ART & CULTURE INTERNATIONAL SOSOK

‘Pure Hearts’: Ketika Shervin Boloorian Menerjemahkan Cinta dan Konflik Menjadi Seruan Damai

Ubud, Bali, bisniswisata.co.id: Musisi dan terapis suara kelahiran Iran, Shervin Boloorian, kembali merilis karya terbarunya bertajuk Pure Hearts pada 27 Maret. Di tengah meningkatnya ketegangan global, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat. Lagu ini hadir bukan sekadar sebagai karya musik, tetapi sebagai refleksi mendalam tentang cinta, kehilangan, dan kemungkinan perdamaian.

Jika rilisan sebelumnya, One More Day, menyelami ruang duka dan kerinduan akan kehilangan, maka Pure Hearts bergerak ke tahap berikutnya: penerimaan. Lagu ini tidak lagi berbicara tentang mempertahankan, melainkan tentang keberanian untuk melepaskan. Sebuah perspektif yang jarang diangkat dalam narasi cinta modern.

Di inti Pure Hearts terdapat sebuah gagasan yang sederhana namun radikal: bahwa cinta sejati tidak selalu berarti bertahan, tetapi terkadang justru melepaskan. Shervin membingkai konsep ini bukan sebagai kegagalan hubungan, melainkan sebagai bentuk cinta yang paling murni: yang tidak memaksakan, tidak mendominasi, dan tidak mengikat.

Gagasan ini terasa semakin relevan ketika ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Dalam pandangan Shervin, hubungan antarmanusia dan hubungan antarnegara memiliki pola yang serupa: sering kali dipenuhi oleh dorongan untuk menguasai, mempertahankan, dan menang. Namun, mengakhiri konflik, baik personal maupun geopolitik, membutuhkan sesuatu yang berbeda: empati, penghormatan terhadap kehendak bebas, dan keberanian untuk tidak memaksakan kehendak.

Sebagai seorang seniman yang pernah bekerja sebagai penasihat kebijakan AS-Iran di Washington, DC, Shervin membawa perspektif yang jarang dimiliki musisi pada umumnya. Ia tidak hanya berbicara dari sisi emosional, tetapi juga dari pengalaman langsung menyaksikan bagaimana dinamika kekuasaan membentuk konflik berkepanjangan.

Musik yang Mengalir Tanpa Batas

Secara musikal, Pure Hearts menawarkan pendekatan yang intim dan organik. Terinspirasi dari penampilan live Billie Eilish dalam What Was I Made For?, Shervin merekam lagu ini tanpa menggunakan click track, membiarkan tempo dan emosi mengalir secara alami. Hasilnya adalah sebuah komposisi yang terasa hidup, rapuh, dan jujur.

Produksi lagu ini kembali dipercayakan kepada Kipper Eldridge, produser peraih Grammy dan Emmy yang dikenal lewat kolaborasinya dengan Sting. Dengan pendekatan yang minimalis namun presisi, Eldridge berhasil menjaga esensi emosional lagu tanpa menghilangkan kehangatan aransemen.

Lapisan musiknya diperkaya oleh kontribusi Jules De Gasperis dalam produksi tambahan serta instrumentasi, dan Sakari Heikka melalui sentuhan string yang halus. Keseluruhan aransemen membentuk lanskap suara yang lembut namun penuh kedalaman, memberi ruang bagi vokal Shervin yang dikenal dengan vibrato halus dan intensitas emosionalnya untuk menjadi pusat perhatian.

Musisi dan terapis suara kelahiran Iran, Shervin Boloorian.

Di Antara Dua Dunia: Identitas dan Konflik

Sebagai pengungsi asal Iran yang kini menetap di Bali, Shervin Boloorian hidup di antara dua dunia: Timur dan Barat, tradisi dan modernitas, konflik dan penyembuhan. Identitas lintas budaya ini tidak hanya membentuk musiknya, tetapi juga cara ia memahami dunia.

Pure Hearts lahir di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, dua entitas yang selama puluhan tahun berada dalam hubungan yang kompleks dan penuh konflik. Dalam konteks ini, lagu tersebut menjadi lebih dari sekadar refleksi personal; ia berubah menjadi pernyataan kultural yang halus namun kuat.

Alih-alih menyampaikan pesan secara konfrontatif, Shervin memilih pendekatan yang lebih humanis. Ia tidak menunjuk pihak mana yang benar atau salah, melainkan mengajak pendengar untuk melihat konflik dari sudut pandang yang lebih dalam: sebagai kegagalan untuk saling memahami, dan sebagai peluang untuk memilih jalan yang berbeda.

Pendekatan reflektif ini juga tercermin dalam interpretasi visual Pure Hearts. Video musiknya mengangkat nuansa dokumenter dengan menghadirkan potongan-potongan realitas konflik global, yang secara halus mengingatkan bahwa di balik setiap ketegangan politik, selalu ada manusia, kehidupan, dan emosi yang terdampak.

Tanpa menjadi eksplisit atau sensasional dalam penyampaiannya, visual tersebut berfungsi sebagai kontras terhadap tema utama lagu: cinta yang tidak memaksakan. Dalam ruang ini, perang dan cinta tidak berdiri sebagai dua hal yang terpisah, melainkan sebagai dua sisi dari kondisi manusia yang sama: keinginan untuk memiliki, dan kebutuhan untuk melepaskan.

Menariknya, produksi visual ini turut melibatkan sentuhan kreatif dari produser televisi Indonesia, Justin Sabrinsky, yang berperan dalam pengolahan dan penyuntingan video. Pendekatan visual yang dihadirkan memperkuat narasi lagu tanpa menggeser fokus utamanya, menjaga keseimbangan antara pesan artistik dan refleksi kemanusiaan.

Shervin Boloorian dalam videoklip “Pure Hearts”.

Jika One More Day adalah tentang keinginan untuk menahan waktu dan mempertahankan apa yang telah hilang, maka Pure Hearts adalah tentang menerima bahwa tidak semua hal bisa atau harus dipertahankan.

Melalui lagu ini, Shervin Boloorian menunjukkan evolusi tidak hanya sebagai musisi, tetapi juga sebagai manusia. Ia bergerak dari duka menuju pemahaman, dari keterikatan menuju kebebasan emosional. Dalam prosesnya, ia mengajak pendengar untuk melakukan hal yang sama: untuk tetap terbuka, bahkan ketika dunia terasa terlalu berat untuk dihadapi.

Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, Pure Hearts hadir sebagai pengingat lembut bahwa perdamaian, baik dalam hubungan personal maupun global, tidak dimulai dari kekuatan, tetapi dari kerelaan untuk memahami, menghormati, dan pada akhirnya, melepaskan.

Haamim Rizaldhi

Tim Kreatif, bisniswisata.co.id