Foto-foto Instagram milik tantraaditya23, destinasi Niagara perbatasan Amerika Serikat dan Kanada.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Mencermati postingan Instagram di Sabtu pagi memang mengasyikkan karena tidak terganggu jadwal kerja. Sebaliknya menonton tayangan yang ada membuat pikiran benar-benar menjadi santai.
Sorotan mata berhenti di akun Instagram milik tantraaditya23 karena salah satu bucket list dalam hidupnya terpenuhi yaitu mengunjungi obyek wisata Air Terjun Niagara di Amerika Serikat. Soalnya destinasi ini terbagi menjadi dua area negara, yaitu Amerika Serikat ( sisi NewYork) dan Kanada ( Ontario).
“Namun, kalau mau menikmati view air terjun secara menyeluruh, maka kamu wajib berkunjung ke sisi Kanada. Saya berjalan kaki dari sisi AS ( New York) dengan menyeberangi Rainbow Bridge selama 5 menit. Tentunya saya mengantongi visa Kanada yang valid selama 7 tahun,” ujar Tantra Aditya.
Kabar gembira, sekarang WNI dengan syarat tertentu dapat berkunjung ke Kanada menggunakan eTA. Yang mau info lengkapnya bisa tonton reels saya sebelum post ini, undangnya dengan happy yang terpancar dari wajah di foto-fotonya.
eTA (singkatan dari Electronic Travel Authorization atau Otorisasi Perjalanan Elektronik) adalah izin masuk digital yang wajib diajukan secara online sebelum bepergian ke suatu negara. Izin ini ditautkan langsung ke paspor Anda dan berfungsi sebagai penyaring keamanan bagi pelancong yang tidak memerlukan visa.
Kalau membayangkan pengalaman saat melintas di perbatasan kedua negara maka sisi Kanada menawarkan pemandangan panorama terbaik untuk melihat Horseshoe Falls secara langsung. Sementara sisi Amerika menghadirkan sensasi petualangan berjalan tepat di dekat debit air yang jatuh.
Seperti destinasi tersohor Air Terjun Niagara itu, wilayah perbatasan inilah yang menjadi perhatian saya ditengah perang Iran-AS, pada liburan sekolah mendatang karena wisatawan ke Eropa menghadapi kebijakan baru Uni Eropa yang telah memberlakukan sistem Entry/Exit System (EES).
Sistem digital otomatis ini sepenuhnya menggantikan cap paspor manual dengan pemindaian biometrik untuk pelancong non-Uni Eropa, termasuk pemegang paspor Indonesia. Hal yang dikhawatirkan banyak orang dari proses ini adalah memakan waktu lama dan membuat antrian panjang berjam-jam.
Liburan Summer 2026 di prediksi akan banyak pelancong yang beralih ke wilayah Asia dan Asean atau warga Eropa sendiri pilih tujuan di destinasi perbatasan, masih dekat-dekat saja terjangkau mobil pribadi, bus atau kereta.
Banyak orang mengira destinasi perbatasan itu terpencil dan sulit berkembang. Padahal di dunia justru banyak destinasi perbatasan yang menjadi magnet wisatawan karena menawarkan pengalaman yang unik dua budaya, dua negara, bahkan dua peradaban dalam satu perjalanan.
Beberapa faktor yang membuat destinasi perbatasan ramai dikunjungi wisatawan adalah memiliki keunikan “Cross Border Experience” seperti yang dialami Tantra Aditya. Wisatawan bisa merasakan dua negara atau dua budaya sekaligus.
Kondisi perekomian Singapura kini membuat Batam yang berjarak dekat dipenuhi warga negara tetangga karena belanja apapun tetap masih lebih murah di Batam.
Sebut saja mulai dari belanja kebutuhan pokok termasuk buah dan sayur, belanja retail, pelayanan jasa pijat, kecantikan, kulineran sampai urusan sport, layanan kesehatan dan hiburan. Setelah dipotong ongkos ferry tetap masih setengah harga ketimbang di Singapura.
Lucunya wisatawan ini menyukai sensasi hari ini sarapan di Indonesia, makan siang sudah balik ke negaranya lagi di tunjang akses transportasi yang mudah. Perbatasan yang sukses biasanya memiliki prosedur imigrasi yang cepat, pos lintas batas yang nyaman,
jalan yang baik dan transportasi umum yang terintegrasi,
Jika akses sulit, wisatawan enggan datang meskipun atraksinya bagus dan menawarkan harga lebih kompetitif. Banyak warga Singapura juga berkunjung ke Johor Bahru untuk berbelanja dan berwisata.
Wisatawan datang karena keindahan alam, bukan karena batas negaranya. Faktor utama adalah jaminan keamanan dan stabilitas menjadi faktor paling penting. Wisatawan menghindari wilayah perbatasan yang rawan konflik, banyak penyelundupan, sering terjadi ketegangan politik.
Sebaliknya, perbatasan yang aman justru menjadi daya tarik apalagi dengan data tarik sebagai pusat event dan Festival Lintas Negara. Kreativitas di perbatasan RI sayangnya kerap baru mendapat perhatian di bulan yang berakhiran BER, November, Desember karena pemerintah pusat maupun daerah mau mengejar target kunjungan wisatawan mancanegara ( wisman).
Padahal tidak usah menunggu jelang akhir tahun. Kegiatan Festival budaya bersama dapat menarik wisatawan.Misalnya festival kuliner lintas batas, lomba olahraga internasional, pertunjukan seni dua negara dan kreativitas lainnya bisa direncanakan sepanjang tahun.
Masalah klisenya adalah kurang dana padahal di Batam dan Kepulauan Riau itu ada sedikitnya 20 perusahaan migas yang bisa mencadangkan dana untuk core event pariwisata di daerahnya setelah mengeruk sumber alam setempat tidak hanya mengandalkan pemerintah.
Atraksi Pacu jalur yang sudah mendunia apakah tidak ada satu orangpun pimpinan di wilayah itu lebih sadar wisata dan bisa memakmurkan masyarakat lewat event-event spektakuler ?. Wisatawan tidak hanya melihat batas negara, tetapi merasakan pertemuan budaya, menikmati daya tarik alam yang tidak mengenal batas alam dan tidak mengenal garis politik.
Peluang besar Indonesia banyak karena
sebenarnya memiliki banyak perbatasan yang berpotensi menjadi destinasi wisata kelas dunia: Ada Atambua – dekat dengan Timor-Leste. Entikong – gerbang ke Malaysia., Aruk – potensi wisata budaya Dayak lintas negara dan Skouw – gerbang ke Papua Nugini.
Wisata budaya masyarakat Melayu, Dayak, atau Timor yang hidup di dua negara dan paket – paket “One Trip, Two Countries” perlu gencar dipromosikan. Konsep seperti ini sedang dicari wisatawan yang ingin pengalaman autentik, bukan sekadar berfoto di objek wisata terkenal.
Menurut saya, untuk Indonesia saat ini, kawasan perbatasan Indonesia–Timor Leste memiliki peluang yang sangat besar karena relatif aman dan unik secara budaya. Tidak usah muluk-muluk wisatawan nusantara ( Wisnus) maupun mereka yang memiliki hubungan darah dengan warga negara tetangga yang sudah resmi jadi anggota Asean ini juga ingin berkunjung kan ?. Ayo jawab, mana suaranya…..










