Paviliun Indonesia di Sarajevo Halal Expo 2025 banyak mendapat perhatian pengunjung. ( Foti: IHLC/ Bobby)
IHLC Disponsori DEKS Bank Indonesia dan Wardah serta didukung Kementerian Luar Negeri dan KBRI di Sarajevo, Gaungkan Produk Halal Indonesia ke Eropa Timur.
SARAJEVO, Bosnia, bisniswisata.co.id: Di tengah semangat kolaborasi lintas budaya dan perdagangan, Indonesia kembali memperkuat posisinya sebagai pelaku utama industri halal global dengan kehadiran di Sarajevo Halal Expo 2025. Gelaran berskala internasional ini resmi dibuka 17 Juni di Skenderija Center, Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina.
Mengusung tema “For Halal, East and West Meet in Sarajevo”, ajang ini menjadi jembatan strategis antara dunia Islam dan pasar Eropa. Indonesia hadir melalui sinergi dari :
• Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC),
• Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia,
• serta Paragon (Wardah dan Kahf), pelopor kosmetik halal nasional.
• Dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sarajevo
*Misi Diplomasi Halal dari Tanah Air*
IHLC, bersama Bank Indonesia melalui program IKRA (Industri Kreatif Syariah Indonesia), memboyong lima UKM unggulan ke Sarajevo: Kultiva, Acaraki, Izzani, Cokelatin, dan Ecovivo. Kelima brand ini membawa semangat inovasi, keberlanjutan, dan kesiapan ekspor.
Turut memperkuat delegasi Indonesia adalah dua UKM asal Padang, Sumatera Barat: *Emiarlin,yang menghadirkan modest fashion dengan sentuhan budaya Minang, serta *Rendang Mamaden , rendang siap saji dengan cita rasa otentik khas Indonesia.
“Kehadiran kami di Sarajevo adalah bukti bahwa UKM halal Indonesia mampu bersaing di pasar global. Paviliun Indonesia tidak hanya membawa produk, tapi juga membawa nilai, cerita, dan identitas budaya,” ujar Sapta Nirwandar, Chairman IHLC yang juga Wakil Menteri Pariwisata 2011-2014.
Opening Ceremony dibuka secara resmi oleh tokoh-tokoh penting Bosnia dan komunitas internasional, termasuk Mr. Ihsan Ovut (Sekjen SMIIC – OIC) dan Rezk Namoura (Duta Besar Palestina di Bosnia, sekaligus Dean of Diplomatic Corps).
Acara dilanjutkan dengan kunjungan para tamu VIP ke area pameran, termasuk Paviliun Indonesia yang langsung menjadi magnet pengunjung.
Mohammed Sherbi, CEO Rekaz Sarajevo selaku penyelenggara, menyatakan “Bosnia adalah titik temu antara Timur dan Barat. Halal Expo ini bukan sekadar pameran, tapi panggung strategis untuk membangun kemitraan halal lintas benua. Kami sangat bangga Indonesia hadir sebagai mitra strategis yang aktif.” kata Sherbi.
Sejarah yang Menyatukan
Hubungan Indonesia dan Bosnia memiliki akar emosional yang kuat sejak konflik kemanusiaan 1990-an. Dukungan rakyat Indonesia terhadap kemerdekaan dan pemulihan Bosnia menjalin ikatan solidaritas antar umat dan bangsa. Kini, kerja sama itu bertransformasi ke arah diplomasi ekonomi melalui industri halal yang berkembang pesat.
“Indonesia bukan sekadar tamu di Sarajevo Halal Expo. Mereka adalah mitra sejati kami. Dengan jaringan dan semangat kolaboratif, kami melihat potensi luar biasa dari UKM Indonesia untuk tumbuh di pasar Adria Region.” Kata Mohammed Sherbi
Dukungan KBRI: Sinergi Diplomasi & Ekonomi
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sarajevo memainkan peran penting, mendampingi delegasi dari tahap awal, termasuk koordinasi logistik dan komunikasi dengan pihak lokal.
Dalam kunjungannya ke Pavilion Indonesia,
Duta Besar RI untuk Bosnia dan Herzegovina, Manahan M.P. Sitompul, menyampaikan bahwa partisipasi Indonesia di Sarajevo Halal Expo adalah wujud nyata diplomasi ekonomi berbasis nilai.
“Kami tidak hanya mengenalkan produk, tetapi juga membangun kepercayaan, jejaring strategis, dan mempererat hubungan antara Indonesia dan Bosnia yang sudah terjalin sejak lama.” ungkap Manahan M.P. Sitompul.
Dia menambahkan bahwa partisipasi ini mencerminkan wajah Indonesia modern — progresif, kreatif, dan berdaya saing global di sektor halal.
Bosnia dan Kawasan Adria: Pasar Potensial yang Siap Disapa
Adria Region (Balkan Barat) — yang meliputi Bosnia, Serbia, Kroasia, dan sekitarnya — memiliki lebih dari 6 juta konsumen Muslim dan potensi pasar halal makanan & kosmetik senilai €15 miliar, dengan impor mencapai lebih dari €10 miliar per tahun. Sayangnya, supply halal lokal masih sangat terbatas.
Di sinilah Indonesia memiliki peluang emas untuk masuk dan tumbuh.Dengan semangat kolaborasi, keberagaman, dan nilai halal yang universal, Indonesia hadir di Sarajevo bukan hanya untuk menjual produk — tapi untuk membangun hubungan jangka panjang, menanam kepercayaan, dan membuka pintu ekspor ke pasar baru.
“Kami hadir tidak hanya untuk menjual produk, tapi juga untuk membangun jejaring, mengenalkan nilai, dan membuka pasar baru yang potensial. Sarajevo adalah gerbang masuk strategis ke Eropa Timur dan kawasan Balkan.” kata Sapta









