“Leader Kapengkok Pager Suru”

0
90
Situasi_ kritis_ perlu_segera_ dicari_ solusinya
Pager suru

SAYA saya hendak mengajak teman-teman leader untuk recall – “pernahkah akhir-akhir ini teman-teman menghadapi problema, yang merupakan pengalaman pertama dan harus mencari solusinya?”

Sikap seorang leader atau pemimpin sejati sebenarnya diuji ketika menghadapi situasi dan kondisi kapengkok pager suru ini. Pitutur atau kata-kata bijak kapengkok pager suru, berasal dari kultur Jawa dengan korelasi memiliki pemahaman universal. Artinya, kapengkok (kepergok/ terjepit /terhimpit), pager (pagar), suru (sejenis tumbuhan perdu yang penuh duri). Terjemahan bebasnya, “tiba-tiba bertemu pagar perdu berduri”, adalah ketika seseorang menemukan masalah yang datang tiba-tiba dan tanpa persiapan sudah hadir di depan mata.

Pitutur Jawa ini bisa diartikan secara bebas dan luas. Bisa jadi pengalaman pertama dari suatu kejadian, di luar ekspektasi kita semua. Mungkin saja ada beberapa hal yang tidak terpikirkan oleh kita ketika persiapan awal dalam melakukan suatu pekerjaan atau urusan. Pernahkan kita mendapati diri kita tiba-tiba dipaksa berfikir dan memecahkan masalah yang sangat rumit, complicated, di luar semua pengalaman kita?! Seperti hal nya berhadapan dengan situasi pandemi yang mengguncang seluruh sendi kehidupan di dunia?

 Untuk mendapatkan arti sebagai orang yang capable, bertanggung jawab dan dapat dipercaya, maka seorang leader harus menapaki selangkah demi selangkah proses menghadapi dan menyelesaikan semua masalah. Hadapi dan selesaikan sampai tuntas. Effective problem solving adalah salah satu atribut penting untuk membedakan pemimpin hebat dan berprestasi dengan pemimpin yang mempunyai kualitas biasa-biasa saja.

Sikap seorang manusia tangguh denganber tanggung jawab sebagai pemimpin adalah seseorang yang mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada di depannya. Bukan merencanakan urusan solusi ketika masalah tersebut belum eksis.

Lantas apakah kira-kira ada teknis yang tersedia bagi kita sebagai alat bantu untuk dipergunakan sebagai parameter memecahkan masalah dengan benar dan efektif?

Saya yakin ada!

Menjadi pemimpin berarti kita harus mempunyai pemahaman cara-cara teknis dan strategis dalam menyelesaikan masalah secara efektif saat, masalah muncul. Jabatan di manajemen atau kepemimpinan kualifikasinya tentulah ada pada mereka yang kompeten dan unggul dalam keterampilan teknis —yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan–. Bahkan untuk saya ada tambahan yaitu know your worth dan harus survive under pressure.

Banyak dari kita cenderung berpegang hanya pada apa yang kita ketahui dan sukai saja. Kita “enggan” menjelajahi pengalaman baru dan mengambil tindakan ketika kita sudah terpaksa berada di dalam kotak masalah. Ini adalah titik awal yang bagus untuk kita dapat keluar dari zona nyaman. Selain itu, kita dapat mengidentifikasi sesuatu yang kemungkinan besar dapat kita sempurnakan!

Secara teori tahapan-tahapan problem solving yang efektif yang bisa saya angkat adalah sebagai berikut:

  1. Meng-identifikasi permasalahan yang timbul – Bakal menjadi seperti apakah apabila permasalahannya kita selesaikan seperti yang kita inginkan?

Pertanyaan ini membantu kita menemukan standar baru sebagai tolok ukur posisi kita pada saat masalah terjadi.

  • Meng-analisa permasalahan  – Pada tahap manakah masalah yang terjadi? 

Ini membantu kita mengidentifikasi urgensi dari permasalahan. Pada umumnya ada tiga tahapan yaitu the emergent (baru mulai); the mature (sudah ada damage) dan the crisis (harus segera dilakukan tindakan koreksi).

  • Men-deskripsikan permasalahan – Kita harus bisa mendeskripsikan masalah yang terjadi secara tertulis. Cukup dengan maksimum 12 kata atau kurang. Ini adalah teknis asumsi, bahwa masalah yang terjadi bukanlah masalah ilmiah yang rumit. Dengan cara ini kita akan mendapat kejelasan terhadap masalah tersebut.
  • Mencari akar rumput permasalahan – pada tahap ini kita banyak melibatkan internal tanya-jawab—.  Ajukan pertanyaaan misalnya:

Siapa yang bertanggung jawab atas masalah ini?

Kapan masalah ini pertama kali muncul?

Mengapa ini bisa terjadi?

Bagaimana perbedaan dari standar sehingga ini terjadi?

Dimana poin yang akan paling menyakitkan bagi kita?

Bagaimana cara kita menyelesaikan masalah ini?

Juga, ajukan pertanyaan terpenting yaitu – Bisakah kita menggunakannya sebagai solusi permanen?. 

  • Mengembangkan solusi alternatif –  Semua masalah yang kita hadapi memiliki banyak solusi. Jadi, yang terbaik adalah menulis dan mengembangkan daftar solusi alternatif bersama tim kerja kita. Kemudian seleksi solusi yang dibahas berdasarkan efisiensi, biaya, nilai jangka panjang, sumber daya kita miliki. Baru kemudian kita masuk ke komitmen penyelesaian masalah.   
  • Meng-implementasikan solusi – Menjalankan solusi yang telah kita putuskan termasuk membuat cakupan rencana kerja/ action-plan implementasi-nya. Implementasi berarti bahwa setiap orang di dalam tim kita mengetahui dan memahami peran mereka untuk membuat solusi berfungsi. Kita perlu mempersiapkan jadwal untuk eksekusi, juga sistem monitoring untuk melacak apakah solusi yang diputuskan telah memperbaiki masalah atau perlu koreksi.  
  • Mengukur keberhasilan – Dari rencana implementasi kita pada langkah #6, kita perlu memastikan sistem monitoring untuk melacak hasil. Sehingga pada saat yang ditentukan,  kita dapat menjawab pertanyaan seperti:

Apakah berhasil?

Apakah ini solusi yang tepat dan bagus?

Apakah kita mempelajari sesuatu di sini dalam implementasi yang dikemudian hari dapat kita terapkan pada potensi masalah lainnya?  

Pada triwulan pertama tahun 2021 ini, kita semua masih pada fase the pain dari kepergok pager suru pandemic COVID-19. Penanganan permasalahan COVID-19 masuk ke poin #6 dengan implementasi vaksinasi bertahap. Pemimpin dan penduduk dunia menjadi first timer dari pandemi ini. Terombang-ambing selama satu tahun dan bisa dipastikan akan lebih lama lagi.

Kita, penduduk, warga negara dunia era gen 4.0 sekarang ini adalah generasi yang teruji. Kita berada dalam badai yang sama dengan perahu berbeda-beda –sesuai profesi, dunia usaha yang digeluti– menghadapi tekanan internal dan eksternal.

Apakah yang mampu melampaui masa sulit ini, akan mampu menjadi leader?

Sama dengan trust – percaya, menjadi leader — pemimpin adalah pilihan. Dan , jika menjadi leader adalah pilihan Anda, maka jadilah leader yang bisa dipercaya dengan penuh respek oleh pengikutnya.

 Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku

Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali, Telu Learning Consulting, Copywriter, Jasa Konsultan Hotel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.