Sebelum dan sesudah kebakaran Desa Sade, Lombok. ( Foto: google)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Di tengah pertumbuhan yang terus dijaga, sektor pariwisata Indonesia menghadapi sejumlah tantangan dalam negeri yakni bencana alam yang berdampak terhadap destinasi dan juga masyarakat.
“Karena itu, keselamatan wisatawan, kejelasan informasi, dan percepatan pemulihan destinasi menjadi prioritas kami,” kata Wamenpar Ni Luh Puspa.
Salah satunya kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Bromo – Tengger-Semeru yang menyebab- kan penutupan aktivitas wisata.
Kementerian Pariwisata terus berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan sebagai pengelola kawasan sekaligus memastikan wisatawan memperoleh informasi yang jelas terkait kondisi destinasi, termasuk mekanisme refund maupun rescheduling selama masa penutupan.
Setelah penanganan dilakukan, kawasan wisata Bromo telah kembali di buka. “Bagi kami, pembukaan kembali destinasi harus selalu mempertimbangkan kesiapan kawasan dan keselamatan wisatawan.”
Ke depan, koordinasi lintas kementerian dan pengelola destinasi perlu terus diperkuat, termasuk mitigasi kebakaran dan pengelolaan risiko pada musim kering,” ujar Wamenpar.
Pengembangan sekaligus penguatan ketahanan destinasi pariwisata prioritas juga menjadi perhatian Kementerian Pariwisata termasuk Labuan Bajo dan wilayah Flores.
Gempa bumi sebesar 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah memberikan dampak bagi sektor pariwisata. Sejumlah destinasi sempat ditutup, sementara daya tarik wisata, akomodasi, aksesibilitas, dan desa wisata mengalami kerusakan. Beberapa event juga harus ditunda maupun dibatalkan.
Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar juga telah kembali di buka setelah sempat mengalami penutupan sementara pada periode tertentu untuk kepentingan keselamatan wisatawan.
Sejumlah atraksi wisata darat juga tetap beroperasi. Tentunya keselamatan wisatawan tetap terjaga tanpa menimbulkan persepsi bahwa seluruh Flores terdampak dengan tingkat yang sama.
Selain itu, peristiwa kebakaran melanda Desa Adat di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Menpar kemudian bergegas meninjau lokasi kejadian dan melakukan rapat koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk menyusun langkah jangka pendek dan jangka panjang.
Berdasarkan data pada 27 Agustus 2026, sebanyak 75 hunian rusak total, 20 hunian lain terdampak di luar Dusun Sade, serta 11 tempat pertemuan dan berbagai fasilitas pendukung mengalami kerugian yang diperkirakan mencapai Rp 33,84 miliar.
Untuk jangka pendek, Kementerian Pariwisata memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi melalui dukungan makanan dan logistik, dapur umum, trauma healing, bimbingan teknis, serta pemberdayaan pokdarwis.
Sementara, untuk jangka panjang, Kementerian Pariwisata mendorong rencana aksi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, mitra, serta masyarakat adat dalam menyusun Master Plan Rekonstruksi Desa Adat Sade, pengumpulan dukungan rekonstruksi melalui satu pintu dan pembangunan rumah layak tinggal.
“Yang sangat penting, proses pembangunan kembali Sade harus dilakukan bersama masyarakat, serta para pemangku kepentingan untuk tetap mempertahankan karakter serta identitas budaya Suku Sasak,” kata Menpar.
Dalam koordinasi tersebut, Menpar bersama pemangku kepentingan juga membahas pengembangan Lombok-Gili Tramena dengan arah pembangunan pariwisata yang semakin berkualitas dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Kemudian di Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat, dihadapkan pada bencana vulkanologi, yakni erupsi gunung Anak Krakatau yang berdampak terhadap pembatalan 4.132 penerbangan dan 450 ribu penumpang.
Dalam hal ini, Menpar telah mengimbau kepada online travel agent (OTA) dan Biro Perjalanan untuk memberlakukan keadaan force majeur, sehingga semua biaya tiket dapat dikembalikan 100 persen dan mempermudah proses reschedule tanpa tambahan biaya apapun.
“Bencana dan musibah yang terjadi ini, mengingatkan kita bahwa, ketahanan harus menjadi bagian dari pembangunan pariwisata Indonesia.,”
Prinsipnya jelas melindungi manusia terlebih dahulu, mempercepat pemulihan destinasi dan mata pencaharian masyarakat, menjaga kepercayaan wisatawan, serta membangun kembali dengan lebih aman dan tangguh,” tutur Menpar.
Program pemerintah
Selain menjaga kinerja sektor pariwisata, Kementerian Pariwisata juga terlibat aktif dalam berbagai program lainnya. Pada peringatan HUT ke-81 RI, Kementerian Pariwisata menghadirkan aktivasi digital “Pesona Panjat Pinang” melalui semangat “Merdeka Berwisata #DiIndonesiaAja”.
Kementerian Pariwisata juga berpartisipasi dalam “Pesta Rakyat” yang diperkirakan dipadati 600 ribu pengunjung dengan tambahan output nasional sebesar Rp748,25 miliar.
Kementerian Pariwisata turut memeriahkan “Karnaval Kemerdekaan” di kawasan Monas dengan mengusung tema Rumah Gadang yang merepresentasikan pariwisata Sumatra Barat, Puteri Indonesia sebagai duta pariwisata.
Program lainnya yang terus didukung oleh Kementerian Pariwisata adalah “S’RASA (Rasa Rempah Indonesia)”. Program kolaborasi enam kementerian dan lembaga ini hadir untuk memperkuat ekspor rempah sekaligus meningkatkan citra Indonesia di dunia melalui gastrodiplomasi.
Sepanjang satu tahun pelaksanaannya, melalui business matching pada Trade Expo Indonesia telah menghasilkan kesepakatan pembukaan restoran Indonesia di Australia, Belanda, Italia, dan Malaysia.
Kementerian Pariwisata juga terus memperkuat ekosistem restoran Indonesia di luar negeri melalui fasilitasi akses pembiayaan dan peningkatan kapasitas pelaku usaha.
Pariwisata Berkualitas
Pertumbuhan kepariwisataan Indonesia harus beriringan dengan aspek kualitas dan keselamatan. Oleh karena itu, Kementerian Pariwisata terus memperkuat Program Peningkatan Keselamatan Berwisata melalui “Pelatihan Peningkatan Keselamatan Wisata Bahari” sebagai bagian dari tugas pembantuan bersama Pemerintah Daerah.
Penguatan kapasitas ini dilakukan di delapan provinsi, melibatkan pengelola destinasi, kelompok sadar wisatawa, pemandu wisata, pelaku usaha pariwisata, masyarakat pesisir, serta berbagai pemangku kepentingan.
Pelatihan mencakup identifikasi potensi bahaya, pemanfaatan informasi cuaca, prosedur tanggap darurat, teknik penyelamatan dasar, hingga simulasi kondisi darurat.
“Bagi kami, keselamatan bukan sekadar pelengkap. Keselamatan adalah fondasi dari pariwisata yang berkualitas,” kata Wamenpar.
Kementerian Pariwisata juga mulai mempersiapkan Karisma Event Nusantara (KEN) 2027, dengan target dukungan kembali terhadap 125 event.
Sosialisasi kurasi KEN 2027 telah dilaksanakan sejak Agustus, sehingga pemerintah daerah memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan event-event terbaiknya.
“Event bukan sekadar menghadirkan keramaian, tetapi mampu memperkuat identitas destinasi, menarik kunjungan wisatawan, melibatkan UMKM dan pekerja seni, serta menghasilkan dampak ekonomi bagi masyarakat,” tutur Wamenpar.
Selain event daerah, Kementerian Pariwisata juga terus mendukung penyelenggaraan event internasional berkualitas. Salah satunya adalah konser “Andrea Bocelli: Romanza 30th Anniversary World Tour”, yang akan berlangsung pada 31 Oktober 2026 di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah dan 3 November 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Konser di Borobudur dan Jakarta diperkirakan berpotensi menghasilkan dampak ekonomi sekitar US$ 44 juta atau setara Rp 792 miliar.
“Ini menjadi kesempatan baik untuk memperkenalkan destinasi Indonesia kepada audiens internasional,” kata Menpar.
Program unggulan lainnya adalah Desa Wisata yang sampai dengan 1 September 2026 Indonesia telah memiliki 6.400 desa wisata. Pengembangan desa wisata penting karena membawa pertumbuhan pariwisata langsung ke tingkat masyarakat.
Pada Agustus, Kementerian Pariwisata bersama Bank Indonesia menyelenggarakan Bootcamp Peningkatan Kapasitas Desa Wisata Unggulan Ramah Muslim, yang diikuti 25 desa wisata dari lima provinsi.
Kementerian Pariwisata juga mendukung Karya Kreatif Indonesia 2026, yang menghadirkan enam desa wisata unggulan dengan tema Area Jelajah Pesona Nusantara yang membuka akses pemesanan paket wisata.
Promosi Pariwisata Indonesia
Sepanjang Agustus 2026, kegiatan promosi dilakukan melalui pameran wisata, sales mission, serta business networking seperti Sales Mission Autralia, BBWI Travel Fair Merdeka Berwisata, Sales Mission Edutrip School Gathering, hingga Luxury Business Networking. Rangkaian kegiatan tersebut menghasilkan potensi perjalanan sebanyak 16,877 orang.
Strategi promosi juga dilakukan sesuai dengan segmentasi pasar, mulai dari wisata edukasi, marine tourism, wellness, gastronomi, pasar domestik, hingga wisatawan premium.
Dengan cara ini, promosi tidak hanya bertujuan membangun awareness tentang Indonesia, tetapi semakin diarahkan untuk menghasilkan perjalanan dan transaksi nyata bagi industri pariwisata.










