JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menciptakan pengalaman wisata yang autentik, personal, bermakna, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat menjadi faktor-faktor yang perlu diperhati-kan dalam rumuskan arah pembangunan pariwisata Indonesia menuju 2027.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan ada perubahan wisatawan global yang harus diprioritaskan ketika membuka forum pers dan tokoh-tokoh asosiasi di Indonesia Tourism & MICE Outlook (ITMO) 2027 diselenggarakan oleh Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Forwaparekraf) di Hotel Artotel Suite Mangkuluhur, Jakarta, Kamis.
“Itu sebabnya kita harus membangun
nilai baru pariwisata Indonesia melalui pengalaman sesuai tema yang kita bahas ini karena secara global kebutuhannya adalah menciptakan pengalaman wisata yang autentik, personal, bermakna, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar)
Ni Luh Puspa mengatakan perubahan preferensi wisatawan global menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam merumus arah pembangunan pariwisata Indonesia menuju 2027.
“Wisatawan saat ini tidak lagi sekadar mencari destinasi atau tempat untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang autentik, yang personal dan juga bermakna,” ujarnya.
Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan destinasi, budaya, dan keramahan masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengalaman wisata bernilai tinggi dan berdaya saing.
Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Pada periode yang sama, perjalanan wisatawan Nusantara mencapai sekitar 1,2 miliar perjalanan. Dari aktivitas pariwisata tersebut, sektor pariwisata Indonesia menghasilkan devisa sekitar US$18,27 miliar.
“Capaian tersebut memberikan fondasi yang kuat untuk kembali menjawab pertanyaan bagaimana kita membangun nilai baru pariwisata Indonesia,” katanya.
Kecenderungan membangun nilai baru itu terutama ditunjukkan oleh kalangan milenial dan Gen Z yang 52 persen bersedia membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman wisata yang berkualitas.
Oleh karena itu, kemampuan para pemangku kepentingan pariwisata RI dalam menjawab minat wisatawan tersebut akan berdampak positif pada masa tinggal yang lebih lama dan belanja wisatawan yang lebih banyak lagi.
Menjawab hal itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) meningkatkan kualitas wisata pengalaman dengan memanfaatkan dua dari enam tren wisata global, yakni MICE dan bleisure – perpaduan perjalanan business and leisure.
Berdasarkan ICCA Global Watch Business Analytics Country and City Ranking 2025, Indonesia menempati peringkat ke-37 dunia dan ke-4 ASEAN.
Sejalan dengan MICE, tren bleisure semakin menguat karena mereka yang datang ke sebuah event tidak hanya mengisi waktu untuk mengikuti kegiatan di event tersebut, tetapi juga menikmati daya tarik di daerah tersebut.
Berkaca dari Singapura yang merupakan pesaing utama di regional, Indonesia memiliki pekerjaan rumah besar dalam menjahit ekosistem pariwisata – dari penyedia atraksi wisata, hotel, hingga penyedia kuliner – secara kuat untuk memberikan pengalaman wisata yang berkualitas.
Pengembangan MICE Indonesia harus bergeser dari sekadar menghadirkan event menuju penciptaan pengalaman yang bernilai. Pengalaman tersebut harus mampu memperkuat destinasi, menggerak-kan ekonomi lokal, dan juga meningkatkan daya saing Indonesia di panggung MICE dunia.
“Dengan kata lain, Indonesia tidak hanya menawarkan venue, tapi pengalaman di dalamnya, terlebih multiplier effect yang dihasilkan dari penyelenggaraan event menyentuh berbagai sisi.” kata Ni Luh Puspa.
Berdasarkan data Kemenpar, melalui program Event by Indonesia sepanjang 2025, sedikitnya ada 12,2 juta pengunjung datang, menggerakkan 20.887 UMKM dengan 257.561 tenaga kerja terlibat, termasuk pelaku seni dan anggota komunitas.
Mantan jurnalis/ presenter TV swasta ini
juga menekankan pentingnya berkolaborasi dengan media dalam membangun citra pariwisata Indonesia.
“Pariwisata itu sangat membutuhkan teman-teman di media untuk menjaga kualitas dari citra Indonesia di mata publik dan juga tentu menjadi rekan untuk bisa memberikan kami saran, kritik dan sebagainya untuk semakin kembangkan pariwisata Indonesia,” tuturnya.
Dengan pendekatan itu pariwisata diharapkan mampu memperpanjang masa tinggal wisatawan, meningkatkan belanja wisatawan, memperkuat kualitas pengalaman, serta memperluas manfaat ekonomi yang diterima masyarakat di berbagai destinasi Indonesia.
Menurut Ni Luh Puspa, tantangan pembangunan pariwisata menuju 2027 adalah menerjemahkan pertumbuhan jumlah wisatawan menjadi peningkatan nilai ekonomi dan manfaat yang lebih luas dan yang terpenting menciptakan pengalaman bermakna bagi wisman ketika kembali ke negaranya.
Pengalaman yang lebih berkualitas dari kegiatan MICE atau Meeting, Incentive, Conference & Exhibition karena kualitas pengalaman wisatawan harus menjadi perhatian agar perjalanan yang dilakukan tidak hanya menghasilkan angka kunjungan, tetapi memberikan makna mendalam bagi wisman.
“Capaian ini tidak boleh berhenti pada peningkatan jumlah kunjungan dan juga perjalanan. Tidak boleh berhenti hanya sebatas angka saja,” kata Ni Luh Puspa.
Dia menegaskan manfaat pertumbuhan pariwisata harus dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas. Esensi
tentu adalah bagaimana masyarakat bisa merasakan dampak dari angka yang kemudian dirilis oleh BPS itu. Menerjemahkannya Beyond Numbers, itu yang kemudian menjadi cita-cita kita bersama,” ujarnya.










