Prof Dr Sapta Nurwanda ( tengah) diapit Guru Besar UIN, Prof Nadratuzzaman Hosen dan Prof Dr. Euis Amalia, M.Ag
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Dominasi perempuan dalam UMKM Indonesia dan pertumbuhan belanja Muslim global membuka peluang RI untuk optimalkan sektor modest fashion, kosmetik, media, wisata halal, farmasi halal dan pangan.
“Kalau RI sudah di ranking nomor satu di sektor modest fashion global tahun 2026 ini maka penguatan kapasitas usaha perempuan menjadi kunci untuk kita ke depan meraih pula rangking satu di kosmetika halal global,” kata Sapta Nirwandar, Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center ( IHLC).
Menurut dia, potensi dan kontribusi perempuan Indonesia terhadap ekonomi halal sudah meningkat dengan banyaknya perempuan sebagai pengusaha UMKM.
“Tinggal dioptimalkan berkolaborasi dengan berbagai pihak terutama Kementrian- kementrian terkait seperti Kemenkop, Kemenekraf, termasuk Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian dan kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA),” ungkapnya.
Pemberdayaan perempuan bukan hanya isu kesetaraan tetapi strategi ekonomi untuk menangkap peluang halal value chain global, tambahnya. Selain mengurus keluarga, wanita Indonesia terbukti sukses di berbagai usaha UMKM.
Untuk itu IHLC tengah fokus ke sektor kosmetika dengan meluncurkan buku Halal Beauty Bussiness sebagai upaya literasi pada para stakeholders dan masyarakat. Selanjutnya juga fokus ke wisata halal atau di dunia dikenal dengan Halal Tourism, sektor media, farmasi halal dan pangan
“ Peran perempuan UMKM ini nantinya yang bisa menggeser ranking RI di sektor kosmetika global ke rangking satu karena sebagai pemakai kosmetika mereka juga bisa jualan online. Buku untuk literasi itu Bank Indonesia bantu cetak 400 buku dan langsung habis,” jelas Sapta.
Pihaknya juga tengah menyusun pembentukan semacam Academy Beauty Preneur Halal dan pengembangan aplikasi Beauty Lifestyle Center sehingga tinggal klik semua produsen kosmetika halal akan tersedia sehingga memudahkan konsumen untuk mendapatkan produk yang dicari.
“Kosmetika di Indonesia dibutuhkan mulai dari bayi hingga orang dewasa, senior citizen bahkan Wardah sudah mengeluarkan kosmetika untuk kaum pria. Hitung berapa produk yang dibutuhkan untuk perawatan tubuh seseorang mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut,” kata Sapta Nirwandar .
Berbicara pada serial kedua zoom ekonomi syariah yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah ( P2EKS) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ( UIN) Jakarta, Sapta menekankan pentingnya literasi, pendidikan, pendanaan, kolaborasi termasuk political will untuk mewujudkan inisiatif IHLC itu.
“Kenapa selama 10 tahun Malaysia menjadi nomor satu untuk Standar Halal Dunia ?. karena konsisten dalam pengembangan ekosistem ekonomi dan industri halal global, termasuk standar sertifikasi melalui JAKIM (Jabatan Kemajuan Islam Malaysia) yang menjadi rujukan internasional,”
Menurut Sapta Nurwandar, keunggulan ekosistem Halal Malaysia a.l ;
Standar Global: Diakui dunia internasional karena integritas dan pengalaman JAKIM dalam audit serta regulasi produk halal.
*Sektor Komprehensif: Unggul dalam industri makanan halal, keuangan syariah, serta farmasi dan kosmetik.
*Pariwisata Ramah Muslim: Sering menempati peringkat teratas destinasi ramah Muslim global (Muslim-Friendly Destination).
Dia mengingatkan bahwa jumlah Muslim dunia sudah lebih dari 2,2 miliar dan konsumen Muslim maupun non Muslim semakin mencari produk halal yang etis, aman dan relevan dengan nilai yang diyakini.
Sementara itu Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag — Direktur P2EKS UIN Jakarta/Ketua Bidang V DPP IAEI mengatakan bahwa selama ini kajian ekonomi syariah cendrung sektoral padahal seharusnya menyeluruh.
“Kali ini kita bahasnya soal halal beauty business dimana kebutuhan kosmetika dari kepala hingga kaki yang tidak lagi di dominasi oleh kaum hawa,” katanya.
Pemandu diskusi, Prof. Dr. Muhammad Nadratuzzaman Hosen, M.S, M.Sc , Guru Besar UIN Jakarta menjelaskan perkem-bangan terkini, RI dengan jumlah Muslim terbesar di dunia berada di peringkat ketiga dunia dalam ekosistem halal global (di bawah Malaysia dan Arab Saudi), tetapi mencatat laju pertumbuhan tertinggi yang signifikan.
Dia juga sepakat dengan para nara sumber yang ada bahwa UIN Jakarta akan meneruskan serial diskusi ekonomi syariah ini karena saat ini literasi mengenai Jadwal dan Ketentuan Wajib Halal 18 Oktober 2024 belum dipahami dan diikuti oleh para produsen.
“Baru soal literasi belum masuk ke memperkuat ekosistem halal sehingga memang masih banyak tantangan yang dihadapi,” kata Guru Besar UIN Jakarta itu.










