Wisata Ekstrim bisa Kurangi Stres

0
243
Wisata Arung Jeram beersama keluarga (Foto: raftingcicatih.com_

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kerja tak pernah habis, tekanan kerja bertubi-tubi, serta jenuh dari rutinitas pekerjaan sering kali menjadi pemicu stres di tempat kerja. Ditambah masalah keluarga sering kali terbawa dalam pekerjaan juga dapat menambah sederet daftar penyebab stres. Setiap orang pasti pernah merasakan stres.

Bila terus terjadi, stres bisa merusak penampilan dan parahnya memicu berbagai penyakit. Guna mengelola stress, perlu cara menyikapi dan menghadapi stres dan tekanan. Salah satu caranya dengan melakukan berbagai hal yang menjadi hobi, olahraga dan berwisata. Stres bisa membuat jadwal tidur menjadi kacau, seperti esok hari menjadi lesu dan tercipta lingkaran hitam pada mata.

Seperti dikutip Shape, Senin (12/11/2018) asisten dosen psikologi California University Matthew Zawadski mengemukakan, stres menyebabkan detak jantung menjadi lebih tinggi, tekanan darah dan kadar hormon juga ikut meningkat. Jadi, masuk akal bahwa stres jangka panjang atau kronis tidak baik bagi kondisi kesehatan.

Bahkan, pakar kesehatan menyebut, stres berlebihan adalah silent killer yang bisa menyebabkan kematian lebih dini, baik itu karena penyakit atau bunuh diri. Hobi merupakan salah satu cara untuk mengelola stress. Sebuah riset yang dipublikasikan dalam Annals of Behavioral Medicine meneliti 100 orang dewasa dengan kegiatan sehari-hari yang mereka lakukan.

Para peserta menggunakan monitor jantung dan menyelesaikan survei secara berkala untuk melaporkan bagaimana kegiatan dan perasaan mereka. Hasilnya, dalam tiga hari periset menemukan bahwa 34% orang yang melakukan kegiatan yang disukai, tidak merasa stres.

Bukan hanya merasa bahagia, detak jantung mereka juga menjadi lebih stabil dan mereka merasa lebih tenang selama berjam-jam. Dari penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa hobi adalah kegiatan yang bisa menenangkan perasaan seseorang.

Sedangkan ketika dilanda stres, banyak orang beralasan tidak punya waktu atau tenaga untuk melakukan hobinya. Padahal, orang yang sedang stres membutuhkan lebih banyak waktu untuk hobinya daripada orang biasa.

Hasil riset University of Maryland Endocrinology Health Guide menyatakan, berolahraga ekstrem dapat mengurangi stres. Hal bisa terjadi lantaran saat melakukan aktivitas tersebut, rangsangan terhadap kelenjar adrenal melepaskan sejumlah hormon, termasuk adrenalin.

Dampaknya denyut dan kekuatan kontraksi jantung meningkat, aliran darah ke otot dan otak juga semakin cepat, otot jadi rileks dan membantu konversi glikogen menjadi glukosa di hati. Mendapatkan sensasi seperti itu, pelaku olahraga ekstrem pun menjadi lebih bersemangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Alhasil stres juga hilang.

Masih dari riset yang sama dikatakan dorongan adrenalin tersebut bagi penyuka wisata olahraga ekstrem, menghasilkan perasaan memabukan yang tidak didapat pada aktivitas lainnya.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Psikolog Uniersitas Bina Nusantara Nanang Suprayogi. Nanang mengatakan aktivitas tersebut merupakan bagian dari release opention atau melepaskan ketegangan. “Namun setiap individu memiliki preverensi yang berbeda-beda, misalnya ada yang butuh ketenangan atau keheningan, ada juga yang melampiaskan melalui hobi musik, hingga olahraga paling ekstrim,” kata Nanang.

Melalui wisata olahraga ekstrem, menurutnya individu meretensi ketegangan dengan tenaga yang kuat dengan fasilitas. Sehingga, energi tersaurkan namun tidak merusak. Menurutnya, selagi masih terkontrol, melakukan olahraga ekstrem tetap masih dianjurkan. “Karena itu berisiko tinggi kadang memunculkan cidera sampai dengan kematian, keamanan tetap menjadi yang utama,” tambahnya.

Sebenarnya, lanjutnya, tidak harus dengan olahraga misalnya dengen berteriak-teriak juga termasuk teknik untuk meregangkan ketegangan pada individu.

Menurut dokter spesialis saraf Yuda Turana, melihat teori yang dicetuskan oleh Edmund Jacobson, yakni teknik Progresive Muscle Relaxation menyatakan tubuh manusia akan mencapai tahap rileks yang maksimal setelah mengalami ketegangan yang tinggi.

Sehingga, tak mengherankan apabila seseorang rela membayar mahal untuk melakukan aktivitas ekstrim, misalnya seperti olahraga bungee jumping. “Kita mengalami ketegangan yang luar biasa itu memang ada fasenya, sehingga orang bisa menikmati ketika menonton film horor, sampai yang paling ekstrem seperti bungee jumping,” katanya.

Dia mengatakan jika pertanyaanya apakah wisata olahraga ekstrem dapat mengurangi stress memang dibenarkan, namun apakah bisa mengganggu kesehatan tentu harus menjadi perhatian lebih. Karena, ada satu titik dapat mengganggu jantung. Jadi, sebelum melakukan harus diyakini tidak ada penyakit yang menyertainya.

“ Misalnya [melakukan] arung jeram orang bersenang-senang, tapi ketika ada gangguan irama jantung, atau jantung tidak stabil karena usia tua ya tidak dianjurkan karena akan menimbulkan komplikasi,” jelasnya. (EP)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.