Oleh: Laala Bechetoula
“Dan persiapkanlah kekuatan yang mampu, kamu miliki untuk melawan mereka…” – Surat Al-Anfal (8:60)
PHOENIX, AS, bisniswisata.co.id: Pada pagi hari tanggal 28 Februari 2026, badai api menghantam Iran. Dalam hitungan jam, ratusan serangan menargetkan infrastruktur militernya, fasilitas strategisnya, dan jantung kepemimpinan politiknya.
Logika di balik kampanye ini sudah familiar: membanjiri, mendestabilisasi, dan memaksa keruntuhan. Diharapkan akan cepat. Menentukan. Konklusif. Namun waktu, seperti yang sering terjadi dalam sejarah, menolak untuk menuruti kekuasaan.
Dilansir dari www.islamicity.org, beberapa minggu kemudian, Selat Hormuz tetap tertutup, pasar global bergetar, dan perang belum memberikan kejelasan yang dijanjikan oleh para arsiteknya. Iran, meskipun terluka tetapi tetap berdiri, terus berfungsi, melawan, dan membentuk syarat-syarat konfrontasi.
Apa yang dimaksudkan sebagai demonstrasi dominasi justru mengungkapkan sesuatu yang jauh lebih kompleks: batas kekuatan ketika dihadapkan dengan ketahanan.
“Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui apa yang dilakukan orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menunda mereka untuk hari di mana mata akan memandang dengan ngeri.” – Surat Ibrahim (14:42)
Ayat ini tidak menjanjikan keadilan segera. Ayat ini berbicara tentang waktu—tentang penundaan, tentang konsekuensi yang terungkap. Dan justru dalam waktu itulah perang ini harus dipahami.
Apa yang sedang terjadi bukanlah sekadar konflik militer. Ini adalah pertemuan antara dua hubungan yang berbeda dengan sejarah. Yang satu bersifat langsung, tidak sabar, terstruktur di sekitar hasil yang cepat dan kemenangan yang terukur.
Yang lain bersifat panjang, berlapis, dan berakar dalam ingatan. Iran bukanlah sekadar negara modern yang bereaksi terhadap tekanan; ia adalah pewaris kesinambungan peradaban yang telah mengalami penaklukan, fragmentasi, dan kelahiran kembali selama ribuan tahun.
“Tidak ada bangsa yang pernah dibebaskan oleh perang yang tidak dapat mereka tanggung.” – Frantz Fanon
Jauh sebelum munculnya kekuatan Barat modern, Persia telah merumuskan prinsip-prinsip pemerintahan dan hidup berdampingan yang akan bergema selama berabad-abad.
Dekrit Cyrus Agung, yang dikeluarkan pada abad keenam SM, menegaskan martabat bangsa, kebebasan berkeyakinan, dan hak kembali bagi para pengungsi. Ini bukanlah abstraksi; ini adalah realitas yang diimplementasikan.
Warisan seperti itu tidak hilang di bawah bombardir. Ia membentuk bagaimana suatu masyarakat memandang dirinya sendiri, bahkan di bawah tekanan ekstrem.
Ini tidak mengurangi penderitaan saat ini. Ribuan nyawa telah hilang. Keluarga telah hancur. Anak-anak telah meninggal di bawah ledakan yang tidak dapat mereka pahami. Suara-suara yang muncul dari dalam Iran berbicara tentang ketakutan, kemarahan, dan kontradiksi.
Beberapa orang yang pernah menentang pemerintah mereka sendiri sekarang mendapati diri mereka menolak kekerasan yang dipaksakan dari luar. Ketegangan ini bukanlah tanda keruntuhan; ini adalah tanda masyarakat yang bergulat dengan trauma sambil menolak untuk bubar.
“Penakluk tidak perlu lebih kuat dari yang ditaklukkan. Cukuplah ia lebih mampu bertahan.” – Ibn Khaldun
Selama beberapa dekade, Iran hidup di bawah sanksi, isolasi, dan tekanan ekonomi. Apa yang dimaksudkan untuk melemahkannya, dalam banyak hal, justru membentuknya kembali. Terputus dari sistem yang tidak dikendalikannya, Iran mengembangkan sistemnya sendiri.
Ditolak aksesnya terhadap teknologi, Iran beradaptasi dan berinovasi. Yang muncul bukanlah kekuatan konvensional, tetapi ketahanan—kemampuan untuk beroperasi di bawah keterbatasan dan mengubah keterbatasan menjadi strategi.
“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, tetapi itu baik bagimu; dan mungkin kamu menyukai sesuatu, tetapi itu buruk bagimu. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” – Surat Al-Baqarah (2:216)
Apa yang tampak sebagai kelemahan, seiring waktu, dapat menjadi sumber kekuatan. Ini bukanlah paradoks; ini adalah hukum sejarah yang berulang.
Geografi wilayah tersebut memperkuat realitas ini. Selat Hormuz, sempit namun sangat penting, membawa sebagian besar pasokan energi dunia. Gangguan ini tidak hanya memengaruhi mereka yang terlibat langsung dalam konflik, tetapi juga sistem global secara keseluruhan.
Di sampingnya terdapat kerentanan lain yang lebih tersembunyi: air. Sebagian besar wilayah Teluk bergantung pada desalinasi, sebuah sistem yang rapuh dan terkonsentrasi.
Dalam lanskap seperti itu, kekuasaan tidak lagi didefinisikan semata-mata oleh keunggulan militer, tetapi oleh kemampuan untuk mempengaruhi kondisi kehidupan itu sendiri.
Namun di balik strategi dan infrastruktur terdapat sesuatu yang kurang nyata, tetapi tidak kalah menentukan: makna. Bagi banyak orang di Iran, narasi pengorbanan dibentuk oleh tradisi spiritual yang mendalam.
Kenangan Karbala—di mana Imam Hussein memilih kematian daripada penyerahan diri—tetap menjadi titik acuan yang hidup. Dalam kerangka ini, penderitaan bukanlah sesuatu yang kosong. Penderitaan diinterpretasikan. Penderitaan diintegrasikan ke dalam cakrawala moral.
“Dan janganlah kamu katakan tentang orang-orang yang gugur di jalan Allah, ‘Mereka telah mati.’ Padahal mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” – Surat Al-Baqarah (2:154)
Ini bukan sekadar teologi. Ini adalah pandangan dunia yang membentuk kembali makna kehilangan itu sendiri. Dan ketika kehilangan diubah, strategi yang dibangun di atas rasa takut mulai kehilangan efektivitasnya.
Sejarah berulang kali mengingatkan kita bahwa kekuatan yang luar biasa tidak menjamin keberhasilan yang langgeng. Kekaisaran seringkali keliru mengartikan kemampuan mereka untuk menghancurkan sebagai kemampuan mereka untuk menang.
Dari Asia Tenggara hingga Timur Tengah, polanya telah terlihat: kemenangan cepat diikuti oleh ketidakstabilan yang berkepanjangan, keberhasilan taktis diikuti oleh ketidakpastian strategis.
Masyarakat tidak selalu merespons tekanan dengan cara yang dapat diprediksi. Terkadang mereka terpecah. Terkadang mereka beradaptasi. Dan terkadang mereka bertahan.
“Dan pada hari-hari ini Kami berganti-ganti di antara manusia…” – Surat Aal ‘Imran (3:140)
Ayat ini mengungkapkan prinsip yang melampaui konflik tunggal apa pun. Kekuasaan bukanlah sesuatu yang statis. Kekuasaan berputar. Kekuasaan bergeser. Kekuasaan berevolusi dari waktu ke waktu.
Di tengah perang ini, sementara perhatian tertuju pada konfrontasi langsung, transformasi yang lebih luas diam-diam sedang berlangsung. Keseimbangan strategis sedang dikalibrasi ulang. Persepsi bergeser.
Implikasi dari konflik ini akan meluas jauh melampaui medan perangnya, memengaruhi bagaimana bangsa-bangsa memahami kekuasaan, kerentanan, dan kemerdekaan di tahun-tahun mendatang.
Namun mungkin pertanyaan terpenting bukanlah geopolitik, tetapi moral. Apa artinya menang? Apakah kemenangan diukur dengan kehancuran, dominasi, atau pembungkaman musuh? Atau apakah kemenangan diukur dengan kemampuan untuk tetap bertahan, untuk menanggung, untuk melestarikan makna di bawah tekanan?
Menghadapi perang ini, jalur diplomasi dilaporkan dapat dicapai. Dialog dimungkinkan. De-eskalasi dapat dibayangkan. Pilihan untuk meninggalkan kemungkinan-kemungkinan ini demi kekuatan bukanlah sekadar strategis; itu etis. Dan sejarah, dalam ingatannya yang panjang, tidak melupakan pilihan-pilihan tersebut.
Pada akhirnya, kontrasnya tetap jelas. Kekaisaran memiliki kekuatan yang sangat besar, mampu membentuk peristiwa dalam jangka pendek. Peradaban memiliki sesuatu yang kurang terlihat tetapi seringkali lebih abadi: ingatan, makna, dan kemampuan untuk menyerap waktu.
“Sesungguhnya Kami melemparkan kebenaran terhadap kebohongan, dan kebenaran itu menghancurkannya, lalu lenyaplah kebohongan itu.” – Surat Al-Anbiya (21:18)
Kebenaran, dalam pengertian ini, bukan hanya sebuah gagasan. Ia adalah kekuatan yang terungkap, terkadang perlahan, tetapi dengan kegigihan. Kekaisaran memiliki daya tembak yang lebih besar. Peradaban memiliki ingatan yang lebih dalam.
Sejarah, yang sabar dan tak kenal menyerah, cenderung tidak menyukai apa yang terkuat saat itu, tetapi apa yang mampu bertahan. Kekuatan dapat menghancurkan. Iman dapat bertahan. Waktu yang akan membuktikan.
Penulis : Laala Bechetoula adalah seorang sejarawan, jurnalis, dan analis geopolitik independen. Artikel ini telah tayang di IslamCity pada 26 Maret 2026










