Becek, Kuliner Warisan Leluhur Ikon Grobogan

0
208
Becek, kuliner Gobogan

GROBOGAN, bisniswisata.co.id: Becek, kuliner tradisional yang tak asing lagi terdengar oleh telinga masyarakat Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Masakan berkuah asam yang mengandalkan olahan rendaman iga sapi sebagai senjata utamanya ini merupakan warisan leluhur yang telah menjadi ikon Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Dahulu kala, warga pedesaan di Kabupaten Grobogan meramu becek untuk disajikan sebagai hidangan khas saat ada hajatan rakyat saja. Seiring perkembangan dari masa ke masa, makanan berkuah segar yang begitu sedap menggoyang lidah itu mulai dikomersialkan. Saat ini cukup mudah menemukan sejumlah rumah makan yang menjajakan becek di wilayah Kabupaten Grobogan.

Kata dasar “becek” sendiri diartikan selayaknya jalanan yang berair dan berlumpur. Seperti halnya becek yang disajikan dengan kuah keruh yang membanjiri mangkuk. “Entah kapan nama becek itu mulai populer. Becek mulai dijual di warung-warung sekitar tahun 2000-an,” kata Sekda Kabupaten Grobogan, Moh Sumarsono seperti dilansir laman Kompas.com, Sabtu (02/02/2019).

Para pelaku usaha kuliner yang menggeluti santapan becek pada umumnya masih berupaya mempertahankan keaslian ramuan becek. Secara turun temurun resep nenek moyang itu terus dilestarikan. Bumbu-bumbu becek lazimnya sama, diantaranya bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, dan cabai. Dikombinasikan dengan daun kedondong dan daun dayakan untuk menciptakan rasa asam pada kuah.

Sayur becek dilengkapi iga sapi, dengan sisa daging yang masih melekat pada tulang. Sumsum pada tulang sapi yang dimasak bercampur kuah dengan suhu mendidih membuat cita rasa kaldu lebih berkarakter.

Salah satu warung makan spesial becek yang menjual cita rasa tradisional adalah warung makan “Yati Becek”. Rumah makan yang berlokasi di Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh, Grobogan ini beroperasi dari pagi hingga malam hari.

Meski letaknya jauh dari perkotaan, namun ramuan becek dari olahan tangan sang pemilik warung, Paryati (56), mampu menyedot pembeli dari berbagai kalangan masyarakat. Bahkan, rasa becek yang disajikan langsung oleh Paryati itu digemari oleh para pejabat. “Bupati terdahulu dan jajarannya sering jajan ke sini. Pejabat-pejabat banyak yang langganan becek saya. Becek ndeso tetapi idola para pejabat,” kata Bu Yati sapaannya.

Menurut Yati, ia mulai menggeluti bisnis kuliner becek iga sapi sekitar 27 tahun yang lalu. Semula, Yati yang hobi memasak itu berburu resep kuno becek ke pelosok-pelosok desa di wilayah Kabupaten Grobogan.

Setelah fasih mempelajari seluk beluk becek dari berbagai macam referensi, Yati pun akhirnya memutuskan membuka bisnis kuliner khusus becek iga sapi di depan rumahnya. “Resepnya sama dengan becek-becek lainnya. Hanya saja saya punya resep rahasia yang bisa menambah kenikmatan kuah becek. Iga sapi juga saya rendam dengan bumbu khusus yang menambah nendang rasa dagingnya. Ini resep kuno yang saya peroleh dari desa ke desa dan ini rahasia,” kata ibu tiga anak itu.

Tak Pelit Bumbu

Sepintas sajian becek iga sapi buatan Yati tidak berbeda jauh dengan becek-becek yang lain. Hanya saja, dari segi kualitas rasa, becek iga sapi milik Yati tak bisa diremehkan. Becek iga sapinya berkarakter kuat karena tidak pelit bumbu.

Kenikmatan becek iga sapinya langsung terasa saat pertama kali kita mencicipi kuahnya. Kuah rebusan iga sapi bercampur dengan asam pedasnya resep kuno becek begitu memikat. Susah menghentikan nafsu untuk menyeruput berkali-kali kuah beceknya yang segarnya sangat memanjakan lidah.

Selain kuahnya yang aduhai, tebalnya daging sapi yang melekat pada tulang itu begitu mulus mengelupas saat bersentuhan dengan bibir.
Iga sapi dalam becek Bu Yati, dagingnya lebih tebal jika dibandingkan dengan becek-becek lain. Karenanya, dari segi harga lebih mahal yakni Rp 37.000 per porsi. Cukup sebanding juga dengan kepuasannya. Apalagi Bu Yati mempersilakan menambah nasi sekenyangnya.

Becek Bu Yati tidak disajikan dengan cabai hijau yang telah digoreng. Untuk menambah cita rasa pedas, Bu Yati lebih memilih langsung merajang cabai untuk dijadikan satu dengan bumbu becek.

“Saya tidak pelit bumbu. Inilah sebenarnya yang membedakan. Umumnya supaya irit, bumbu ditumbuk, sedangkan saya bumbunya dirajang. Kalau dirajang membutuhkan setengah kilogram bawang merah untuk 10 kilogram iga. Nah kalau ditumbuk lebih irit lagi atau istilahnya pelit bumbu. Becek buatan saya, cabai langsung dirajang dijadikan satu dengan kuah. Jadi kuahnya terasa lebih pedas,” ungkap Yati.

Dalam sehari, di warung kecilnya itu, Yati mengaku mampu menghabiskan 20 kilogram iga sapi untuk becek yang ia jual. Yati hanya dibantu seorang pekerja dalam urusan melayani pengunjung warung beceknya. “Alhamdulilah, sehari rata-rata seratus pengunjung yang datang,” kata Yati. (NDY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.