Rita Sri Hastuti, Wakil Pemimpin Umum  www. bisniswisata.co.id terpilih jadi anggota LSF

0
15

Rita Sri Hastuti, anggota Lembaga Sensor Film ( LSF) 2019 -2023

JAKARTA. bisniswisata.co.id : Rita Sri Hastuti, Wakil Pemimpin Umum Portal berita wisata www. bisniswisata.co.id terpilih menjadi anggota Lembaga Sensor Film ( LSF) setelah melakukan uji kepatutan dan kelayakan pada 10 – 11 Februari 2020.

” Saya baru dapat informasi dari teman-teman dan baca Republika.co.id dimana Komisi I DPR RI menetapkan 17 anggota Lembaga Sensor Film (LSM) untuk periode 2019 – 2023 setelah melakukan uji kepatutan dan kelayakan pada 10 – 11 Februari 2020,” kata Rita Sri Hastuti menanggapi penunjukkan tersebut, hari ini.

Rita yang baru pulang dari Hari Pers Nasional ( HPN) 2020 Banjarmasin, Minggu sebagai  Ketua Panitia Tetap Anugerah Adinegoro langsung mengikuti Fit & Proper Test yang digelar DPR pada Senin-Selasa.

Sukamta,  Anggota Komisi I DPR RI berharap anggota LSF yang terpilih bisa mengikuti kebutuhan zaman. “Tantangan dunia perfilman ke depan semakin berat. Bangsa ini butuh anggota LSF yang mampu menjawab tantangan zaman, yaitu yang cakap, berintegritas, cepat, kreatif dan inovatif.

Seleksi anggota LSF telah memilih 17 orang yang diamanahkan sebagai penjaga moral bangsa lewat dunia film untuk menjawab tantangan-tantangan zaman periode 2019-2023. Adapun hasil rapat internal Komisi I DPR RI mengenai anggota LSF yang mewakili rakyat yakni 1. Ahmad Yani Basuki,2. Arturo Gunapriatna 3. Ervan Ismail,4. Fetrimen, 5. Hafidhah,6. Joseph Samuel,7. Mukayat Al Amin, 8. Naswadi,  9.Noorca M Massardi, 10. Rita Sri Hastuti, 11. Rommy Fibri Hardiyanto. 12. Tri Widyastuti.

Sementara yang terpilih mewakili pemerintah adalah 13. Andi Muslim, 14. Kuat Prihatin,15. Nasrullah, 16. Rosery Rosdy dan 17. Saptari Novia Sari.

Sukamta menambahkan, beberapa hal yang dijadikan materi yang digali saat fit proper test di antaranya terkait self-censorship (sensor mandiri) yang digalakkan agar masyarakat dan keluarga-keluarga berperan aktif untuk membentengi anggota keluarganya dari film-film yang berkonten negatif. 

Sensor dilakukan dari dua sisi, yaitu dari negara dengan infrastruktur yang dimiliki, juga dari sisi khalayak pemirsa. Selain itu sensor mandiri ditekankan pula kepada para pembuat film agar film-film yang lahir berkualitas memiliki konten yang sesuai peraturan perundang-undangan.

Sukamta  menilai, film sangat bisa mempengaruhi cara berpikir dan perilaku seseorang, disadari atau tidak, langsung atau tidak langsung. Karenanya keberadaan LSF sebagai penjaga moral bangsa melalui film sangatlah penting. Apalagi, data tahun 2020 bisa tembus 60 juta orang yang menonton film di bioskop. 

Legislator Yogyakarta ini juga menjelaskan, salah satu tantangan itu adalah data dari tahun ke tahun jumlah penonton film di bioskop semakin meningkat. Menurut sumber Databoks, pada tahun 2015 penonton bioskop sebanyak 16.2 juta, tahun 2016 sebanyak 37.2 juta, tahun 2017 sebanyak 42.7 juta dan tahun 2018 sebanyak 50 juta. 

Data BEKRAF tentang jumlah bioskop pun menunjukkan pertambahan hingga 136,5 persen dalam waktu 6 tahun, demikian juga jumlah layar bertambah hingga 188,34 persen. 

“Ini merupakan tantangan bagi kita sekaligus kabar gembira bahwa film tetap menjadi salah satu hiburan bagi masyarakat, terlepas mereka menonton di bioskop atau lewat layanan over the top,”

Akan berbahaya bagi masa depan bangsa jika film yang tayang tidak berkualitas dan negatif. Sebaliknya masa depan bangsa akan cerah jika masyarakatnya menonton film-film yang positif dan berkualitas.

Undang-undang No. 33 tahun 2009 tentang Perfilman Pasal 6 mengatur bahwa konten film tidak boleh mengandung isi yang mendorong khalayak umum melakukan kekerasan dan perjudian, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya; menonjolkan pornografi; memprovokasi terjadinya pertentangan SARA. 

Sebaliknya, sesuai Pasal 3 konten film harus sesuai dengan tujuan perfilman, yaitu terbinanya akhlak mulia, terwujudnya kecerdasan kehidupan bangsa, terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatnya harkat martabat bangsa, berkembang dan lestarinya budaya bangsa, dikenalnya budaya bangsa oleh dunia internasional, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan berkembangnya film berbasis budaya bangsa yang berkelanjutan.

“Akhirnya seleksi anggota LSF sudah selesai. Telah terpilih 17 orang yang diamanahkan sebagai penjaga moral bangsa lewat dunia film untuk menjawab tantangan-tantangan zaman periode 2019-2023. Saya ucapkan selamat bertugas atas amanah tersebut,” kata Sukamta.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.