Tenun Lurik Jogja Jelajah Belanda

0
616
Kain lurik (Foto: Picbear)

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Tenun lirik, kain khas tradisional nusantara kini semakin dilirik. Dibandingkan tenun ikat, tenun lurik tak terlalu populer. Lebih populer didaerah asal tenun ikat dibuat, jadi punya pangsa pasar tersendiri. Memang, tenun lurik berbeda dengan tenun ikat. Perbedaannya dari jenis bahan. Sementara pembuatannya sama-sama dipintal.

Tenun lurik Jawa terutama Yogyakarta merupakan kain dengan motif yang sama dengan namanya, lurik artinya garis kecil-kecil dengan warna suram yang umumnya diselingi aneka warna benang. Sesuai fungsi dan kegunaan, tenun lurik Jawa dianggap kain paling tua di Indonesia.

Dahulu digunakan masyarakat kelas bawah untuk pakaian sehari-hari. Bagi wanita, kain lurik digunakan untuk bawahan sedangkan pria untuk atasan. Adat Jawa yang kental dengan filosofi, turut berperan dalam pembuatan motif lurik. Konon motif lurik Jawa ditentukan para tetua, kemudian mereka membuat, dan diwariskan kepada generasi selanjutanya.

Dalam perkembangan modern, lurik sekarang mendapat sentuhan warna-warna baru sehingga dapat pula dipakai sebagai bahan kemeja atau sebagai komponen estetika pada rompi atau jas. Untuk mengangkat tenun lurik ke kancah dunia, desainer Lala Ratna Komala Gozali menjelajah Belnada dengan memamerkan koleksi hasil rancangannya dalam ajang Modest Heritage Indonesia di Belanda, Desember 2018.

Lurik Jogyakarta menjadi pilihan Lala dengan tema kasual etnik. “Saya ingin memperkenalkan budaya Indonesia dengan kain tradisional ini, saya ingin mengangkat keindahan lurik Jogyakarta dalam tema kasual etnik,” ujar Lala seperti dilansir laman Gayahidup, Rabu (24/10/2018).

Lala optimis karyanya tenun lurik diminati masyarakat Belanda, mengingat orang-orang Belanda dulu yang pernah berada di wilayah Yogyakarta pasti mengenal dengan tenun lurik. “Kali ini saya ingin membuat kenangan bagi warga Belanda terhadap tenun lurik. Juga ingin mengangkat keindahan lurik Yogyakarta dalam tema kasual etnik,” lontanya.

Untuk koleksi kasual etnik tersebut, tak hanya memainkan bahan material Lurik saja, Lala menambahkan batik dengan warna-warna kalem. “Akan ada 6 look. Lebih banyak bermain di layering, ada yang pakai outer panjang, pakai dalaman, celana ditambah syal. Saya akan lebih banyak menyajikan koleksi tunik dan celana panjang,” imbuhnya.

Lala berharap dengan mengikuti ajang Modest Heritage Indonesia tersebut dapat memperkenalkan budaya Indonesia. “Ini tantangan karena pertama kali untuk saya untuk membawa nama Indonesia. Mudah-mudahan sambutannya bagus,” pungkasnya.

Tenun Lurik dari dulu hingga sekarang tetap lestasi. Kata lurik dari bahasa Jawa, lorek berarti garisgaris, yang merupakan lambang kesederhanaan. Sederhana dalam penampilan maupun dalam pembuatan namun sarat dengan makna. Selain berfungsi untuk menutup dan melindungi tubuh, lurik juga memiliki fungsi sebagai status simbol dan fungsi ritual keagamaan.

Motif lurik yang dipakai oleh golongan bangsawan berbeda dengan yang digunakan oleh rakyat biasa, begitu pula lurik yang dipakai dalam upacara adat disesuaikan dengan waktu serta tujuannya.

Nama motifnya diperoleh dari nama flora, fauna, atau dari sesuatu benda yang dianggap sakral. Motif lurik tradisional memiliki makna yang mengandung petuah, cita-cita, serta harapan kepada pemakainya. Namun demikian saat ini pengguna lurik semakin sedikit dibandingkan beberapa puluh tahun lalu. Perajinnya pun dari waktu ke waktu mulai menghilang.

Desainer Lala punya kepedulian tinggi untuk mengangkat tenun lurik di dalam negeri, dan akan melalang buana ke Belanda, yang pernah tinggal lama di Indonesia. (EP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.