HALAL HILDA'S NOTE

Dr Sayd Farook: RI Berpeluang Untuk Jadi Nomor Satu Dalam Ekomomi Islami Global

Dr. Sayd Farook. ( foto: medium.com) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Indonesia Halal Lifestyle Centre ( IHLC) kembali menjadi mitra dari Dinar Standard yang meluncurkan The State of Global Islamic Economy Report (SGIER) 2022. Suatu peluncuran yang  jadi momen penting bagi pemerintah dan stakeholder secara berjamaah untuk membangun ekosistem ekonomi Islam Dunia.

Di luncurkan pertama kali di Dubai pada 31 Maret 2022, Indomesia tepatnya di Thamrin City yang menjadi pusat grosir produk fashion menjadi tempat peluncuran kedua laporan itu yang dilakukan oleh Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin bersama para stakeholders dalam Halal Industry Event pada 24 Mei 2022 lalu.

” Dalam laporan SGIER 2022, RI di posisi ke empat dan mengalami kemajuan pesat di sektor pangan halal yang memiliki market size US$ 135 miliar, begitu juga dari sektor busana Muslim dan keuangan syariah,” kata Sapta Nirwandar, Ketua IHLC.

Bersama seluruh stakeholder,komitmen serta kerja keras bersama maka Indonesia akan mampu membangkitkan kembali industri pariwisata yaitu perjalanan ramah Muslim ( Halal Tourism), farmasi, kosmetik dan media rekreasi juga, tambahnya.

Sapta yakin target pemerintah tahun  2024 Indonesia akan menjadi pusat produsen produk halal dunia insya Allah tercapai. “Kuncinya kolaborasi, sinergi, saling menopang, komitmen dan kerja berjamaah,” ujarnya.

Saat ini dunia masih memulihkan diri dari dampak pandemi global, COVID-19 yang menjadikan tahun 2020 sebagai sebuah tahun yang belum pernah terjadi dan belum pernah diramalkan dimana seluruh dunia terkena imbasnya.

Keadaan “New Normal” atau normal baru mulai muncul tahun 2021 menyusul gelombamg besar-besaran vaksin dari virus global itu. Edisi kesembilan dari SGIER 2022 ini mencakup perkembamgan dari pertengahan pandemi 2020 hingga kuartal ke tiga 2021.

Adalah Sayd Farook, Senior Partner Dinar Standard & Board Member Dinar Standard yang berbasis di Sydney hadir langsung mewakili DinarStandard pada peluncuran laporan kali ini.

Dr. Sayd Farook bertanggung jawab untuk memimpin proposisi nilai pasar Islam untuk grup Thomson Reuters, memberikan layanan pengetahuan dan informasi kepada pemerintah dan bisnis untuk menjalankan strategi mereka terkait dengan pasar Islam.

Fokus Dr Sayd Farook di Thomson Reuters adalah persimpangan teknologi, layanan keuangan, media, dan intelijen untuk membuahkan hasil yang dapat ditindaklanjuti di seluruh pasar Islam dari Sukuk hingga UKM.

Bertemu pria ini disela-sela peluncuran menjadi sangat berharga. Maklum kontribusinya dalam pengembangan ekonomi Islam global sangat besar namun Farook bersikap sahaja, tetap apa adanya, ramah dan tipe helpfull sehingga seperti jumpa saudara lama. Semangat brotherhood sesama Muslimnya menonjol.

Aktivitasnya memang luar biasa, Dr. Farook tetap aktif terlibat dalam industri Keuangan Islam, melalui penataan transaksi dan produk yang sesuai dengan Syariah, kontribusi konferensi, penelitian pasca doktoral/pengawasan/penerbitan dan penyusunan standar/persiapan studi untuk lembaga infrastruktur.

Sayd memegang dua gelar First Class Honours’ University di bidang Hukum dan Bisnis dan PhD di bidang Ekonomi Keuangan, dengan fokus khusus pada perbankan Islam, dari University of Technology Sydney.

” Saya sekarang di Sydney, pokoknya telpon, email atau janjian videocall kalau masih ada pertanyaan,” ujarnya sebelum naik ke podium untuk peluncuran dan pertemuan hybrid dengan Iman Ali, Research Analysist dan CEO DinarStandard Rafi-uddin Shikoh serta nara sumber lainnya yang dipandu Gunawan Yasni.

Gunawan yang juga pembawa acara TV, seorang ekonom, ahli dan praktisi keuangan syariah ini menanyakan pada Sayd Farook bagaimana kiat-kiatnya agar ditahun mendatang RI menempati posisi di ranking satu dalam status SGIER.

” Kalau dilihat kilas baliknya, dua tahun terakhir ini kemajuan di industri halal Indonesia memang melesat. Tahun 2014 waktu saya ke Indonesia untuk membuat riset SGIE dukungan pemerintah Indonesia belum seperti ini. Banyak peningkatan apalagi saya harus bolak-balik datang ” ujar Dr Sayd Farook.

Menurut dia, dalam ekonomi Islam, philantrophy dan pendidikan juga masuk dan salah satu program televisi buatan Malaysia. Omar dan Hana adalah salah satu industry halal yang masuk sektor media rekreasi.

“Omar & Hana adalah kakak-beradik yang bahagia, ingin tahu, dan penuh kasih. Mereka menarik teman-teman di seluruh dunia ke dunia mereka yang menakjubkan. Anak – anak saya di Sydney selalu menantikan acara ini termasuk serial Nussa dari Indonesia,” jelasnya.

Indonesia dengan kekayaan seni budayanya juga mampu membuat film-film Islami seperti Omar & Hana karena produk ekraf film animasi yang sarat dengan pendidikan dengan kualitas konten terbaik juga bisa langsung mendunia, kata Farook.

Pernyataan itu langsung dikomentari Gunawan Yasni bahwa Indonesia memang gudangnya kreatif  dan ucapan Farook menjadi “Pe’er” atau pekerjaan rumah untuk pemerintah dan semua pihak yang peduli produk halal.

Sayangnya serial TV Nussa karya anak bangsa diproduksi oleh studio animasi The Little Giantz dan 4Stripe Productions yang awalnya di kanal YouTube mendapat fitnah konten Islam radikal sehigga diberhentikan penayangannya di sejumlah TV nasional sejak 2021.

Film serial animasi yang disutradarai Bony Wirasmono dan pengisi suaranya a.l artis Dewi Sandra in dikutip dari Wikipedia jumlah pelanggannya pada Oktober 2021 mencapai 8,4 juta pelanggan dan total tayang ditonton oleh 2,1 miliar orang.

Selain itu Farook mengingatkan bahwa Indonesia adalah negeri yang indah dan pastas menjadi destinasi wisata halal nomor satu di dunia. Tapi mengapa Lombok yang sudah dibanjiri penghargaan hotel halal terbaik di dunia belum menjadi tujuan utama ?

” Kelas menengah meningkat cepat termasuk di Indonesia. Saya heran sekali mengapa saudara-saudara Muslimku lebih suka ke Langkawi, Pulau Redang dan Tioman di Malaysia dari pada berwisata ke Indomesia, padahal kalau digarap serius bisa percepat RI statusnya naik kelas ke nomor satu,” jelasnya.

Dr Sayd Farook mengingatkan 30% generasi Milenial usia 14 -29 tahun berperan dalam menggerakkan ekonomi Islam sehingga optimalkan halal industry dengan memenuhi kebutuhan mereka.

Nara sumber lainnya dari acara yang digelar luring dan daring dari Dubai Uni Emirat Arab dan Indonesia ini  adalah Iman Ali, wanita cantik yang menjadi Research Analyst Dinar Standar.

” Indonesia kalau mau naik kelas coba optimalkan potensi Muslim Milenialnya di semua sektor industri halal,” kata Iman Ali di webinar yang diikuti peserta dari  27 negara.

Pernyataan kalangan milenial seperti Moh. Abdul Aleem yang yinggal di Ametika Setikat mengatakan kalau travelling suka cari mesjid. Bahkan akomodasinya sebisa mungkin dekat mesjid dan dia akan cari kamar mandi terbaik dan bersih.

Alyssa Nur Hannah, Gen Z dari Malaysia lebih suka ke Jepang dalam hal melakukan Perjalanan Ramah Muslim ( Halal Tourism). Soalnya buku panfuannya lengkap terutama untuk mendapatkan makanan halal ( halal food).

Generasi Z identik dengan teknologi.  Meskipun Milenial masih digital, Generasi Z adalah generasi pertama yang tumbuh dengan teknologi sejak awal.  

Itulah mengapa segmentasi audiens sangat penting saat memasarkan ke Generasi Z;  mereka tidak boleh disamakan dengan Milenial.  Pemasar perlu memahami siapa mereka, dan menggunakan segmentasi audiens untuk menyesuaikan strategi pemasaran generasi Z mereka.

CEO DinarStandard Rafi-uddin Shikoh menyampaikan, meski tetap berada di peringkat yang sama seperti tahun lalu, Indonesia mengalami kenaikan signifikan di sektor makanan halal. Indonesia naik dua peringkat ke posisi kedua dalam sektor halal food.

“Indonesia mempertahankan posisi keempat di GIEI secara keseluruhan peringkat, Indonesia terus memperlihatkan kinerja yang baik dalam meningkatkan peringkat Halal Food,” kata Rafi-uddin.

Dia optimistis, lamgkah pemerintah Indonesia yang mengambil berbagai langkah untuk meningkatkan sertifikasi halal, salah satunya melalui digitalisasi, sektor keuangan syariah di Indonesia juga punya prospek menjanjikan.

“Perkembangan di sektor keuangan digital Islam juga terus berlangsung dengan Indonesia adalah rumah bagi fintech syariah,” kata Rafi-uddin.

Halal Industry Event yang digelar IHLC dan mitra-mitranya dengan meluncurkan SGIE Report 2022, Ritel Modern Peduli Produk Halal, Halal Center Indonesia, dan Soft Launching Aplikasi Halal Scanner “Haliv” akan mendorong RI mencapai targetnya di 2024. 

 

Hilda Ansariah Sabri

Hilda Ansariah Sabri, Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers. Saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat ( 2018-2023)