Gunung Slamet Waspada, Jalur Wisata Pendakian Ditutup

0
15
Gunung Slamet erupsi (Foto: IDNTimes.com)

PURWOKERTO, bisniswisata.co.id: Jalur wisata pendakian Gunung Slamet via jalur Bambangan, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, kembali ditutup menyusul kenaikan status gunung setinggi 3.428 meter dpl yang merupakan gunung berapi kerucut ini, dari normal menjadi waspada, pada Jumat (9/8/2019).

“Penutupan ini merespon informasi dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang menaikkan status Gunung Slamet dari status normal menjadi waspada,” kata Manajer Bisnis Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur Sugito Sugito, Jumat (9/8).

Dilanjutkan, penutupan juga dilakukan di dua jalur pendakian lain yang dikelola Perhutani. Masing-masing jalur Gunung Malang, Kabupaten Purbalingga dan jalur Baturraden, Kabupaten Banyumas. Pos pendakian tersebut telah ditutup mulai pukul 11.00 WIB.

Sugito mengatakan penutupan tersebut hanya berselang satu hari setelah jalur pendakian dibuka kembali, Kamis (8/8/2019). Jalur pendakian sempat ditutup sejak (22/7/2019) untuk pembersihan jalur dan pemulihan ekosistem.

Menurut siaran pers PVMBG, Jumat (9/8) berdasarkan dari data pemantauan instrumental yang dilakukan sejak Juni 2019, terjadi peningkatan aktivitas vulkanik yang cukup signifikan. Untuk itu, PVMBG menilai perlunya antisipasi terhadap potensi erupsi Gunung Slamet.

PVMBG menaikkan status Gunung Slamet dari Level I (normal) menjadi Level II (waspada) terhitung sejak Jumat (9/8/2019) pukul 09.00 WIB “Pengamatan visual ke arah puncak G. Slamet sejak Juni 2019 hingga 8 Agustus 2019, umumnya teramati dengan baik. Asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal teramati dengan maksimum ketinggian 300 m dari atas puncak,” tulis PVMBg dalam siaran pers.

Pengamatan visual ini dilakukan di Pos Pantau Gunung Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Tak hanya terlihat asap kawah, PVMBG juga mencatat adanya aktivitas kegempaan yang terjadi akibat aktivitas vulkanik Gunung Slamet.

“Rekaman kegempaan dalam periode yang sama didominasi oleh gempa Hembusan dan Tektonik. Selama Juni hingga 8 Agustus 2019 telah tercatat 51.511 kali gempa hembusan, 5 kali gempa tektonik local dan 17 kali gempa tektonik,” kata PVMBG.

“Selain gempa-gempa tersebut, pada akhir Juli 2019 mulai terekam getaran Tremor dengan amplitudo maksimum 0.5 – 2 mm. Getaran Tremor ini masih terjadi hingga saat pelaporan. Energi kegempaan terdeteksi meningkat, secara gradual,” sambungnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas Ariono melarang aktivitas manusia dalam radius 2 km dari kawah Gunung Slamet. “Yang harus hati-hati pendakian, dan pengosongan area radius 2 km dari kawah karena dampak hembusan dari kawah itu sendiri, bukan material, tapi hembusan angin dari kawah,” ujar Ariono.

Gunung Takuban Parahu

Sementara kondisi Gunung Takuban Parahu, dalam dua pekan berlalu sejak erupsi yang terjadi pertama kali pada Jumat (26/7) lalu, Gunung Tangkuban Perahu hingga saat ini masih terus menerus melakukan erupsi. Status aktivitas gunung pun masih berada di level II yaitu waspada.

Gunung Tangkuban Perahu erupsi terjadi pada Jumat (26/7). Rentang satu pekan kemudian, kembali erupsi pada Kamis (1/8) dan Jumat (2/8) hingga saat ini. Status aktivitas gunung yang sempat berada di level I alias normal kini meningkat menjadi level II.

“Status Tangkuban masih waspada. Pada pukul 10.36 WIB, asap putih tebal dengan ketinggian 180 meter dan tinggi kolam abu sekitar 80 m dari dasar kawah,” ujar Hendra Gunawan, Kepala Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Geologi (PVMBG) saat dihubungi, Jumat (9/8).

Selain erupsi terus menerus, dia mengungkapkan jika Gunung Tangkuban Perahu terus mengalami tremor. Dengan amplitudo yang terekam 30-50 mm dominan 50 mm.

Hingga saat ini, menurutnya rekomendasi yang dikeluarkan PVMBG adalah tetap sama yaitu masyarakat di sekitar Tangkuban Perahu dan pengunjung serta pendaki tidak mendekati kawah di puncak dalam radius 1,5 kilometer. Serta direkomendasikan kawasan ditutup sementara hingga jarak aman.

Hendra mengimbau agar masyarakat di sekitar gunung Tangkuban Perahu diharap tenang dan beraktivitas seperti biasa serta tidak terpancing isu-isu tentang letusan Gunung Tangkuban Perahu dan diharapkan selalu mengikuti arahan BPBD setempat. “Masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar gunung untuk selalu waspada dan tetap memperhatikan perkembangan,” katanya. (redaksi@bisniswisata.co.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here