DENPASAR, bisniswisata.co.id: Bali tidak hanya menjadi tujuan bisnis dan berlibur warga negara Kazakhstan, juga untuk berinvestasi. Dengan tersedianya layanan kekonsuleran warga negara Kazakhstand di Bali, diharapkan kinerja investasi langsung Kazakhstan Bali dapat ditingkatkan dan berdampak positip secara ekonomi, jelas Duta Besar Republik Kazakhstan untuk Indonesia, Serzhan Abdykarimov, menjawab bisniswisata.co.id
Upaya meningkatkan kerjasama bilateral dua negara khususnya untuk Bali, DPD ASITA Bali merencanakan penyelenggaraan sales mission Bali- Kazakhstan dan menjajagi peluang charter flight Kazakhstan- Bali (reciprocal). Ketiadaan transportasi langsung dua destinasi menjadi kendala peningkatan kinerja kerjasama yang telah disepakati sejak tahun 1993, tegas I Putu Winastra, S.AB, M.A.P, Konsul Kehormatan Republik Kazakshtan di Bali yang juga Ketua DPD ASITA Bali menambahkan.
Persoalan aksesibilitas tersebut tidak hanya menjawab tuntutan dunia hal green development, green economy, dan green investasi, juga menjawab pergeseran kebutuhan para pelaku perjalanan —bisnis, berlibur, kepentingan pendidikan— menuju perjalanan dan aktivitas rendah karbon.
Arus kunjungan warga Kazakhstan ke Bali menunjukkan tren kenaikan signifikan, jika di tahun 2020 hanya tercatat 9 ribu orang di tahun 2024 meningkat menjadi 18.228 orang, diharapkan peningkatan siginifikan di tahun 2025. Meski pun angka kunjungan warga Kazakhstan ke Bali belum masuk dalam daftar 15 besar pasar Bali, lama tinggal mereka di Bali terdata 7-10 hari, dengan spending tinggi.
Menurut Dubes Serzhan Abdykarimov yang hadir mengukuhkan Konsul Kehormatan Kazakhstan di Bali dan meresmikan Kantor Konsul Kehormatan Republik Kazakhstand, ikatan diplomatik tersebut menjadi dasar kelembagaan membangun kemitraan ke dua negara, yang mencakup Komisi Antar-Pemerintah untuk Kerja Sama Ekonomi, kelompok persahabatan antarparlemen, lembaga Konsul Kehormatan, Perhimpunan Persahabatan di Jakarta, Dewan Pakar antarlembaga dan sebagainya.
“Kami senang melihat peningkatan arus wisatawan antar dua negara, dan semakin banyaknya mahasiswa yang belajar di universitas-universitas terbaik Kazakhstan dan Indonesia. Meski pun terpisah jarak geografis, negara kita diikat oleh kesamaan luar biasa yang melampaui batas benua, batas wilayah, dan lautan,” papar Serzhan Abdykarimov.
Bukan Sekadar Kebetulan
Lebih jauh Dubes Kazakhstand untuk Indonesia menjelaskan Kazakhstan memandang Indonesia sebagai mitra penting di Asia Tenggara dan mementingkan peningkatan kerja sama didasarkan pada persahabatan dan saling mendukung, ke tingkat kualitatif. Kesemaan yang dimiliki Indonesia dan Kazakhstand bukan sekadar kebetulan; melainkan jalinan benang merah kemitraan yang diperkaya oleh sejarah dan rasa saling menghormati, merupakan kekuatan pendorong untuk perubahan positif ke depan.
Sembari menghormati masa lalu dan menatap masa depan, Dubes Kazakhstand “mengajak” semua pihak kembali berkomitmen pada kesepakatan kemitraan, menghargai nilai-nilai bersama dan kesamaan yang menyatukan Indonesia dan Kazakhstand. Nilai- nilai kebersamaan tersebut antara lain:
Pertama. Kazakhstan merupakan negara ke-9 terbesar berdasarkan wilayah di dunia dengan mayoritas penduduk Muslim, sementara Indonesia menyandang gelar negara Muslim terbesar berdasarkan jumlah penduduk.
Kedua. Kedua negara sangat kaya akan sumber daya alam dan merupakan pemimpin ekonomi di kawasan masing-masing, dengan Kazakhstan menjadi tokoh sentral di Asia Tengah dan Indonesia di Asia Tenggara dan ASEAN.
Ketiga. Narasi sejarah dua negara, memiliki keunikan jalinan paralel – Kazakhstan, dikenal karena warisannya sebagai “Pengembara Stepa”, dan Indonesia sebagai negeri kepulauan sebagai “Pengembara Laut”. Hanya sedikit yang tahu bahwa Kazakhstan adalah tempat kelahiran apel dan tulip modern. Atau untuk pertama kalinya, domestikasi kuda oleh manusia terjadi di wilayah Kazakhstan modern.
Keempat. Bahasa Kazakhstan dan Indonesia memiliki ikatan linguistik dengan lebih dari 800 kata serapan dari bahasa Arab yang memiliki pelafalan dan makna yang serupa, kata-kata seperti aulia, dunia, hormat, kaum, resmi, misal, kuat, hewan, dan sabun, sebagai contoh.
Kelima. Keragaman hidup dan kehidupan di dua negara. Kazakhstan menjadi rumah bagi lebih dari 120 kebangsaan, menganut 18 pengakuan agama, dan Indonesia mencakup lebih dari 300 kelompok etnis, 700 bahasa, dan enam agama.
Keenam. Kazakhstan dan Indonesia, sebagai kekuatan menengah yang diakui dunia, menjalankan kebijakan luar negeri terbuka, pragmatis, dan cinta damai, dipandu oleh prinsip-prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang penghormatan terhadap kedaulatan dan wilayah. Integritas nasional, non-intervensi, penyelesaian sengketa secara damai, multilateralisme, non-proliferasi nuklir, dialog antar-agama, dan sebagainya.
Kerjasama Multifacet
Kehadiran Dubes Republik Kazakhstan di Bali (30/7) tidak hanya menandai pembukaan Konsulat, juga awal babak baru, kerjasama yang dipenuhi dengan kolaborasi, persahabatan, dan kemajuan bersama antara Kazakhstan dan Indonesia. Menegaskan komitmen bersama untuk mempererat hubungan antara Kazakhstan dan masyarakat Bali, di berbagai bidang pemerintahan, budaya, pendidikan, pariwisata, serta pembangunan ekonomi.
Kehadiran konsulat kehormatan ini, bertujuan untuk mewujudkan nilai-nilai bersama —rasa saling menghormati, komitmen terhadap perdamaian dan kerjasama serta semangat kemitraan global— menjadi koneksi yang nyata, menghubungkan komunitas, institusi, dan industri untuk kepentingan bersama kedua negara.
“Saya berkomitmen untuk melayani kepentingan warga Kazakhstan di kawasan ini, memajukan kerja sama bilateral, dan mendorong pertukaran budaya, perdagangan, pariwisata dan investasi,” tegas Konsul Kehormatanan Republik Kazakhstan I Putu Winastra, S.AB, M.A.P. Pengukuhan Konsul Kehormatan dan peresmian Kantor Konsul Kehormatan Republik Kazakhstan di hadiri Kepala Dinas Pariwisata Bali mewakili Gubernur, Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Provinsi Bali, Perwakilan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi, Bali, Perwakilan dari Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai, Perwakilan dari Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali & Ketua Dewan Pariwisata Bali (BTB), Direktur Intelijen dan Keamanan, Polda Bali, Direktur Pengamanan Objek Vital (Dirpamobvit), Kepolisian Daerah Bali, Kepala Kepolisian Sektor Denpasar Timur (Dentim) dan para Konsul Negara- negara Sahabat.
Pada kesempatan tersebut, Putu Winastra yang juga Ketua DPD ASITA Bali, mengingatkan kembali bahwa hubungan Indonesia dengan Kazakhstan, resmi dibentuk pada tahun 1993. Tahun 2023 lalu dirayakan peringatan 30 tahun pembentukan hubungan diplomatik bilateral Indonesia – Kazakhstan. Tahun-tahun tersebut merupakan tahun-tahun yang luar biasa, diwujudkan dengan kunjungan timbal balik Presiden, delegasi parlemen dan pemerintah tingkat tinggi, kontak bisnis dan antarmasyarakat.
Kazakhstan saat ini dipimpin Presiden Kassym-Jomart Tokayev, merupakan negara yang berkembang secara dinamis. Berpenduduk dua puluh juta jiwa dengan iklim bisnis dan investasi serta potensi manusia terbaik di Asia Tengah. Siap bersama-sama meraih peluang baru untuk membina kerja sama multifaset, demi kepentingan terbaik kedua negara sahabat, ujar Dubes Serzhan Abdykarimov. *










