Berkunjung ke Candi Cangkuang, Wisata Religi Islam Kental Tradisi Hindu

0
15

Reporter bisniswisata.co.id, Arum Suci Sekarwangi mendapat undangan Famtrip ke Kabupaten Garut, Jawa Barat dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Ekraf dari 28 –  30 Oktober 2020 bertepatan dengan libur bersama yang ditetapkan pemerintah berkaitan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Berikut laporan keduanya

GARUT, bisniswisata.co.id: Menikmati coffee break di atas rakit,  lanjut ke Kampung Pulo dan Candi Cangkuang, begitu bunyi program acara selanjutnya setelah  makan siang di Rancaekek. Membayangkan  ngopi di atas rakit saya jadi merem melek, soalnya ngopi di atas perahu di Pasar Kuin Banjarmasin dan di Sungai Chao Praya, Thailand sudah pernah dialami.

Tapi di atas rakit ? asyik juga kali ya ?.Senyumpun hilang karena tertidur dan bangun-bangun bis wisata yang kami tumpangi sudah sampai  di tujuan yaitu Candi Cangkuang, sebuah candi Hindu.

Tiba di Candi Cangkuang sekitar pukul 15.00 dan  untuk menuju ke Candi Cangkuang kita perlu menyebrangi Situ Cangkuang dulu dengan perahu semacam rakit panjang atau getek.  Bagitu masuk ke dalam dakit sudah disediakan kelapa muda ( degan ), jadi sebagian teman sibuk menyeruput air kelapa muda yang segar, sebagian lagi sibuk membidik kamera ke berbagai arah.

Letak Candi cangkuang sendiri terdapat di Kampung Pulo. Di sini  terdapat aturan yaitu hanya boleh terdapat 7 bangunan yang didirikan. Warga adat kampung Pulo sendiri merupakan keturunan asli dari Eyang Embah Dalem Arif Muhammad.

Konon Eyang Embah Dalem Arif Muhammad merupakan salah satu panglima perang Kerajaan Mataram yang ditugaskan untuk menyerang VOC. Namun karena kalah dan takut mendapat sanksi apabila pulang ke Mataram, Eyang Embah Dalem Arif Muhammad memutuskan untuk bersembunyi di Cangkuang.

Tujuh bangunan yang terdapat di Kampung Pulo sendiri diperuntukkan untuk keturunannya. Jadi terdapat 6 bangunan rumah yang diperuntukkan untuk 6 anak perempuannya dan 1 mushola yang diperuntukkan untuk anak laki laki satu satunya Eyang Embah Dalem yang meninggal saat akan disunat.

Candi Cangkuang sendiri ditemukan berjarak hanya 3 meter dari makam Eyang Embah Dalem. Untuk bisa sampai di Kampung Pulo,  setelah menyebrang  dengan rakit panjang tadi lalu  sedikit berjalan kaki untuk menemukan gerbang Kampung Pulo. Kedalaman air setu atau danau diperkirakan 1,5 meter. 

Kampung Pulo merupakan suatu perkampungan yang terdapat di tengah kawasan Candi Cangkuang. Lebih tepatnya, terletak di Desa Cangkuang, Kampung Cijakar, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Candi Cangkuang adalah Candi Hindu.

Kampung adat ini  masih terjaga nilai-nilai budaya dan adat istiadatnya. Masyarakat adat memiliki aturan dan gaya hidup yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya karena ada hukum yang mengikatnya yaitu hukum adat yang memelihara budaya dari leluhur mereka secara turun temurun.

 Suasana kampung ini begitu asri, senyap, bersih dan jauh dari hiruk pikuk kendaraan. Perjalanan menuju Candi Cangkuang pun melewati jalan dengan pemandangan sawah di bagian kanan dan kiri jalan. Suasana dan udara menuju Candi Cangkuang (Kampung Pulo) terasa sejuk.

Di Kampung Pulo ini terdapat fenomena akulturasi budaya yang unik yaitu masyarakat muslim setempat masih melaksanakan tradisi Hindu yang diwariskan secara turun temurun dalam berabad-abad. 

Walaupun seluruh masyarakat adat Kampung Pulo beragama Islam, namun mereka masih menjalankan tradisi-tradisi Hindu seperti upacara adat, memandikan benda pusaka, syukuran, dan ritual lainnya.

Candi ini menjadi satu-satunya candi Hindu yang pertama dan satu-satunya di tanah Sunda yang merupakan peninggalan Hindu Abad ke-8. Bangunan Candi berukuran 4,5×4 meter persegi dengan tinggi 8,5 meter. Diberi nama Candi Cangkuang karena candi ini terdapat di Desa Cangkuang. 

Tidak hanya itu, di desa ini terdapat pohong Cangkuang yang merupakan sejenis tanaman palem. Embah Dalem Arif Muhammad yang menyepi ke desa ini kemudian  menyebarkan Agama Islam. 

Sebelum beliau mendatangi Desa Cangkuang, penduduk sekitar telah memeluk kepercayaan animisme, dinamisme dan Hindu. Pada akhirnya beliau memutuskan untuk menetap di Cangkuang tepatnya di Kampung Pulo sampai akhir hayatnya. 

Ketika Embah Dalem Arif Muhammad wafat, beliau meninggalkan 6 orang anak perempuan dan satu orang anak laki-laki. Oleh karena itu, karena alasan inilah di Kampung Pulo terdapat 6 buah rumah adat yang berjejer saling berhadapan masing-masing 3 buah rumah di kiri dan di kanan (sebagai penanda keenam anak perempuan beliau) serta ada sebuah mesjid di pintu depan (sebagai penanda anak laki-laki beliau).

Konon penghuni Kampung Pulo tidak boleh lebih dari 6 kepala keluarga. Maka dari itu jika ada anak yang sudah menikah, maka paling lambat 2 minggu setelah itu harus keluar dari lingkungan keenam rumah tersebut. 

Aturan adat turun temurun ini sampai sekarang tetap dijalankan  dan rumah tersebut bisa ditempati oleh siapapun, baik itu ibu atau anaknya, hanya saja jumlahnya harus tetap yaitu 6 kepala keluarga saja. 

Jika ibu dan bapak yang menempati rumah tersebut meninggal dunia, anak yang sudah menempati rumah di tempat lain dapat kembali tinggal di Kampung Pulo untuk mengisi kekosongan itu. Mereka yang menempati Kampung Pulo bersedia untuk menjaga kelestarian tradisi adat Kampung Pulo.

Keunikan Kampung Pulo

Keunikan lain yang terdapat di Kampung Pulo yaitu masyarakatnya menggunakan sistem kekerabatan matrilineal dimana yang dapat menerima waris bukan laki-laki, melainkan perempuan. 

Dengan demikian yang berhak menguasai rumah-rumah adat adalah wanita dan diwariskan pula kepada anak perempuannya. Sedangkan bagi anak laki-laki yang sudah menikah harus meninggalkan kampung tersebut dalam dua minggu. 

Naik rskit panjang ke Kampung Pulo, kuncen menjelaskan penyebaran agama Islam dan Candi Cangkuang tempat ibadah agama Hindu. ( Foto-Foto: Arum Suci Sekarwangi).

Ketika anak laki-laki satu-satunya dari almarhum Eyang Embah Dalem meninggal dunia saat hendak disunat, peristiwanya adalah tertimpa gong besar.

Konon saat itu acara  dilengkapi dengan arak-arak sisingaan yang diiringi musik gamelan menggunakan gong besar. Namun, saat itu ada angin badai yang menimpa anak tersebut. Anak itu kemudian terjatuh dari tandu sehingga menyebabkan ia meninggal dunia. 

Anak laki-laki satu-satunya Arif Muhammad itu kemudian menjadi pembelajaran dan asal usul adanya beberapa tradisi di kampung Pulo. Beberapa adat dan tradisi itu diantaranya menetapkan beberapa aturan soal atap rumah yaitu atap rumah harus memanjang (jolopong), tidak boleh menabuh gong besar.

Keturunannya juga tidak diperkenankan untuk beternak binatang besar berkaki empat, tidak boleh datang ke makam keramat pada hari Rabu dan malam Rabu, tidak boleh menambah bangunan pokok, tidak boleh menambah kepala keluarga, dan tidak boleh mencari nafkah di luar wilayah desa. 

Soalnya menurut kepercayaan masyarakat setempat, apabila masyarakat melanggarnya maka akan timbul malapetaka bagi mereka.

Tidak diperkenankannya beternak hewan besar berkaki  seperti kambing, kerbau, dan sapi dikarenakan masyarakat Kampung Pulo mayoritas mencari nafkah dengan bertani dan berkebun, sehingga ditakutkan hewan tersebut merusak sawah juga kebun mereka. 

Selain bertani dan berkebun kini ada juga masyarakat Kampung Pulo yang mencari nafkah dengan berjualan. Selain itu juga, di daerah desa tersebut banyak terdapat makam keramat sehingga ditakutkan hewan-hewan tersebut dapat mengotori makam. 

Walaupun begitu, masyarakat disana masih diperbolehkan memakan atau menyembelih hewan besar berkaki empat dan diperbolehkan juga untuk beternak asalkan tidak di daerah Kampung Pulo, melainkan di daerah lainnya.

Sementara alasan soal larangan ziarah pada hari Rabu dan malam Rabu dikarenakan pada masa agama Hindu, hari terbaik menyembah patung adalah pada hari Rabu dan malam Rabu. Sementara masyarakat menyembah patung, almarhum Embah Dalem menggunakan hari tersebut untuk memperdalam ajaran agama Islam. 

Bahkan pada zaman dahulu, penduduk sekitar tidak diperkenankan bekerja berat. Begitu pula Embah Dalem Arif Muhammad pun tidak mau menerima tamu karena pada hari tersebut digunakan untuk mengajarkan agama.

Kini, Kampung Pulo dipimpin oleh sesepuh adat yang juga biasa disebut kuncen. Kuncen mengantar tamu yang berziarah ke makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad.  Kuncen inilah yang membimbing pula masyarakat agar tidak melangggar adat.

Candi Cangkuang

Pada intinya, kuncen memiliki tugas yang berhubungan dengan batu candi dan makam. Kuncen harus bisa meluruskan bahwa ziarah ke makam itu untuk mendoakan, dan bukan untuk meminta sesuatu apalagi dijaman Pilkada saat ini.

Candi ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan situs bersejarah. Wisatawan yang berkunjung akan dapat belajar mendalami potongan sejarah, ada-istiadat, sekaligus mengapresiasi keindahan alam.

Candi Cangkuang adalah candi yang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 masehi. Wujud utuhnya yang bisa dilihat oleh wisatawan pada saat ini bukanlah ornamen aslinya 100 persen. Lebih dari setengah bagian candi dibuat ulang demi menghasilkan konstruksi yang serupa dengan aslinya. Namun, hal ini tidak mengurangi kemegahan bentuk candi.

Fondasi candi berukuran 4,5 meter kali 4,5 meter, dan tinggi setelah pemugaran adalah 8,5 meter. Bagian dalam candi merupakan ruang untuk menyimpan Arca Syiwa. Petunjuk keberadaan arca ini ditulis dalam catatan arkeologi Belanda. 

Museum Situs Cangkuang

Banyak jejak peninggalan Dalem Arief yang masih bisa disaksikan sampai sekarang di Museum Situs Cangkuang. Masjid Kampung Pulo juga merupakan salah satu peninggalannya yang masih berdiri tegak. 

Museum Situs Cangkuang masih berlokasi di area yang sama dengan Candi Cangkuang. Museum kecil ini menyimpan berbagai hasil galian dan peninggalan penyebaran agama Islam di Cangkuang.

Di museum ini, pengunjung bisa menyaksikan kitab-kitab tulisan tangan Dalem Arief. Ada juga Al-Quran dan catatan khutbah Jumat yang seluruh dibuat di kulit kayu. Pengunjung yang ingin mengetahui sejarah mengenai menyebarnya agama Islam di Cangkuang bisa menyempatkan untuk berkunjung kemari.

Dipintu masuk museum tertera bahwa museum ini dibawah pembinaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia yang membawahi Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten yang wilayah kerjanya mencakup Banren, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Lampung.                     

Di hari-hari tertentu, warga Kampung Pulo akan mengadakan pencucian benda dan senjata pusaka yang ada di museum ini. Acara ini biasanya diadakan pada tengah malam, namun bisa disaksikan oleh masyarakat umum juga.

Saat berjalan menuju bis untuk check-in di Hotel Fave, Garut, saya masih takjub dengan cerita bagaimana pendekatan Eyang Embah Dalem Arif Muhammad pada masyarakat beragama Hindu pada masa hidupnya.

Wisata religi ini setidaknya membuat saya mampu memaknai kiprah Eyang menguatkan Islam adalah agama yang Rahmatan-lil-alamin,  salah satu karakter atau prinsip utama Islam sebagai agama yang merangkul atau mengayomi semua pihak dan dalam semua hal. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.