Laris Manis Bir Pletok Renny Djajoesman.

0
17

Lady Rocker Renny Djajoesman memperkenalkan minuman Bir Pletok yang dijual di Warung’e Renny, di samping mpek-mpek dan tekwan andalannya.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Lady Rocker Renny Djajoesman, didapuk sobat-sobat lamanya dari Komunitas Seni Bulungan (KSB) untuk menyutradarai drama “Ayahku Pulang” (karya adaptasi Usmar Ismail) yang digelar oleh Teater Bulungan – kelompok pertama yang berkegiatan di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (GRJS).

Namun apa daya saat melatih, bahkan dua hari menjelang pementasan pada Sabtu 29 Februari 2020 lalu, nyaris semua pemain yang rata-rata berusia di atas ‘kepala lima’, mendadak mengalami gangguan pada tenggorokan.

Suara mereka mendadak pecah atau serak saat mengucap dialog, dan artikulasi dalam mengucap kata sering menjadi tidak jelas. Intinya: para pemain terserang radang tenggorokan. 

Gawat, bagaimana mau naik panggung dengan suara berantakan seperti ini? Mereka harus ke dokter atau cari obat yang cespleng buat memulihkannya. Seorang teman usul para pemain minum Wedhang Jahe agar tenggorokan lancar kembali. 

Saya ingat Emak, yang dulu biasa membuat Bir Pletok tiap kalo ada diantara kami, anak cucu-cucunya sakit batuk atau badan meriang.Di rumah, masing-masing teman sibuk menyiapkan jahe untuk bahan wedhang.

Sementara yang lain juga mengontak budayawan Yahya Andi Saputra dari Lembaga Kebudayaan Betawi, bertanya dimana bisa beli-antar Bir Pletok.

Tapi Renny bertindak cepat. Tak usah repot beli-beli. Bir Pletok sudah tersedia, siap diboyong ke tempat latihan,” posting Renny di WA-Group. Berkat Bir Pletok botolan dari Renny, semua pemain merasa tenggorokannya jadi lebih  enak dan latihan pengucapan dialog kembali lancar. 

Tak ada lagi yang bersuara serak. Puncaknya di hari pertunjukan. Mereka semua bermain prima dan baik, sesuai harapan. Alhamdulillah, Bir Pletok lumayan cespleng mengatasi radang tenggorokan yang mengganggu teman-teman kami.

Warisan Budaya Tak-Benda

Kata orang, tradisi lisan melahirkan perilaku hidup yang lantas menghasilkan warisan budaya, baik yang berbentuk benda nyata (tangible) ataupun berupa nilai-nilai atau tak-benda (intangible) atau yang popular dengan istilah Warisan Budaya Tak-Benda (WBTB). 

Contoh WBTB yang hidup di tengah masyarakat adalah pengetahuan gastronomi atau seni masak-memasak, yang awam sering sering menyebutnya: kuliner. 

Masyarakat budaya Betawi punya banyak kuliner khas, yang sebagian sudah diakui sebagai bagian dari WBTB Indonesia, bahkan jadi Ikon Kota Jakarta. Satu di antaranya adalah minuman sehat Bir Pletok, produk Renny Djajoesman untuk “mengobati dan memperbaiki” suara para pemain drama Ayahku Pulang yang disutradarainya, hingga bisa balik bermain prima.

Ternyata Bir Pletok adalah salah satu minuman andalan yang ditawarkan Warung’e Renny, usaha kuliner yang dibuat lady rocker itu di halaman rumahnya yang luas di kawasan Kavling Polri, Ragunan, Jakarta

Bir Pletok kini memang makin popular, Ia tak cuma disajikan di hajat nikah ataupun keramaian penganten sunat, tapi juga pada perayaan-perayaan resmi di Istana Negara. Pembuatnya pun kian banyak, dengan penyajian yang kian representative. 

Kini ada produk yang sudah dibotolkan dengan label-lebel cantik, dikemas dalam kantong yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh saat hendak terbang balik ke rumah. Meski menyandang kata ‘bir’ tapi sana sekali tidak mengandung alkohol. 

Minuman ini awalnya diracik lantaran dahulu banyak orang Betawi yang melihat kebiasaan bangsa Barat (orang Betawi menggeneralisasikannya sebagai orang Belanda) di Batavia, yang tiap pesta selalu mengonsumsi wine atau berjenis minuman beralkohol lain yang (lagi-lagi) orang Betawi cenderung menyamaratakannya dengan sebutan ‘bir’.

Konon, beberapa pemuka dalam masyarakat Betawi, ingin juga punya pesta atau hajatan yang juga menyajikan minuman berkelas seperti bir, tapi yang tidak mengandung alkohol, dan tidak memabukan, karena itu terlarang dalam Islam, agama yang dianut oleh umumnya orang Betawi. 

Dari pemikiran itu lantas lahir sebutan  Bir Pletok yang seutuhnya diracik dari rempah-rempah, minuman yang menghangatkan badan tapi tidak memabukkan. Kata ‘pletok’ sendiri diambil dari bunyi ‘pletok’ saat orang Belanda membuka tutup botol wine. 

Penggabungan kata bir dan pletok lantas menjadi nama dari racikan minuman herbal berkhasiat obat tersebut. Antara lain untuk memperlancar peredaran darah, mengatasi nyeri lambung, memulihkan radang sendi mengobati migran, menghangatkan badan dan untuk obat radang tenggorokan yang bikin suara serak. 

Minuman ini aman dikonsumsi anak-anak, penyajiannya sesuai selera. Banyak mengandung jahe (jenis aprosidiac food yang mampu meningkatkan stamina tubuh). Bir Pletok bisa menjadi minuman ( wedhang) hangat malam hari. 

Tapi ketika budaya es batu mulai tiba di Jakarta, apalagi di zaman kulkas sekarang ini, Bir Pletok juga bisa disajikan sebagai minuman dingin yang segar di saat udara panas menyengat.

Rasanya terbilang unik ada manis, hangat dan sedikit pedas tapi aromanya semerbak wangi. Ini karena Bir Pletok dibuat dari berbagai bahan tumbuhan berkhasiat obat seperti: Jahe Emprit dan Jahe Merah,  Sereh, Lada Hitam, Kapulaga, Pala, Cengkeh, Cabe Jawa, Kulit Kayu Manis, Pandanwangi, Daun Jeruk, Kunyit dan Temulawak. Sebagai pemanis, biasa digunakan Gula Aren dan Gula Batu. 

 Satu hal yang membedakannya dengan Wedhang Jahe, Bir Pletok dicampuri irisan Kayu Secang atau Sepang (Caesalpina sappan L.) hingga menghasilkan air godogan berwarna merah “Mirip bir atau ragam jenis minuman yang biasa diteguk orang Belanda tempo doeloe kalau pesta,” ungkap sejarawan JJ Rizal, sekali waktu.

Hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan bahwa persentase etnik terbanyak di Depok adalah Betawi yaitu sebanyak hampir 37 persen. Sehingga budaya Betawi lebih kental dibanding Sunda, meski Depok berlokasi di Jawa Barat.

Jaman Belanda dulu, orang -orang Betawi memang banyak yang menyingkir ke kawasan Depok dan bekerja untuk tuan tanah Belanda di daerah itu. Keturunannya dikenal dengan sebutan Belanda Depok.

Kini di kawasan Jalan Pemuda, Depok Lama masih ada keturunan marga yang dulunya dibesarkan dengan tradisi Belanda tetap melestarikan kuliner termasuk Bir Pletok.

Alhasil, menu minuman Bir Pletok di Warung’e Renny, bukan hanya menyehatkan tapi juga melestarikan minuman  khas Betawi itu yang sampai saat ini masih bisa ditemukan di kawasan Depok merupakan daerah penyangga Jakarta yang kini berkembang pesat.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.