Pameran Seni Rupa  “DERAP – Kelompok 9” Memantik Bara Berkesenian.

0
18
Pameran dibuka oleh Prof. Dr. Phil. Al Makin ( kiri) S.Ag MA, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebuah hasrat bersama mempertemukan 9 seniman lukis dari dua kota untuk memamerkan hasil karya seni rupa meski dalam situasi Pandemi COVID-19. Semangat yang dituangkan dengan tajuk Derap diharapkan menulapkan optimisme pada seniman lainnya.

“Diselenggarakan secara mandiri,  bersembilan, bukanlah sebuah kebetulan tetapi  kami memang  sudah pada saling mengenal satu sama lain meski ada yang tidak sekota 7 orang berada di Jogja dan 2 orang berdomisili di Jakarta,” kata Watie Respati, salah satu pelukis.

Sebuah semangat berkesenianlah yang menyatukan kita bersembilan. dalam event ini di namakan Kelompok 9. Derap adalah sebuah kata semangat tanpa batas yang memantik bara berkesenian pada kita semua, tambahnya.

Hal menarik dalam pameran kali ini mengusung konsep Pameran Tunggal Bersama. Kenapa? Karena setiap pribadi bebas menampilkan ekspresi pada karyanya sesuai konsep masing-masing dan setiap seniman mendapat ruang yang sama bebas mengisi karya yang sesuai. 

Pameran ini berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) 20-26 Februari 2021. Mereka yang  berpartisipasi dalam pameran ini adalah Totok Buchori, Watie Respati, Firdaus Musthafa, M Soegian Noor, Yohana Mulyo, Rismanto, Sigit Handari, Lully Tutus, dan Johnny Gustaaf.

Masing-masing seniman memamerkan enam hingga 11 karya. Secara keseluruhan, ada sekitar 100 lukisan yang dipajang di ruang galeri.

Pelukis Watie Respati berpartisipasi dalam pameran lukisan tampilkan cerita perjuangan Ratu Kalinyamat lewat lukisan berjudul “Ratu pejuang dari bumi Jepara”

Para seniman, menunjukkan karakter, gaya, emosi dan keinginan berkarya masing-masing. Pengunjung disuguhi lukisan-lukisan dekoratif, realis, hingga abstrak. Karya yang dipajang berukuran antara 30×40 cm hingga 195 cm x 5 meter.

Melalui pameran ini muncul semangat baru. “Ada semangat baru, yang selama ini di rumah aja, atau bosen ngapa-ngapain. Akhirnya ada gerakan, kaya kita pameran di masa pandemi ini, tetap bikin semangat temen-temen sebenarnya,” kata Johnny Gustaaf, salah satu peserta lainnya.

“Kalau sesama seniman, ada yang berkarya yang bagus, atau pamerannya indah dipandang, ada gairah. Misalnya saya lihat karya temen-temen yang lain bagus, ini memacu pribadi saya untuk berkarya lebih baik,  makin semangat,” ujarnya. 

Kelompok 9, kata Johnny mendorong seniman-seniman lain untuk tetap semangat selama pandemi. Menjaga marwah berkesenian adalah kewajiban kita agar terus begerak dalam berkarya, mengeluarkan gagasan dan mengasah kecerdasan kita dalam dunia yang kita banggakan. tambah Watie Respati.

Pameran dibuka oleh Prof. Dr. Phil. Al Makin, S.Ag MA, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Alexander Luthfi R, Penulis dan Kurator dan Watie Respati, salah satu  peserta Pameran ini seorang pelukis wanita tergolong energik dan produktif. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir banyak menghasilkan lukisan bercorak dekoratif ekspresif dengan tema yang berbeda-beda.

Corak lukisan yang sama, tapi dengan tema yang berbeda dan menunjukkan Watie Respati proses melukisnya sangat lekat dengan gerak pikiran juga emosinya. Dan ini bukan sikap labil, tetapi kecenderungan di dalam berproses. Melalui cara inilah kemudian pelukis wanita ini mampu menghasilkan beberapa lukisan dengan tema dan ide yang berbeda. 

Kerja kerasnya telah menghasilkan banyak lukisan yang pantas untuk diapresiasi a.l bertema sejarah yaitu cerita perjuangan Ratu Kalinyamat lewat lukisan berjudul “Ratu pejuang dari bumi Jepara” menggambarkan kegigihan seorang Ratu yang berjuang mempertahankan bumi tanah air Tercinta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.