian dari kampanye SG60 Worldwide Hotels Group. (Foto:Worldwide Hotels Group)

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Worldwide Hotels Group merayakan ulang tahun ke-60 Singapura dengan kampanye SG60 yang menampilkan staycation diskon dan dua inisiatif komunitas nasional.

Mulai sekarang hingga 25 September 2025, warga negara dan penduduk tetap Singapura dapat memesan kamar seharga S$60 (US$47) netto per malam di 13 hotel yang berpartisipasi, meliputi:

V Hotel Bencoolen,
V Hotel Lavender
Hotel Boss
Hotel Mi Bencoolen
Hotel Mi Rochor
Value Hotel Thomson
Hotel Classic by Venue
Venue Hotel
Hotel 81 Chinatown
Hotel 81 Heritage
Hotel 81 Osaka
Hotel 81 Palace
Hotel 81 Rochor

Sebanyak 60 kamar akan dirilis setiap hari selama 60 hari berturut-turut, dengan periode promosi berlangsung dari 1 Agustus hingga 30 September 2025.

Kampanye SG60 juga mendukung inisiatif Perubahan untuk Amal dari Community Chest. Duta SG60 akan ditempatkan di hotel-hotel terpilih untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong donasi, yang akan disalurkan oleh Grup secara bertahap.

Selain itu, perusahaan berpartisipasi dalam Program Relawan Flexi 2025 di bawah kampanye #GiveAsOneSG, dengan komitmen minimal 60 jam kerja sukarela. Para staf akan terlibat dalam kegiatan sosial bersama organisasi nirlaba lokal.

“Kampanye SG60 ini mencerminkan jati diri kami – sebuah merek Singapura yang bangga dan berakar di komunitas,” ujar Carolyn Choo, CEO Worldwide Hotels Group. “Selain mengajak warga lokal untuk menjelajahi kembali kota ini melalui staycation yang mudah diakses dan berkesan, kami juga berkomitmen untuk membuat perubahan nyata di lapangan.”

Para tamu juga dapat menikmati berbagai aktivitas bertema SG60 di hotel, termasuk stiker tato, gantungan kunci kenang-kenangan, dan bilik foto.

Pemesanan tersedia secara eksklusif di situs web resmi Worldwide Hotels Group dan berdasarkan siapa cepat dia dapat.

Explora Journeys Rayakan Tonggak Penting Dalam Pembangunan Armada Mewahnya

this formate

Caroline Cooney-Hurrell (ketiga kiri) ibu baptis kapal Explora IV yang memainkan peran kunci dalam membangun operasional Explora Experience Centre

ATHENA, bisniswisata.co.id : Merek gaya hidup mewah dari MSC Group , terus mendefinisikan ulang masa depan perjalanan laut. Sebuah langkah maju yang signifikan dalam perjalanan merek ini dirayakan di galangan kapal Fincantieri di Genoa Sestri Ponente.

Dimana tiga tonggak penting menandai babak selanjutnya dalam evolusi armadanya yang berkembang pesat:
• mengapungnya EXPLORA III,
• upacara koin untuk EXPLORA IV, dan
• pemotongan baja untuk EXPLORA V

Dilansir dari traveldailynews.com, momen-momen ini, yang berakar pada tradisi maritim, mewakili lebih dari sekadar kemajuan dalam konstruksi momen yang mencerminkan komitmen teguh Explora Journeys terhadap kemewahan yang berkelas, perjalanan yang bermakna, dan pembuatan kapal yang inovatif.

Armadanya – yang direncanakan akan terdiri dari enam kapal pada tahun 2028 – terus beroperasi sesuai jadwal. EXPLORA I dan EXPLORA II telah menyambut para tamu dengan gaya baru perjalanan laut yang sangat elegan dan beroperasi hampir dengan kapasitas penuh, mencerminkan daya tarik yang kuat dari penawaran merek tersebut.

EXPLORA III akan bergabung dengan armada pada tahun 2026, diikuti oleh EXPLORA IV dan EXPLORA V pada tahun 2027, dan EXPLORA VI pada tahun 2028.

Anna Nash , Presiden Explora Journeys, berkomentar: “Hari ini menandai tonggak sejarah yang membanggakan bagi Explora Journeys, merayakan tiga kapal yang luar biasa – masing-masing merupakan simbol ambisi kami untuk mendefinisikan ulang perjalanan laut yang ultra-elegan.

Perayaan tiga kapal ini mencerminkan kekuatan visi kami dan kekuatan kolaborasi antara tim kami, mitra kami di Fincantieri, dan dukungan penuh dari keluarga Aponte-Vago.
Dipandu oleh nilai-nilai kepedulian, rasa hormat, dan keunggulan, kami tidak hanya membangun kapal – kami menciptakan warisan perjalanan transformatif yang akan bertahan untuk generasi mendatang, kata Anna Nash.

Caroline Cooney-Hurrell , Ahli Strategi Perjalanan Pelanggan di Explora Journeys, dianugerahi sebagai ibu baptis untuk upacara pemberian koin EXPLORA IV sebagai pengakuan atas komitmen dan dedikasinya yang teguh terhadap merek tersebut selama lima tahun terakhir.

Caroline memainkan peran kunci dalam membangun operasional Explora Experience Centre, memastikan layanan dan kepedulian yang luar biasa bagi para tamu Explora Journeys.

Dari tim Fincantieri, Franca Parisi , Kepala Peningkatan Kualitas dan Kinerja, dengan bangga menjadi ibu baptis untuk upacara tersebut.

Investasi sebesar 3,5 miliar euro pada enam armada kapal Explora Journeys – yang semuanya dibangun oleh Fincantieri – merupakan komitmen jangka panjang tidak hanya untuk mendefinisikan ulang perjalanan laut tetapi juga untuk industri pembuatan kapal Italia.

Visi Baru untuk Perjalanan Laut
Explora Journeys lahir dari sebuah visi yang berani: untuk menata ulang pengalaman perjalanan laut yang mewah.

Hanya dalam dua tahun sejak peluncuran EXPLORA I, merek ini telah menjadi acuan baru di sektor ini, meraih pujian dari para tamu cerdas di seluruh dunia.

Perpaduan antara rencana perjalanan yang dikurasi dengan cermat, momen budaya yang imersif, desain kapal yang elegan dan santai, serta layanan yang luar biasa telah mendefinisikan ulang arti perjalanan di laut.

Saat setiap kapal baru mulai beroperasi, Explora Journeys melanjutkan tujuannya: untuk menawarkan pengalaman perjalanan transformatif yang menghubungkan tamu dengan laut, diri mereka sendiri, dan dunia di sekitar mereka, dengan cara yang berkelanjutan, bermartabat, dan sangat bermakna.

Komitmen Keberlanjutan

Semua kapal dilengkapi dengan teknologi lingkungan canggih, termasuk kemampuan daya pantai yang menghilangkan emosi saat berada di pelabuhan, dan sistem manajemen kebisingan bawah air yang canggih untuk membantu melindungi kehidupan laut.

Rangkaian lengkap sistem onboard hemat energi juga memastikan kinerja mesin yang optimal dan konsumsi bahan bakar yang lebih rendah.

Mulai EXPLORA III, keempat kapal terbaru akan menggunakan gas alam cair (LNG), bahan bakar transisi yang menawarkan pengurangan emisi substansial dibandingkan bahan bakar laut konvensional.

Kapal-kapal ini juga siap menggunakan alternatif terbarukan seperti bio-LNG dan LNG sintetis. EXPLORA V dan VI akan melangkah lebih jauh, dengan kemungkinan penggunaan teknologi sel bahan bakar generasi mendatang yang mampu mengubah LNG menjadi hidrogen untuk mengurangi emisi di pelabuhan secara signifikan

Zumba Cruise yang Populer Dijadwalkan Kembali pada Tahun 2026

this formate

NEW JERSEY, bisniswisata.co.id : Penggemar Zumba—program kebugaran berenergi tinggi yang menggabungkan gerakan tari yang terinspirasi dari budaya Latin—memiliki kesempatan untuk mengeluarkan keringat di laut lepas.

Dilansir dari travelpulse.com, setelah jeda tujuh tahun, Zumba Cruise dijadwalkan kembali pada tahun 2026. Ditawarkan di atas kapal Norwegian Pearl, pelayaran tersebut dijadwalkan pada tanggal 9-13 Maret dan akan berlayar dari Miami ke Cozumel.

Instruktur Zumba papan atas akan bergabung dalam pelayaran untuk menawarkan berbagai kelas. Para tamu juga dapat menikmati latihan khusus, pesta dansa bertema, hiburan, penampilan artis kejutan, dan banyak lagi.

“Tidak ada yang bisa menandingi Zumba Cruise—energi, gairah, kegembiraan yang luar biasa dari ribuan orang yang menari bersama di laut,” kata Carolina Moraes, kepala pemasaran Zumba.

“Ini adalah salah satu acara yang paling diminati, dan selama bertahun-tahun, instruktur dan siswa kami telah meminta agar acara ini diadakan lagi. Kami sangat gembira akhirnya dapat menyelenggarakannya kembali dan membukanya untuk umum sehingga semua orang dapat merasakan keajaibannya secara langsung.”

 

Vietnam Raih Kemenangan Besar di Asian Architecture and Hospitality Awards

this formate

SEOUL, bisniswisata.co.id:Hotel dan destinasi di Vietnam meraih sorotan regional di ajang Asia Architecture Design Awards (AADA) dan Asia Hospitality Awards (AHA) 2025. Diselenggarakan untuk pertama kalinya secara bersamaan oleh Asia Awards Organisation (AAO) di Seoul, Korea Selatan.

Dilansir dari https://en.vietnamplus.vn/, bertempat di The Shilla Seoul, sebuah tempat yang melambangkan perpaduan arsitektur kontemporer dan perhotelan Korea, acara ini menandai konvergensi desain dan pengalaman dengan tema “Asia yang Semarak”.

Lebih dari 200 arsitek, desainer, pelaku bisnis perhotelan, dan pemimpin industri dari 10 negara berpartisipasi, bersama dengan perwakilan kedutaan dari Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Filipina.

Menanggapi acara tersebut, Tan Quee Peng, Direktur Jenderal RSP Vietnam dan ketua panel juri AAO dan AADA 2025, menekankan hubungan erat antara arsitektur dan layanan, dengan menekankan bahwa keduanya membentuk pengalaman dan identitas budaya.

Ketika diintegrasikan, keduanya tidak hanya mendorong ekspresi artistik tetapi juga pertumbuhan ekonomi dan budaya regional. Dari 63 karya arsitektur dan 38 individu serta proyek perhotelan yang mendapatkan penghargaan.

Beberapa karya Vietnam menonjol, termasuk The RIVUS dan The CENTRIC (Masterise Group), Dong Dong Interior Collection (Landco Corporation), Dhawa Hanoi & The Lakeside Complex (Pacific Thang Long), dan The Luxury House (Cat Moc Group).

Proyek-proyek ini dipuji karena perpaduan kreatif antara warisan budaya, keberlanjutan, dan inovasi, yang meningkatkan profil Vietnam dalam arsitektur dan desain Asia.

Pada AHA perdana, 33 individu dan proyek perhotelan mendapatkan penghargaan atas keberhasilan mereka dalam mendefinisikan ulang pengalaman tamu di Asia.

Pemenang terkemuka termasuk Grand Copthorne Waterfront (Singapura) dan Army Guest House Vietnam.

Vietnam juga meraih penghargaan dalam kategori yang merayakan inovasi dan identitas lokal dengan Selectum Noa Resort – Konsep Resor Terbaik di Asia 2025; Ambassador Cruise – Pelayaran Bersantap Terbaik di Asia; dan Hang Ngoc Rong – Destinasi Budaya yang Berkembang.

Penasihat sekaligus juri AAO, Gianfranco Bianchi, mengungkapkan kekagumannya atas kehadiran Vietnam yang kuat, menyebutnya sebagai bukti kemampuan kreatif dan suara budaya khas negara tersebut di sektor perhotelan regional.

Vietnam akan menjadi tuan rumah AADA dan AHA edisi 2026, dengan Hang Ngoc Rong terpilih sebagai lokasi resminya. Hal ini menandai tonggak sejarah yang penting, menawarkan Vietnam kesempatan untuk menampilkan inovasi dan identitas budayanya di panggung Asia.

Penghargaan 2026 ini diharapkan akan memberikan pengalaman yang belum pernah ada sebelumnya dan menjadi landasan bagi terobosan-terobosan di masa depan dalam bidang arsitektur dan perhotelan di seluruh kawasan.

Bali, Tujuan “Leisure”, Bisnis dan Investasi Warga Kazakhstan

Bali, Tujuan “Leisure”, Bisnis dan Investasi Warga Kazakhstan

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Bali tidak hanya menjadi tujuan bisnis dan berlibur warga negara Kazakhstan, juga untuk berinvestasi. Dengan tersedianya layanan kekonsuleran warga negara Kazakhstand di Bali, diharapkan kinerja investasi langsung Kazakhstan Bali dapat ditingkatkan dan berdampak positip secara ekonomi, jelas Duta Besar Republik Kazakhstan untuk Indonesia, Serzhan Abdykarimov, menjawab bisniswisata.co.id

Upaya meningkatkan kerjasama bilateral dua negara khususnya untuk Bali, DPD ASITA Bali merencanakan penyelenggaraan sales mission Bali- Kazakhstan dan menjajagi peluang charter flight Kazakhstan- Bali (reciprocal). Ketiadaan transportasi langsung dua destinasi menjadi kendala peningkatan kinerja kerjasama yang telah disepakati sejak tahun 1993, tegas I Putu Winastra, S.AB, M.A.P, Konsul Kehormatan Republik Kazakshtan di Bali yang juga Ketua DPD ASITA Bali menambahkan.

Persoalan aksesibilitas tersebut tidak hanya menjawab tuntutan dunia hal green development, green economy, dan green investasi, juga menjawab pergeseran kebutuhan para pelaku perjalanan —bisnis, berlibur, kepentingan pendidikan— menuju perjalanan dan aktivitas rendah karbon.

Arus kunjungan warga Kazakhstan ke Bali menunjukkan tren kenaikan signifikan, jika di tahun 2020 hanya tercatat 9 ribu orang di tahun 2024 meningkat menjadi 18.228 orang, diharapkan peningkatan siginifikan di tahun 2025. Meski pun angka kunjungan warga Kazakhstan ke Bali belum masuk dalam daftar 15 besar pasar Bali, lama tinggal mereka di Bali terdata 7-10 hari, dengan spending tinggi.

Menurut Dubes Serzhan Abdykarimov yang hadir mengukuhkan Konsul Kehormatan Kazakhstan di Bali dan meresmikan Kantor Konsul Kehormatan Republik Kazakhstand, ikatan diplomatik tersebut menjadi dasar kelembagaan membangun kemitraan ke dua negara, yang mencakup Komisi Antar-Pemerintah untuk Kerja Sama Ekonomi, kelompok persahabatan antarparlemen, lembaga Konsul Kehormatan, Perhimpunan Persahabatan di Jakarta, Dewan Pakar antarlembaga dan sebagainya.

“Kami senang melihat peningkatan arus wisatawan antar dua negara, dan semakin banyaknya mahasiswa yang belajar di universitas-universitas terbaik Kazakhstan dan Indonesia. Meski pun terpisah jarak geografis, negara kita diikat oleh kesamaan luar biasa yang melampaui batas benua, batas wilayah, dan lautan,” papar Serzhan Abdykarimov.

Bukan Sekadar Kebetulan

Lebih jauh Dubes Kazakhstand untuk Indonesia menjelaskan Kazakhstan memandang Indonesia sebagai mitra penting di Asia Tenggara dan mementingkan peningkatan kerja sama didasarkan pada persahabatan dan saling mendukung, ke tingkat kualitatif. Kesemaan yang dimiliki Indonesia dan Kazakhstand bukan sekadar kebetulan; melainkan jalinan benang merah kemitraan yang diperkaya oleh sejarah dan rasa saling menghormati, merupakan kekuatan pendorong untuk perubahan positif ke depan.

Sembari menghormati masa lalu dan menatap masa depan, Dubes Kazakhstand “mengajak” semua pihak kembali berkomitmen pada kesepakatan kemitraan, menghargai nilai-nilai bersama dan kesamaan yang menyatukan Indonesia dan Kazakhstand. Nilai- nilai kebersamaan tersebut antara lain:

Pertama. Kazakhstan merupakan negara ke-9 terbesar berdasarkan wilayah di dunia dengan mayoritas penduduk Muslim, sementara Indonesia menyandang gelar negara Muslim terbesar berdasarkan jumlah penduduk.

Kedua. Kedua negara sangat kaya akan sumber daya alam dan merupakan pemimpin ekonomi di kawasan masing-masing, dengan Kazakhstan menjadi tokoh sentral di Asia Tengah dan Indonesia di Asia Tenggara dan ASEAN.

Ketiga. Narasi sejarah dua negara, memiliki keunikan jalinan paralel – Kazakhstan, dikenal karena warisannya sebagai “Pengembara Stepa”, dan Indonesia sebagai negeri kepulauan sebagai “Pengembara Laut”. Hanya sedikit yang tahu bahwa Kazakhstan adalah tempat kelahiran apel dan tulip modern. Atau untuk pertama kalinya, domestikasi kuda oleh manusia terjadi di wilayah Kazakhstan modern.

Keempat. Bahasa Kazakhstan dan Indonesia memiliki ikatan linguistik dengan lebih dari 800 kata serapan dari bahasa Arab yang memiliki pelafalan dan makna yang serupa, kata-kata seperti aulia, dunia, hormat, kaum, resmi, misal, kuat, hewan, dan sabun, sebagai contoh.

Kelima. Keragaman hidup dan kehidupan di dua negara. Kazakhstan menjadi rumah bagi lebih dari 120 kebangsaan, menganut 18 pengakuan agama, dan Indonesia mencakup lebih dari 300 kelompok etnis, 700 bahasa, dan enam agama.

Keenam. Kazakhstan dan Indonesia, sebagai kekuatan menengah yang diakui dunia, menjalankan kebijakan luar negeri terbuka, pragmatis, dan cinta damai, dipandu oleh prinsip-prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang penghormatan terhadap kedaulatan dan wilayah. Integritas nasional, non-intervensi, penyelesaian sengketa secara damai, multilateralisme, non-proliferasi nuklir, dialog antar-agama, dan sebagainya.

Kerjasama Multifacet

Kehadiran Dubes Republik Kazakhstan di Bali (30/7) tidak hanya menandai pembukaan Konsulat, juga awal babak baru, kerjasama yang dipenuhi dengan kolaborasi, persahabatan, dan kemajuan bersama antara Kazakhstan dan Indonesia. Menegaskan komitmen bersama untuk mempererat hubungan antara Kazakhstan dan masyarakat Bali, di berbagai bidang pemerintahan, budaya, pendidikan, pariwisata, serta pembangunan ekonomi.

Kehadiran konsulat kehormatan ini, bertujuan untuk mewujudkan nilai-nilai bersama —rasa saling menghormati, komitmen terhadap perdamaian dan kerjasama serta semangat kemitraan global— menjadi koneksi yang nyata, menghubungkan komunitas, institusi, dan industri untuk kepentingan bersama kedua negara.

“Saya berkomitmen untuk melayani kepentingan warga Kazakhstan di kawasan ini, memajukan kerja sama bilateral, dan mendorong pertukaran budaya, perdagangan, pariwisata dan investasi,” tegas Konsul Kehormatanan Republik Kazakhstan I Putu Winastra, S.AB, M.A.P.  Pengukuhan Konsul Kehormatan dan peresmian Kantor Konsul Kehormatan Republik Kazakhstan di hadiri Kepala Dinas Pariwisata Bali mewakili Gubernur, Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Provinsi Bali, Perwakilan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi, Bali, Perwakilan dari Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai, Perwakilan dari Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali & Ketua Dewan Pariwisata Bali (BTB), Direktur Intelijen dan Keamanan, Polda Bali, Direktur Pengamanan Objek Vital (Dirpamobvit), Kepolisian Daerah Bali,  Kepala Kepolisian Sektor Denpasar Timur (Dentim) dan para Konsul Negara- negara Sahabat.

Pada kesempatan tersebut, Putu Winastra yang juga Ketua DPD ASITA Bali, mengingatkan kembali bahwa hubungan Indonesia dengan Kazakhstan, resmi dibentuk pada tahun 1993. Tahun 2023 lalu dirayakan peringatan 30 tahun pembentukan hubungan diplomatik bilateral Indonesia – Kazakhstan. Tahun-tahun tersebut merupakan tahun-tahun yang luar biasa, diwujudkan dengan kunjungan timbal balik Presiden, delegasi parlemen dan pemerintah tingkat tinggi, kontak bisnis dan antarmasyarakat.

Kazakhstan saat ini dipimpin Presiden Kassym-Jomart Tokayev, merupakan negara yang berkembang secara dinamis. Berpenduduk dua puluh juta jiwa dengan iklim bisnis dan investasi serta potensi manusia terbaik di Asia Tengah. Siap bersama-sama meraih peluang baru untuk membina kerja sama multifaset, demi kepentingan terbaik kedua negara sahabat, ujar Dubes Serzhan Abdykarimov. *

 

GBTA: Stabilisasi Biaya Perjalanan Bisnis Diharapkan Tahun 2025 -2026

this formate

CHESHIRE, bisniswisata.co.id : Naik turunnya harga perjalanan bisnis, akibat langsung pandemi dan dampaknya yang berkepanjangan, agaknya akan mereda dalam satu setengah tahun ke depan. Setidaknya demikianlah yang disarankan oleh “Prakiraan Perjalanan Bisnis Global 2025” dari CWT dan GBTA.

Laporan tersebut, yang mengumpulkan wawasan dari kombinasi data anonim mitra mereka dan informasi yang dapat diakses publik, mengantisipasi fluktuasi yang relatif minimal dalam biaya tiket pesawat, penginapan, dan transportasi darat hingga tahun 2026.

Dilansir dari tourism-review.com, para manajer perjalanan, perlu diperhatikan: sedikit peningkatan prediktabilitas mungkin akan segera terjadi.

Namun, beberapa faktor yang sudah tidak asing lagi masih membayangi, memengaruhi lanskap yang lebih luas: yaitu inflasi, momok ketidakpastian ekonomi yang selalu ada, dan ketegangan geopolitik yang terus berlanjut.

Proyeksi dasar laporan ini bergantung pada asumsi pertumbuhan global yang berkelanjutan, meskipun melambat. Namun, skenario yang lebih pesimistis dan didorong oleh resesi, menggambarkan fluktuasi harga yang berpotensi fluktuatif.

Masa Depan yang Lebih Dapat Diprediksi, Mungkin

Stabilisasi biaya perjalanan bisnis di sektor ini tampaknya muncul dari interaksi yang lebih seimbang antara penawaran dan permintaan, yang berjalan beriringan dengan ekspansi ekonomi yang moderat.

Hal ini, pada gilirannya, memungkinkan para manajer perjalanan untuk menyesuaikan program mereka, misalnya dengan berfokus pada harga lokal, taktik negosiasi yang lebih cerdas, dan bahkan mempertimbangkan format acara yang inovatif .

Meskipun masih ada tantangan, seperti tekanan inflasi yang berkelanjutan dan kendala rantai pasokan, munculnya data dan tren yang lebih jelas memfasilitasi perencanaan yang lebih meyakinkan.

Laporan tersebut mencatat bahwa kesuksesan bergantung pada kemampuan untuk tetap terinformasi, adaptif, dan selaras dengan tujuan bisnis secara keseluruhan.

Harga Tiket Pesawat: Prospek yang Beragam

Rata-rata global, harga tiket pesawat (ATP) mengalami lonjakan 4,8% selama tahun 2024. Namun, penurunan tipis – sekitar 2,2% – diperkirakan terjadi pada tahun 2025, diikuti oleh kenaikan tipis sebesar 0,4% pada tahun 2026.

Tren keseluruhan ini didorong oleh kombinasi beberapa faktor: peningkatan kapasitas maskapai dan penurunan biaya bahan bakar. Sayangnya, keterlambatan pengiriman pesawat dapat menghambat pemulihan kapasitas di beberapa lokasi, sehingga menekan harga hingga batas tertentu.

Amerika Utara (NORAM): Juara ATP tahun 2024, mencapai US$831 (naik 6,9%). Hal ini didorong oleh permintaan penerbangan jarak jauh dan, mungkin tidak mengejutkan, pemesanan premium.

Penurunan hampir 3% menjadi $807 diprediksi terjadi pada tahun 2025, diikuti oleh kenaikan tipis, sekitar 1,7%, menjadi $821 pada tahun 2026.

Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA): Di sini, ATP naik 4,8%, mencapai US$823 pada tahun 2024, dengan pertumbuhan yang agak sederhana: 0,6% pada tahun 2025 dan 2,1% pada tahun 2026.

Asia-Pasifik (APAC): ATP meningkat sebesar 2,9% menjadi $502 pada tahun 2024. Penurunan tipis diperkirakan terjadi pada tahun 2025 (1,8%), dengan kenaikan kembali sebesar 0,8% diperkirakan terjadi pada tahun 2026.

Amerika Latin (LATAM): ATP naik 1,7% menjadi US$667 pada tahun 2024; antisipasi sedikit penurunan 0,4% pada tahun 2025, dan kenaikan 1,7% pada tahun 2026.

Harga Hotel: Pertumbuhan Moderat di Tengah Keterbatasan Pasokan

Harga hotel, secara umum, sedang naik sedikit. Tingkat hunian yang tinggi dan terbatasnya pasokan kamar baru, yang berkaitan dengan tingginya biaya konstruksi dan persyaratan pinjaman yang lebih ketat, merupakan pendorong utama.

Tarif harian rata-rata global (ADR) naik 1,9% pada tahun 2024, menjadi US$161. Pertumbuhan lebih lanjut, masing-masing sebesar 1,2% dan 1,8%, diproyeksikan untuk tahun 2025 dan 2026.

Amerika Latin (LATAM): Wilayah ini mengalami lonjakan ADR terbesar: lonjakan signifikan sebesar 7,5%, sehingga rata-ratanya mencapai US$100 pada tahun 2024. Kenaikan sebesar 7% dan 5,7% diantisipasi masing-masing pada tahun 2025 dan 2026; kemungkinan didorong oleh permintaan domestik yang kuat dan tekanan inflasi yang ada.

Asia-Pasifik (APAC): ADR naik 4,5% hingga mencapai US$138 pada tahun 2024, dengan prediksi kenaikan sebesar 3,6% dan 2,8% untuk tahun 2025 dan 2026.

Amerika Utara (NORAM): ADR di sini naik 3,3%, mencapai US$188 pada tahun 2024; pertumbuhan sebesar 2,1% dan 1,6% diproyeksikan untuk tahun 2025 dan 2026.

Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA): ADR tumbuh 1,3% menjadi US$157 pada tahun 2024; perkirakan pertumbuhan sekitar 1,9% untuk tahun 2025 dan 2026.

Transportasi Darat: Turun Level… dengan Harga Lebih Tinggi

Tarif sewa mobil, yang melonjak drastis pasca pandemi, kini mulai stabil, meskipun pada tingkat yang sebelumnya tinggi. Secara global, tarif harian rata-rata naik sebesar 6,1% pada tahun 2024, dengan pertumbuhan yang lebih rendah sebesar 2,9% pada tahun 2025, dan 2,8% pada tahun 2026, kemungkinan didorong oleh ketersediaan kendaraan yang lebih baik dan persaingan yang semakin ketat.

Rapat dan Acara: Meningkatnya Biaya, Perubahan Strategi

Biaya per peserta rapat dan acara meningkat 4,5% pada tahun 2024, yang sebagian besar disebabkan oleh biaya tenaga kerja dan produksi yang lebih tinggi, ditambah dengan tren peningkatan acara premium berskala kecil.

Pertumbuhan yang lebih lambat, sekitar 3,7% pada tahun 2025 dan 2,4% pada tahun 2026, diperkirakan akan terjadi, sejalan dengan tren inflasi secara keseluruhan.

Menanggapi kenaikan biaya, para perencana acara semakin memilih lokasi di kota-kota yang lebih kecil dan lebih terjangkau. Di saat yang sama, kekhawatiran akan keberlanjutan dan persyaratan teknis yang lebih canggih terus mendorong anggaran semakin tinggi.

Peluang Strategis di Pasar yang Stabil
Bisnis dapat meningkatkan keuntungan secara keseluruhan dengan memanfaatkan dinamika biaya regional, mengamankan kesepakatan yang lebih menguntungkan, dan memodifikasi gaya acara, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih stabil.

Namun demikian, faktor ekonomi dan geopolitik yang berlaku memerlukan pemantauan yang cermat dan kelincahan untuk menyelaraskan rencana perjalanan dengan tujuan perusahaan.

Dalam lingkungan perjalanan bisnis yang terus berkembang ini, pilihan berbasis fakta menjadi penting untuk mengelola biaya perjalanan bisnis secara efektif.

ICAO: Pengenalan Wajah Biometric Akan Mengubah Check-in di Bandara

this formate

MONTREAL, Kanada, bisniswisata.co.id : Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), bekerja sama dengan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) dan Flight Centre Travel Group, berada di ambang perubahan mendasar dalam pengalaman di bandara.

Inisiatif “Journey Pass” mereka, yang memanfaatkan ID biometrik dan pengenalan wajah, bertujuan untuk menghilangkan sebagian besar paspor dan boarding pass, yang awalnya diuji coba di Australia.

Teknologi ini, yang telah terbukti di Singapura, bertujuan untuk memangkas waktu check-in bandara secara substansial, meningkatkan langkah-langkah keamanan, dan menyederhanakan arus penumpang, meskipun menimbulkan pertanyaan penting terkait privasi data.

Sebuah Lompatan Menuju Perjalanan yang Mulus

Dilansir dari tourism-review.com, Journey Pass bertujuan untuk sepenuhnya mengotomatiskan pengalaman penumpang, mengganti dokumentasi lama dengan verifikasi biometrik.

Di Bandara Changi Singapura, di mana sistem serupa beroperasi di seluruh terminal, pemeriksaan penumpang hanya membutuhkan waktu beberapa detik. Waktu pemrosesan rata-rata berkurang secara signifikan dan sistem ini praktis menghilangkan antrian.
.
Dengan menggunakan kamera definisi tinggi dan perangkat lunak pengenalan wajah yang tepat—yang sering digunakan di sektor ritel—sistem ini memberikan pengalaman bandara yang lebih cepat dan efisien bagi sebagian besar penumpang.

Lebih dari sekadar kenyamanan, Journey Pass menawarkan keuntungan ekonomi yang menarik. Antrian yang lebih pendek menghasilkan penghematan operasional bagi maskapai dan bandara, memungkinkan staf untuk beralih dari tugas verifikasi ke peran yang lebih vital, seperti meningkatkan keamanan perbatasan.

Ketergantungannya pada perangkat terkini menjadikannya scalablel untuk potensi adopsi bandara global, secara umum.

Uji Coba Global dan Adopsi Eropa

Setelah uji coba yang menjanjikan di Singapura, Australia mungkin menjadi salah satu yang pertama menerapkan Journey Pass. Di seluruh Eropa, pusat-pusat bandara besar seperti Paris, Frankfurt, Amsterdam, dan Madrid semakin mengintegrasikan pengenalan wajah ke dalam kendali operasional.

Inisiatif-inisiatif tersebut sejalan dengan otomatisasi yang lebih luas untuk mengganti dokumen fisik dengan informasi biometrik guna meningkatkan efisiensi dan keamanan selama penerapan sistem ini.

Kekhawatiran Privasi Menjadi Sorotan

Meskipun Journey Pass memiliki potensi yang besar, hal ini juga menimbulkan pertimbangan penting terkait privasi data. Sebagai data sensitif, informasi biometrik memerlukan perlindungan yang signifikan untuk penyimpanan data.

Para ahli menekankan kebutuhan mendesak akan regulasi yang jelas untuk melindungi informasi pribadi dan menjaga transparansi dalam banyak kasus. ICAO dan mitranya ditugaskan untuk mengatasi tantangan ini guna membangun kepatuhan global.

Era Baru Perjalanan Udara

Journey Pass menandai langkah modernisasi bandara, menawarkan perjalanan yang lebih cepat, lebih aman, dan lebih hemat biaya.

Dengan uji coba yang sedang berlangsung di Australia dan semakin banyaknya adopsi di Eropa, Journey Pass dapat mendefinisikan ulang cara kita bernavigasi di bandara.

Keberhasilan utamanya terletak pada keseimbangan inovasi teknologi dengan perlindungan data pribadi. Seiring industri penerbangan mengadopsi teknologi ini, para pelancong dapat menikmati antrian yang lebih pendek dan perjalanan yang lebih lancar—jika masalah privasi ditangani dengan

WTTC: Sektor Perjalanan dan Pariwisata Kanada Akan Mencapai Rekor Tertinggi pada Tahun 2025

this formate

LONDON, bisniswisata.co.id: Sektor Perjalanan & Pariwisata Kanada diperkirakan akan menyumbang hampir US$183 miliar bagi perekonomian pada tahun 2025, mencetak rekor baru dan melanjutkan tren pertumbuhan impresif negara tersebut, menurut data terbaru dari World Travel & Tourism Council ( WTTC ).

Dilansir dari wttc.org, WTTC mengungkapkan bahwa sektor ini juga diperkirakan akan menciptakan 1,8 juta lapangan kerja tahun ini. Hal ini merupakan tonggak penting yang mengukuhkan peran pariwisata sebagai pilar pasar tenaga kerja Kanada dan mencerminkan kekuatan yang berkelanjutan di sektor ini.

Meskipun gambaran keseluruhannya positif, WTTC memperingatkan bahwa dinamika global sedang berubah, dan Kanada perlu tetap proaktif untuk mempertahankan momentum seiring dengan perkembangan pola perjalanan internasional.

Pertumbuhan Domestik Tetap Stabil tetapi Arus Internasional Berubah-ubah

Ekonomi pariwisata Kanada telah diuntungkan oleh pasar domestik yang stabil dan berkembang. Pada tahun 2025, pengeluaran pengunjung domestik diproyeksikan mencapai hampir $104 miliar, lebih dari dua kali lipat pertumbuhan tahun-ke-tahun tahun lalu (8,3%).

Pengeluaran pengunjung internasional terus pulih, diperkirakan mencapai US$34 miliar, hanya 2,9% di bawah level 2019. Meskipun masih tertinggal ketika tujuan-tujuan utama lainnya sudah melampaui level pra-pandemi mereka, ia mendapatkan kemajuan cepat dengan prediksi pertumbuhan tahun-ke-tahun sebesar 17,5%.

Julia Simpson, Presiden & CEO WTTC, mengatakan sektor Perjalanan & Pariwisata Kanada terus menjadi titik terang dalam ekonomi global. Dengan kontribusi ekonomi yang memecahkan rekor, penciptaan lapangan kerja, dan basis domestik yang kuat, negara ini membuktikan betapa tangguh dan adaptifnya sektornya.

“Tetapi Kanada harus tetap waspada. Pola perjalanan sedang bergeser, dan pertumbuhan masuk dari pasar-pasar utama tetap rapuh. Inilah saatnya berinvestasi dalam pemasaran cerdas, akses tanpa hambatan, dan pengalaman pengunjung untuk melindungi momentum tersebut.”

Perubahan Arah bagi Pelancong Kanada

Hal yang terpenting, 71% kedatangan masuk Kanada pada tahun 2024 berasal dari Amerika Serikat, dan 52% perjalanan keluar oleh warga Kanada menuju arah yang sama.

Namun, ketergantungan yang mendalam pada satu pasar itu mungkin sedang tertekan. Dengan sentimen Kanada yang mendingin di tengah retorika politik AS dan gesekan kebijakan, ada tanda-tanda awal bahwa warga Kanada mulai mencari lebih jauh.

Pengunjung dari AS dapat melihat pengurangan karena perbedaan politik saat ini antara kedua negara dan melihat lebih sedikit perjalanan ke Kanada dari pengunjung internasional ke Amerika Utara, yang berharap untuk mengunjungi kedua negara dalam kunjungan yang sama.

Menurut data dari Statistik Kanada, kedatangan penerbangan dari AS ke Kanada turun pada bulan Februari dan April tahun ini, dengan sedikit peningkatan pada bulan Maret.

Kedatangan darat turun di ketiga bulan tersebut, dan lebih dari 10% di bawah pada bulan Maret dan April. Tren penurunan ini menunjukkan pola penurunan yang mengkhawatirkan dari pasar sumber utama Kanada.

Tinjauan 2024

Tahun lalu, sektor ini berkontribusi hampir US$169 miliar terhadap perekonomian Kanada dan menciptakan 1,7 juta lapangan kerja. Pengeluaran wisatawan domestik mencapai US$95,7 miliar, sementara pengeluaran wisatawan internasional mencapai US$28,9 miliar.

Data ini mencerminkan fondasi yang kuat.
tetapi juga menyoroti bahwa pertumbuhan lebih lanjut, terutama di pasar internasional, harus dipupuk dengan kebijakan dan investasi strategis.

Menatap Tahun 2035,

WTTC memperkirakan bahwa pada tahun 2035, sektor Perjalanan & Pariwisata Kanada akan menyumbang $233,5 miliar bagi perekonomian nasional, 6,3% dari PDB, dan menyediakan lebih dari 2,1 juta lapangan kerja.

Pengeluaran wisatawan internasional diproyeksikan mencapai $40 miliar, sementara pengeluaran domestik diperkirakan melonjak hingga lebih dari US$132 miliar, memperkuat peluang jangka panjang Kanada jika sektor ini terus berinvestasi dalam pertumbuhan berkelanjutan dan daya saing global.