Dua Candi Muaro Jambi Dipugar, Tak Ganggu Kunjungan Wisatawan

0
129
Candi Muaro Jambi dikunjungi wisatawan (Foto: sportourism.id)

JAMBI, bisniswisata.co.id: Candi Kedaton dan Candi Gumpung, dua bangunan peninggalan sejarah di kompleks percandian Muaro Jambi, Kabupaten Muaro Jambi rencananya akan dipugar. Pemugaran candi secara bertahap ini, tidak akan menganggu kunjungan wisatawan. Para pelancong masih bisa menikmati bangunan zaman kuno tanpa terganggu aktifitas pemugaran.

“Pemugaran Candi Kedaton dan Candi Gumpung dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan. Pemugaran dilakukan tahun ini, dan wisatawan dapat menikmati candi lainnya yang ada kompleks percandian Muaro Jambi,” papar Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, Iskandar di Jambi, Jumat kemarin.

Dijelaskan, Candi Kedaton areanya paling luas dibandingkan dengan candi lain di kompleks percandian Muaro Jambi. Beberapa bagian candi masih berupa batu-batu bata berserak. “BPCB akan memperbaikinya berdasarkan perkiraan bentuk bangunan candi,” jelasnya seperti dilansir Antara, Sabtu (06/04/2019).

Kompleks candi yang meliputi peninggalan makara, padmasana, arga gajah dan belanga perunggu itu pernah dipugar tahun 2010 hingga 2011. Sementara Candi Gumpung berada paling dekat dengan pintu masuk kompleks percandian Muaro Jambi.

“Semua candi di kawasan percandian tersebut dibangun dari batu bata, dan berada di area berbentuk persegi empat yang berpagar. Percandian Muaro Jambi luasnya 3.981 hektare dan merupakan kompleks percandian terluas di Indonesia,” ungkapnya.

Ada sembilan candi di kompleks itu, yakni Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano. Candi ke candi lain dihubungkan dengan jalan beton yang bisa dilalui pejalan kaki, sepeda maupun becak motor. Beberapa candi di kompleks itu masih berbentuk gundukan atau tumpukan batu bata. “Namun secara umum telah dipetakan dan dipagari,” sambungnya.

Untuk menuju komplek Candi Muarojambi hanya dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dari pusat Kota Jambi. Di tengah perjalanan, wisatawan akan disuguhi eloknya aliran sungai terpanjang di Sumatera, sungai Batanghari. Belum lagi deretan rumah tradisional khas Melayu Jambi hingga rimbunnya pepohonan buah khas Jambi, durian dan duku.

Bila beruntung, saat musim buah tiba, wisatawan bisa menikmati manisnya durian dan duku langsung dari pohonnya. Biasanya musim durian dan duku beriringan waktu antara bulan Desember hingga Maret setiap tahunnya.

Menurut catatan sejarah, Candi Muarojambi adalah sebuah komplek percandian Hindu-Buddha. Tentang sejarah candi ini masih diselimuti perdebatan. Kemungkinan besar Candi Muarojambi merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu.

Candi Muarojambi diperkirakan berasal dari abad ke-11 Masehi. Komplek percandian ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1824 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Baru pada 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin R. Soekmono.

Pakar epigrafi, Boechari menyimpulkan peninggalan di Candi Muarojambi berkisar dari abad ke-9-12 Masehi. Di situs ini sudah sembilan bangunan telah dipugar, semuanya bercorak Buddhisme. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.

Beberapa arkeolog juga menyimpulkan, komplek Candi Muarojambi dahulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Ada manik-manik yang berasal dari Persia, China, dan India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan ditemukannya lempeng-lempeng bertuliskan “wajra” pada beberapa candi yang membentuk mandala.

Sebelum ini, Svarnadvipa Institute bersama sejumlah lembaga lain seperti Dewan Kesenian Jambi (DKJ), Sekolah Alam Muarajambi (Saramuja), Komunitas Seni Inner Jambi, Jambi Corps Grinder, Dwarapalamuja, Jambi Guitar Community dan kelompok masyarakat peduli Candi Muarojambi lainnya, pernah membuat petisi untuk pelestarian situs percandian Muarojambi. (NDY)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.