Kursi raksasa Gumitir ( Kiri) dan kursi raksasa di Jenewa.
JEMBER, bisniswisata.co.id: Perjalanan menuju Gunung Gumitir yang menjadi perbatasan dua kota yaitu Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi jalannya berkelok-kelok, menanjak, dan menurun dengan pemandangan lembah dan pepohonan hijau yang indah.
Jalur tersebut memang berada pada gugusan pegunungan dengan hutan, tebing, dan jurang di sisi kanan dan kiri jalan yang berkelak-kelok tajam.
Menyetir di kawasan ini memang butuh ekstra hati-hati apalagi penguasa daerah baik di Jember maupun Banyuwangi ‘tutup mata’ dengan banyaknya warga yang berdiri atau duduk di pinggir jalan untuk mengharapkan lemparan uang sedekah dari para pelintas jalanan.
Terletak sekitar 39 kilometer dari kota Jember, akhirnya tiba di Cafe & Rest Area Gumitir bersama sepupu Mardiana Thaher dan keluarganya, Priyo Santoso dan Ulfa. Sebelum masuk ada cafe pas di tepi jalan juga dengan deretan motor yang tengah istirahat.
Tak hanya menyediakan panorama perbukitan dan kawasan perkebunan kopi dari ketinggian, tempat ini juga menyediakan areal permainan anak-anak, mobil terbuka untuk berkeliling serta lapangan olahraga dan tempat berkemah.
Begitu Pri memarkirkan mobilnya, udara segar langsung terhirup karena kami berada di atas ketinggian. Letak tempat ini yang berada di ketinggian 628 meter di atas permukaan laut membuat pengunjung merasakan udara sejuk khas pegunungan yang dapat menghilangkan penat setelah melakukan perjalanan panjang.
Priyo Santoso dan keluarga
Kawasan ini juga merupakan perkebunan kopi Robusta milik PTPN XII. Mungkin karena hari kerja sehingga tidak banyak pengunjung sehingga kami lebih leluasa menikmati alam sekitar.
Biasalah begitu keluar dari mobil kesibukkannya foto sana-sini sambil mendengarkan cerita Pri bahwa anak bontot saya yang juga traveler sewaktu SMP sudah berkunjung ke tempat ini bersama Ulfa, putri tertuanya
Kursi Raksasa
Di tempat ini taman bunganya di tata sehingga juga asyik untuk berfoto ria. pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan pohon kopi dari sebuah kursi raksasa yang sudah dilengkapi tangga untuk mempermudah akses pengunjung menaiki kursi raksasa ini.
Kursi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung karena memiliki tinggi alas hingga 2,5 meter dan tinggi sandarannya mencapat 5,3 meter. Tinggi q. Tapi untungnya, ada tangga yang bisa dinaiki di sebelahnya jika pengunjung ingin berfoto di atas sana menikmati pemandangannya.
Kursi ini kontan mengingat perjalanan terakhir ke luar negri. Medio Juni 2019 sebelum dunia kedatangan tamu bernama wabah COVID-19. Waktu itu perjalanan singkat dari stasiun utama Jenewa Gare Cornavin membawa saya ke Place des Nations, kawasan perkantoran organisasi internasional di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa di Jenewa.
Ini alun-alun terbuka yang luas dengan deretan air mancur dan ada kursi raksasa dengan kaki patah menjulang ke langit yang menjadi tugu peringatan.
Di 1997, sebuah perjanjian untuk melarang penggunaan ranjau anti-personil ditandatangani ke dalam tindakan. Ini menjadi dikenal sebagai Perjanjian Ottawa, atau Perjanjian Pelarangan Ranjau.
Pada saat yang sama, untuk mendorong negara-negara untuk menandatangani perjanjian dan menghentikan penggunaan ranjau darat, organisasi non-pemerintah Handicap International menugaskan pematung Swiss, Daniel Berset, untuk menciptakan Broken Chair untuk menarik perhatian para korban ranjau.
Hasilnya adalah monumen kursi 12 meter tinggi dan 5.5 dengan kaki kirinya patah menjadi dua yang sekarang berdiri di atas Place des Nations. Awalnya hanya dipamerkan selama tiga bulan, tetapi sekarang sudah lebih dari 20 tahun dan telah menjadi landmark Jenewa Internasional.
Tiruan kursi itulah yang sekarang juga berada di Bukit Gumitir. Selain itu, di tempat ini juga menyediakan wahana permainan seperti outbond, fliying fox, ATV, berkuda, hingga kereta wisata untuk mengunjungi pabrik kopi yang telah diresmikan Belanda pada tahun 1934.
Di tempat ini, pengunjung juga bisa mengunjungi terowongan peninggalan Belanda yang telah dibangun pada kisaran tahun 1901 hingga 1902 dan masih berdiri kokoh sampai saat ini. Terowongan sepanjang 690 meter ini masih berfungsi hingga saat ini beserta kereta api yang melintasinya.
Dari tempat itu, para pengunjung tak hanya bisa menikmati hamparan kebun kopi robusta seluas 1.165 hektare, namun juga bisa berkeliling di dalamnya. Ada beberapa pilihan kendaraan yang bisa digunakan para pengunjung untuk blusukan ke kebun kopi, terowongan kereta api Mrawan, dan pabrik pengolahan kopi Goenoeng Goemitir yang dibangun pemerintah kolonial Belanda antara tahun 1901 dan 1903 silam itu.
Bagi yang suka berkelana dengan kuda bisa menyusuri jalan setapak di tengah kebun kopi dan kaki bukit. Jika ingin berkeliling di kebun dan bukit dengan kendaraan off-road, tempat itu menyediakan ATV 110 cc dan 250 cc, serta mobil Jeep Willys dengan. Bagi yang ingin berkeliling bersama rombongan, disediakan beberapa unit kereta wisata dan kereta kelinci.
Kereta yang ditarik mobil dobel gardan (4×4) itu lebih banyak dipilih rombongan ibu-ibu dan anak-anak. Jalanan di tengah kebun kopi dan area terowongan kereta dan pabrik kopi berbatu. Sambil menikmati sensasi jalan-jalan berbatu itu, pengunjung bisa melihat dari dekat rombongan buruh kebun kopi yang sedang bekerja, terowongan bawah tanah, dan jembatan kereta api kuno peninggalan Belanda yang hingga kini masih digunakan.
Di akhir rute perjalanan, pengunjung juga diberi kesempatan untuk menengok kompleks perumahan lawas buruh perkebunan, rumah dinas administratur (pimpinan) kebun, dan pabrik pengolahan kopi Goenoeng Goemitir.

Cafe Gumitir
Tempat ini juga merupakan area favorit pengunjung untuk berfoto ria dengan latar belakang bangunan dan beragam mesin kuno. Kalau sedang musim panen kopi tiba (bulan Juni-Juli), kita bisa menyaksikan langsung pabrik kopi itu mengolah biji kopi robusta
Akhir kunjungan, kegiatan kembali berfoto ria di depan Cafe Gumitir dengan tanaman rambat bentuk LOVE. Di sini bisa mencicipi menu tersedia yang cukup beragam terbagi-bagi menjadi jenis makanan, minuman, jajanan dan menu kopi corner tersendiri.
Menu makanan utamanya ada sekitalr 15 macam mulai dari Ayam Goreng Laos Gumitir, Bebek Goreng Petir, Ayam Bakar, Mie Kuah, Aneka nasi goreng, Sop Iga Garang Asem, Aneka Nasi Goreng, Nasi Pecel hingga Soto.
Untuk minumnya juga tersedia belasan menu dari aneka jus buah, Es Mega Mendung, Es Durian, Es Degan, Wedang Jahe hingga minuman tradisional lainnya yaitu Beras Kencur.
Belum waktunya makan berat bisa pilih makanan ringan unggulan seperti Tahu Walik Gumitir yang enalnya pol, Singkong Goreng, Batagor, Siomay Jamur, Aneka Pisang Goreng dan Risoles hingga Rujak Buah.
Untuk kopi corner, hasil perkebunan dan menunya komplit sampai 40 macam mulai dari kopi Arabika, Robusta dan juga ada coklat panas hingga kopi loewak yang mendunia.
Tak salah untuk kunjungan ke Gumitir ini pengunjung dimanjakan dengan berbagai indra yang dimilikinya mulai dari indra mata, lidah hingga pendengarannya menikmati suara desiran angin yang lembut. Nah Kapan datang dan menyusul ke sini ?









