DAERAH NEWS

Deni Izra: RI Perlu Miliki Identitas Negara Tujuan Wisata Halal Dunia

Deni Izra ( kiri) dalam kunjungan ke Lembah Jamison, Australia. ( Foto: dok. pribadi).

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, Indonesia harus punya identitas sebagai tujuan wisata halal dunia, kata Deni Izra, praktisi dan pengamat industri pariwisata.

“Bagi mereka yang selama ini menghambat pengembangan pariwisata halal dan tinggal di Indonesia agar memahami bahwa mereka tinggal di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia,” katanya.

Secara nasional, proporsi penduduk muslim di Indonesia sebesar 87,2 persen dari total populasi penduduk di Tanah Air. Persentase itu setara dengan 227 juta jiwa.

Oleh karena itu, Pemerintah harus tegas dan membuka selebar-lebarnya untuk pengembangan pariwisata halal di tanah air lewat literasi halal yang gencar dan punya identitas sebagai Friendly Muslim Country dan tujuan wisata halal dunia, ungkap Deni Izra.

Halal tourism itu bukan mau mengIslamkan non Muslim, tapi pelayanan karena di dunia ini traveler Muslim membutuhkan fasilitas dan pelayanan untuk menjalankan perintah agamanya dimanapun mereka berada seperti sholat, makanan halal dan lainnya,” jelasnya.

Oleh karena itu kalau ada Pemprov dan daerah lainnya tidak mau membuka selebar-lebarnya untuk pengembangan wisata halal di Indonesia maka menjadi penghambat bagi daerahnya sendiri untuk mendapat kunjungan wisatawan mancanegara.

Kini Indonesia dalam hal kunjungan wisman saja sudah kalah dari negara-negara tetangganya seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan China bahkan kini sudah disalip oleh Vietnam dalam hal kunjungan wisman maupun pengembangan wisatanya, ungkap pemilik Villa Eco Resot Cisarua ini.

“Wanita Muslimah memakai jilbab karena keyakinannya untuk menutup aurat dan tidak mengganggu siapapun karena untuk dirinya sendiri. Begitu juga untuk pengembangan halal tourism lebih membuka luas RI bagi wisman dari sesama negara Muslim. Sama sekali tidak mengganggu pemerintah daerah yang meyoritas penduduknya non Muslim.

Sama analoginya dengan Bali jika menyediakan amenities untuk kebutuhan umat Islam maka yang memanfaatkan juga umat Muslim, kata Deni Izra, pakar hospitality dan pemilik franchise Indonesia untuk jaringan hotel Continent dari Turki ini.

Keunggulan RI banyak selain alam dan budaya yang unik serta berbagai fasilitas kelas premium. Tetapi kelemahannya juga banyak karena tidak memberikan hak pada umat Islam untuk membuka dan mengelola halal tourism seluas-seluasnya.

” Potensi halal tourism Indonesia sangat besar, saya tidak akan mengomentari daerah yang alergi terhadap halal tourism karena saya juga tidak akan mengomentari club bikini di pantai Kuta, Bali karena semua ada kebutuhannya masing-masing dan halal tourism juga begitu,”

Keinginannya untuk berkontribusi bagi pengembangan halal tourism di Indonesia akan diwujudkan dengan membangun Halal Lifestyle Center di kawasan Pasar Minggu, Jakarta di atas tanah milik Yayasan Persatuan Kaum Ibu seluas satu hektar.

” Insya Allah kami lagi cari investor untuk membangun mall, hotel dan apartement sebagai kawasan Halal lifestyle Center di ibukota negri. Non Muslim juga boleh memanfaatkan fasilitas karena halal itu universal,”

Perjalanan ramah Muslim tahun 2023 diproyeksikan US$ 195 milyar dan belanja konsumen Muslim dengan CAGR 37,5% diharapkan terjadi di periode 2020 -2024. ” Jangan lupa kebutuhan traveler Muslim di seluruh dunia termasuk Indonesia selalu ada,” kata Deni Izra. 

 

Hilda Ansariah Sabri

Hilda Ansariah Sabri, Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers. Saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat ( 2018-2023)