JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sektor pariwisata Indonesia kembali berada di sorotan seiring dengan meningkatnya tren Muslim-Friendly Tourism (pariwisata ramah muslim) atau dikenal sebagai Halal Tourism di kancah global.
Berdasarkan laporan Global Muslim Travel Index (GMTI), Indonesia kini menempati peringkat kedua dunia dengan skor 79, berbagi posisi dengan Turki dan Arab Saudi.
Kendati demikian, pencapaian ini memunculkan pertanyaan penting: bagaimana cara efektif membawa produk dan destinasi wisata ramah muslim Indonesia agar semakin terserap di pasar global, khususnya melalui jejaring strategis lintas negara seperti B57+?
Dalam diskusi bertajuk “Bisakah B57+ Menjual Muslim-Friendly Tourism Indonesia ke 57 Pasar?” yang diselenggarakan oleh Kabar Bursa, Prof. DR. Sapta Nirwandar, Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) serta Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI 2011–2014) mengungkapkan pandangannya dalam diskusi yang dipandu oleh Alvin Pulungan
Sapta Nirwandar membedah berbagai peluang, tantangan, serta strategi konkret yang harus dibenahi oleh Indonesia.
Sebagaimana dikerahui B57+ (Business 57 Plus) adalah sebuah platform ekonomi global berbasis sektor swasta yang berada di bawah naungan Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD).
Platform strategis ini dirancang untuk mempertemukan para pemimpin bisnis, pelaku usaha, dan pengambil kebijakan dari 57 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) beserta mitra global mereka.
Inisiatif B57+ dibentuk bukan sekadar sebagai forum diskusi, melainkan untuk mendorong transaksi bisnis dan kerja sama konkret melalui tiga pilar utama ;
*Peningkatan Perdagangan Intra-OKI: Mendorong dan mengintegrasikan aktivitas ekspor-impor di antara sesama negara Muslim.
*Penguatan Investasi Lintas Negara: Memfasilitasi arus modal dan kemitraan strategis antar-kawasan.
*Akselerasi Ekonomi Halal: Mempercepat transformasi industri halal global, mulai dari sektor makanan – minuman (F&B), fesyen, kesehatan, pariwisata halal, hingga keuangan syariah.
Menurut Sapta, ada pergeseran perilaku wisatawan Muslim dari kebutuhan dasar ke Lifestyle. Wisatawan muslim global kini tidak lagi hanya mencari makanan halal atau tempat beribadah semata.
Perilaku pelancong muslim telah bertransformasi menjadi sebuah kebutuhan gaya hidup (lifestyle) yang menuntut pengalaman perjalanan secara menyeluruh (holistic experience).
Aspek-aspek praktis seperti aksesibilitas transportasi, kenyamanan penginapan, keamanan, hingga fasilitas pendukung (wellness dan kuliner) menjadi pertimbangan utama.
Oleh karena itu, istilah Muslim-Friendly Tourism mencakup makna yang lebih luas ketimbang sekadar label wisata halal konvensional, yakni bagaimana menciptakan perjalanan yang aman, nyaman, dan ramah bagi wisatawan muslim di berbagai belahan dunia.
Posisi Indonesia dan Tantangan Klasik:
Sapta Nirwandar lalu membahas soal aksesibilitas dan daya saing sebab meskipun skor GMTI Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan, tantangan besar masih menghadang di sektor pariwisata domestik maupun internasional.
Menurut dia, salah satu hambatan terbesar (bottleneck) pariwisata Indonesia terletak pada aksesibilitas transportasi udara dan tingginya harga tiket.
Kompetisi harga (pricing strategy) dan competitive advantage menjadi kunci penentu. Wisatawan global, termasuk dari negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), tetap rasional dalam memilih destinasi berdasarkan nilai uang (value for money) dan kemudahan akses penerbangan.
Tanpa adanya kolaborasi strategis dengan maskapai penerbangan internasional (airline partnership) dan penekanan biaya logistik perjalanan, Indonesia akan sulit mendulang lonjakan jumlah kunjungan wisatawan secara masif.
Harmoni Budaya Lokal: Muslim-Friendly Tanpa Mengubah Identitas Destinasi
Seringkali muncul kekhawatiran bahwa penerapan pariwisata ramah muslim akan mengubah karakter atau tradisi lokal suatu daerah—seperti di Bali, Nusa Tenggara Timur, atau wilayah Indonesia lainnya yang memiliki keragaman budaya dan agama.
Prof. DR. Sapta menegaskan bahwa konsep Muslim-Friendly Tourism berpijak pada prinsip layanan tambahan (extended services), bukan mengubah keaslian atau destinasi itu sendiri.
“Kalau kita ke Candi Borobudur atau Komodo, kita tidak meminta situs tersebut diubah bentuknya. Kita tetap menghormati sejarah dan budayanya, tetapi setelah itu kita difasilitasi dengan layanan penunjang seperti makanan halal dan tempat beribadah,” jelas Sapta.
Pendekatan ini membuktikan bahwa daerah-daerah di Indonesia dapat tetap mempertahankan tradisi lokal yang kuat sekaligus menjadi destinasi yang adaptif dan ramah bagi pelancong muslim.
Kapitalisasi Sejarah dan Wisata Spiritual (Spiritual Tourism)
Selain keindahan alam, Indonesia menyimpan potensi besar dalam bentuk jejak sejarah Islam dan warisan spiritual (Islamic heritage). Kompleks makam ulama, pesantren bersejarah, hingga jejak Kesultanan Nusantara memiliki daya tarik yang kuat jika dikemas dengan storytelling yang menarik.
Sebagai perbandingan, negara seperti Uzbekistan sukses mengkapitalisasi makam Imam Bukhari menjadi pusat spiritual modern yang dikunjungi jutaan wisatawan lokal maupun internasional setiap bulannya.
Indonesia memiliki potensi serupa melalui jaringan situs sejarah para wali dan tokoh penyebar Islam di berbagai daerah, yang apabila dikemas secara profesional, akan mampu menggerak- kan ekosistem ekonomi kreatif dan pariwisata secara berkelanjutan.
Peran Jaringan B57+: Menghubungkan Pasar dan Investasi Nyata
Melalui forum atau jejaring B57+ yang mempertemukan para pemimpin bisnis, investor, dan pembuat kebijakan dari negara-negara anggota OKI, sektor pariwisata dan perdagangan dapat didorong secara lintas batas (cross-border deal flow).
Namun, kerja sama ini tidak berjalan secara otomatis (not automatic) hanya karena kesamaan ikatan keagamaan. Pelaku industri pariwisata Indonesia harus mempersiapkan standar fasilitas yang memadai, memperkuat jaringan operator tour internasional, serta membangun strategi harga yang kompetitif agar dapat menarik minat investor dan wisatawan global secara nyata.
Menutup diskusi tersebut, Sapta menilai langkah Prioritas 2-3 tahun ke depan dengan menekankan dua hal krusial yang harus segera dibenahi agar potensi Muslim-Friendly Tourism benar-benar bertransformasi menjadi bisnis riil
Antara lain soal peningkatan konektivitas dan aksesibilitas dengan memperkuat kolaborasi penerbangan internasional (airline partnership) guna menekan biaya perjalanan dan memudahkan mobilitas turis menuju destinasi di Indonesia.
Penguatan Standar Layanan dan Storytelling Destinasi
Memperkenalkan keunggulan destinasi, baik dari segi keindahan alam, fasilitas ramah privasi, maupun narasi sejarah spiritual nusantara yang dikemas secara profesional.
Dengan pembenahan yang terstruktur dan sinergi lintas sektor, Indonesia memiliki peluang besar untuk tidak hanya unggul di atas kertas (indeks global), tetapi juga menjadi pemain utama yang diperhitungkan dalam peta pariwisata ramah muslim dunia










