NEWS

Calon Turis Kecewa Selandia Baru Tetap Tertutup untuk Turis Sampai Warganya di Vaksinasi.

WELLINGTON, bisniswisata.co.id:                Keputusan Pemerintah Selandia Baru yang tidak akan membuka pintu bagi wisatawan asing hingga warganya di vaksinasi dan dilindungi dari penyebaran virus COVID-19 cukup membuat calon turis kecewa dengan keputusan Perdana Menteri Jacinda Ardern.

Selain New Zealand menjadi tujuan destinasi wisata yang dianjurkan oleh Badan Pariwisata Dunia (UNWTO) dengan keindahan alam dan banyaknya tempat terbuka yang cocok di era COVID-19, keramahtamahan dan kejujuran warganya sangat memukau wisatawan.

Meskipun berhasil meratakan kurva pandemi, PM Jacinda Ardern dilansir dari The Guardian pada akhir Januari 2021 lalu sudah mengumumkan lewat jumpa pers bahwa tidak akan membuka kembali perbatasan negara yang telah ditutup sejak pertengahan Maret 2020.

Pihaknya kemungkinan akan menutup perbatasannya dengan dunia selama sebagian besar tahun 2021 di tengah ketidakpastian peluncuran vaksin COVID-19. Sementara pengiriman vaksinasi pertama akan tiba di New Zealand dalam kuartal pertama 2021, populasi umum kemungkinan tidak akan memulai proses sampai pertengahan tahun.

“Kami memperkirakan perbatasan kami akan terpengaruh hampir sepanjang tahun ini dan kami akan terus mengejar gelembung perjalanan dengan Australia dan Pasifik, tetapi seluruh dunia hanya menimbulkan risiko yang terlalu besar bagi kesehatan dan ekonomi kami untuk mengambil risiko pada tahap ini.” kata PM Jacinda Ardern.

Keberhasilan Selandia Baru dalam memerangi virus telah memungkinkannya untuk mencabut pembatasan dan membuat ekonominya bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan semula, tetapi perbatasan yang tertutup itu menghancurkan industri pariwisatanya.

Jacinta  Ardern mengatakan imunisasi massal tidak akan dimulai sampai pertengahan tahun ini  dan dia mengambil pendekatan “konservatif” untuk membiarkan orang asing masuk lagi ke negara itu.

“Agar perjalanan dimulai kembali, kami memerlukan satu dari dua hal. Kami membutuhkan keyakinan bahwa dengan divaksinasi berarti Anda tidak menularkan virus itu kepada orang lain,”.

Perjalanan sepanjang 1800 KM menjelajah New Zealand dengan mobil camping RV.

Bagi Emron Pangkapi, salah satu dari calon turis dari Indonesia yang rajin berkunjung ke New Zealand, keputusan PM Jacinda Ardern kembali menutup peluangnya untuk kembali ke negara itu.

” Kami berkunjung dua tahun berturut-turut untuk liburan pada 1-12 Juli 2018 lalu kembali pada Oktober 2019. Tadinya rencananya juga mau balik tahun 2020 tapi pandemi global COVID-19 melanda,” kata mantan Wakil Ketua Umum Partai PPP.

Untuk perjalanan darat menyetir sendiri terasa nyaman. Turis bisa menggunakan SIM Internasional atau melegalisir  SIM dari negara asalnya dengan mudah. 

Penggemar traveling ini sudah menjelajahi dari pulau paling Selatan ke Utara sepanjang 1800 km dan dari ibukota Wellington ke Picton yang paling disukainya adalah ketika mobil harus masuk ke dalam kapal ferry namun harga tiketnya semua sudah terintegrasi.

” Seperti naik kapal Ferry Merak-Bakauhuni, nah Ferry di NZ meski kita ambil karcis kelas ekonomi tapi fasilitasnya nyaman karena itulah perjalanan menyusuri negeri Kiwi itu menyenangkan karena fasilitasnya seperti kapal pesiar,” ungkap Emron.

Tren jalan-jalan dan berkemah dengan mobil, sedang naik daun di Indonesia dan diseluruh dunia. Mobil yang digunakan untuk aktivitas tersebut, yaitu Recreational Vehicle (RV) dan camper van.

Pengalaman menjelajah kota-kota di New zealand bersama istri dan dua anak itulah yang selalu ingin diulang apalagi sewa mobil jauh lebih murah, bisa menginap di dalam mobil tinggal parkir di taman-taman nasionalnya yang indah.

” Seluruh kota punya obyek wisata dan kita bebas parkir mobil RV atau mobil camping itu dan sudah tersedia juga kebutuhan air, tempat panggang-memanggang dengan gasnya dan fasilitas lainnya gratis di area parkiran,”

Menurut Emron tempat parkir yang harus bayar adalah di kota dan di mall sedangkan di obyek wisata alamnya mulai dari pintu masuk sampai penggunaan fasilitasnya adalah gratis baik buat wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Suku asli Maori maupun penduduk kulit putihnya semua berperilaku sopan,  banyak tersenyum dan jujur. Barang kita yang ketinggalan di cafe atau dimanapun ketika kita kembali mencarinya masih utuh ” katanya kagum. Itulah sebabnya turis Indonesia harus banyak belajar saat berwisata di New Zealand.

Politisi senior yang juga mantan wartawan serta tokoh adat di provinsi Bangka Belitung ini menyayangkan masih adanya pembatasan bagi warga asing datang ke negara teraman dan nyaman di dunia itu. ” Sabar menanti hingga seluruh dunia kemnali terbebas dari syiar,”

Apalagi Selandia Baru telah dipuji karena tindakan cepat dan ketatnya dalam mengendalikan penyebaran COVID-19 sejak dini, dengan total 2.295 kasus dan 25 kematian di negara berpenduduk lima juta sejak dimulainya pandemi tahun lalu.

 

Hilda Ansariah Sabri

Hilda Ansariah Sabri, Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers. Saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat ( 2018-2023)