APCA Indonesia: Standarisasi Kuliner Wajib Diwujudkan

1
38
Nasi Goreng(Foto: Istimewa)

TANGERANG, bisniswisata.co.id: Academy of Pastry and Culinary Arts (APCA) Indonesia menyarankan kepada pemerintah agar segera mewujudkan lembaga standarisasi bagi menu makanan atau kuliner Indonesia. Kehadiran standarisasi ini memiliki nilai strategis bahkan sangat penting diberlakukan di Indonesia.

“Kami mendukung langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke depannya akan mengedepankan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Peningkatan SDM ini, termasuk kuliner Indonesia juga menjadi perhatian yang sangat penting. Mengingat potensi kuliner Indonesia memiliki potensi yang sangat besar,” lontar Director & Executive Chef APCA Indonesia, Louis Tanuhadi di Alam Sutera Tangerang, Sabtu (24/08/2019).

Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang dihimpun bersama BPS mencatat, subsektor kuliner menyumbang cukup besar dari total kontribusi sektor ekonomi kreatif Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2017 sekitar Rp 852,24 triliun, dari total kontribusi tersebut subsektor kuliner menyumbang 41,69 persen. Kuliner dalam industri pariwisata menyumbang sekitar 30-40 persen pendapatan pariwisata.

“Melihat potensi yang besar itu, harapan kami ada lembaga standrisasi bagi menu masakan Indonesi untuk mendukung perkembangan iklim investasi dan industri kuliner di Indonesia. Apalagi jumlah kuliner di Indonesia sangat melimpah. Jadi perlu adanya standarisasi terhadap jenis makanan Indonesia, bukan penyeragaman. Kita tidak bisa menyeragamkan jenis makanan Indonesia yg sangat beragam menjadi satu kesamaan. Namun standarisasi itu sangat-sangat perlu,” ungkapnya.

Salah satunya contoh nggak usah jauh nasi goreng. Ternyata antara satu hotel dengan hotel lainnya, penyajian nasi goreng tidak sama, dan rasanya berbeda-beda. “Ada yang nasinya masih agak keras, ada yang masih rentek, bahkan saya menemukan ada hotel yang menyajikan nasinya masih mengumpul. Nah ini terjadi karena tidak ada standarisasi yang menjadi minimal patokan untuk nasi goreng,” paparnya

Belum lagi, lanjut Tanuhadi, standar kualitas rasa. Pasti berbeda-beda. “Seharusnya cita rasa produk kuliner seperti nasi goreng yang berada di bawah payung standar yang sama, memiliki cita rasa yang sama pula. Ini cuma nasi goreng, bagaimana dengan rendang, soto, sate, yang menjadi kuliner unggulan namun tidak memiliki standarisasi pembuatannya, sehingga semua dilakukan seenaknya sesuai selera sendiri-sendiri.

“Di Indonesia ada sekitar jenis 60 soto di seluruh Indonesia. Kita tidak bisa menyeragamkan, beda bumbu dan isian antara Soto Kudus dan Soto Banjar namun apabila kita sudah claim namanya Soto Kudus, dimanapun kita menikmatinya harus sesuai Soto Kudus yang sebenarnya,” ucapnya.

Karena itu, tambah dia bagaimana bisa bersaing tingkat internasional jika standarisasi kuliner Indonesia masih kayak begini. Di Thailand yang memiliki kuliner Tom Yam ternyata semua hotel dan restoran memakai standar rasa yang sama, kualitas yang sama. “Sehingga kita makan di sini juga di luar negeri merasakan cita rasa yang sama. Siapa yang harus menstandarisasikannya? Tentunya kita bersama, pemerintah dan para asosiasi chef di Indonesia.,” ungkapnya.

Diakui, saat ini minat masyarakat untuk menggeluti profesi juru masak atau chef sangat besar, seiring terus tumbuhnya industri kuliner nasional. Namun, demikian fenomena itu tidak diimbangi oleh perkembangan kualitas dan kuantitas tenaga pengajar.

“Dari segi kuantitas, Indonesia masih belum banyak memiliki tenaga pengajar chef yang punya jam terbang tinggi atau tersertifikassi. Di sisi lain, dari sisi kualitas, tenaga pengajar di dalam negeri di SMK atau sekolah khusus tata boga basisnya masih teoretis. Sementara itu, untuk menjadi chef yang baik, mereka butuh skema pengajaran dalam bentuk praktik,” ujarnya

Hal ini menjadikan kualitas produk kuliner Indonesia kurang maksimal. Selain itu, pengembangan menu kuliner dalam negeri pun cenderung terbatas. Sehingga
banyak sekali calon juru masak memilih untuk bersekolah di luar negeri. “Padahal kami mendirikan APCA Indonesia sejak Januari 2019, memiliki misi untuk menghasilkan Chef yang memiliki skill bertaraf internasional serta dapat bersaing di pentas global serta mencetak tenaga profesional yang siap terjun di industri kuliner,” ungkapnya

Apalagi baru-baru ini, APCA Indonesia berhasil menjuarai kompetisi Indonesia Pastry Cup 2019 dan akan mewakili Indonesia di Asian Pastry Cup 2020 di Singapura yang merupakan rangkaian kompetisi World Pastry Cup 2021 di Lyon, Prancis. (END)

1 KOMENTAR

  1. Sepertinya ada yang kurang nihh penjelasannya, kemarin saya kemukakan perlu adanya standarisasi terhadap jenis makanan Indonesia, bukan penyeragaman. Kita tidak bisa menyeragamkan jenis makanan Indonesia yg sangat beragam nenjadi satu kesamaan. Namun standarisasi itu sangat-sangat perlu.
    Contohnya gak usah jauh2 nasi goreng atau soto yg saya kemukakan, ada lebih dari 60 jenis kita tidak bisa menyeragamkan, beda bumbu dan isian antara Soto Kudus dan Soto Banjar namun apabila kita sudah claim namanya Soto Kudus, dimanapun kita menikmatinya harus sesuai Soto Kudus yang sebenarnya.
    Siapa yang harus menstandarisasikannya? Tentunya kita bersama, pemerintah dan para asosiasi chef di Indonesia.
    Terimakasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.