Menikmati Perjalanan Bisnis dan Wisata di Istanbul, Turki

0
214
  1. Istana Topkapi dan pemandangan Selat Bosphorus yang indah.

Santi Mia Sipan, CEO Jaty Arthamas yang juga Founder Wise Women dan Sekjen CEO Indonesia menceritakan perjalanannya ke Turki 20-28 November 2018 lalu. Berikut laporannya:

ISTANBUL, Turki, bisniswisata.co.id: Happy, perasan bahagia menyergap begitu roda pesawat Qatar Airways menyentuh landasan  di Bandara Sabiha Gökçen. Bersama Mutia Sari yang menjadi teman seperjalanan, kami akhirnya tiba di bandara internasional yang mengambil nama pilot pesawat tempur pertama Turki.

Mendarat di kota Istanbul yang berada persis di dua benua yaitu Eropa dan Asia membuat hati ingin cepat-cepat melihat pesona kota yang memadukan unsur kemoderenan benua biru sekaligus keramahan ala masyarakat Timur.

Kunjungan ke Turki kali ini adalah undangan Majalah Economic Review dan Ideku, pimpinan Nana Irlisa Rachmadiana yang menggelar Indonesia-Turkey Global CEO Awards bekerjasama dengan DEiK Turkiye.

Selesai urusan imigrasi dan naik kendaraan menuju hotel barulah paham bahwa Bandara Sabiha Gökçen ini lokasinya sekitar 35 km Tenggara dari pusat kota İstanbul.  Bandara ini berada di sisi Asia dari kota dua benua tersebut dan dibangun karena Bandar Udara Internasional Atatürk (di sisi Eropa) tidak cukup lagi untuk menampung ledakan penumpang domestik maupun internasional.

Satu jam setelah tiba, rombongan lainnya datang dan mendarat di bandara internasional yang berbeda yaitu Bandara Internasional Ataturk, merupakan bandara internasional utama di kota Istanbul, kota terpadat di Turki.

Bandara ini berlokasi di kawasan Yesilkoy yang berjarak 15 mil sebelah Barat dari pusat kota Istanbul dan namanya mengabadikan nama Mustafa Kemal Ataturk, yang merupakan pendiri dan presiden pertama Republik Turki.

Rombongan yang tiba di Bandara Ataturk adalah Nana Irlisa, Dewi, Doktor Risk Management dari Universitas Indonesia, dan Icha Trisya Founder Bambu Spa. Seperti biasa pertemuan para sahabat ini selalu penuh cerita padahal kami baru berpisah selama 13 jam saja selama perjalanan udara.

Meski tidak datang melalui Bandara Internasional Ataturk, namun kami mendapat informasi penumpang dapat melakukan penerbangan secara terus menerus dari Istanbul ke beberapa tujuan di seluruh Eropa, Asia, Afrika, Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Tak perlu menunggu waktu lama karena setelah menempatkan koper di kamar Hotel Taksim Marmara, sebuah hotel bintang 5 yang menjulang tinggi di atas Alun-Alun Taksim yang ramai di Istanbul, kami langsung mengeksplor kawasan yang menjadi tempat ‘berlabuh’ selama empat malam sebelum pindah hotel lagi.

Marmara Hotel menawarkan kamar-kamar mewah dengan TV kabel, akses Wi-Fi gratis, serta pemandangan Bosphorus dan kota yang sangat indah. Bosphorus yang berasal dari bahasa Yunani adalah sebuah selat yang memisahkan Turki bagian Eropa dan bagian Asia.

Selat ini  menghubungkan Laut Marmara sesuai nama hotel tempat kami menginap dengan Laut Hitam. Selat ini memiliki panjang 30 km, dengan lebar maksimum 3.700 meter pada bagian utara.

Serba cantik

Begitu berada di tengah kerumunan warga dan para turis,  Istanbul sungguh kota yang mengesankan dan penduduknya yang wanita cantik-cantik dan para prianya juga tak kalah rupawan. Bahkan Donny, Dirut Tugu Mandiri yang juga mengikuti ajang penghargaan mengatakan dari setiap 10 wanita Turki maka yang kesebelasnya adalah wanita cantik.

Dengan  GDP US$ 16,885 per capita, Turki adalah negara Islam ke 8 terkaya di dunia dibawah Bahrain dan Saudi Arabia, pantas penduduknya terlihat nyaman, tenang dan bahagia

Turki bisa dikunjungi dengan mengajukan visa langsung berbayar setara USD$30 dan bulan November di Turki adalah menjelang winter dengan suhu antara 11 – 16 celcius. Kebanyakan orang sudah mengenakan winter coates termasuk kami yang  mengenakan baju hangat.

Santi Mia Sipan menikmati musim dingin di Turki, saat  daun maple berguguran

Jalan jalan pertama di alun alun kota terlihat daun-daun maple yang kuning mulai berguguran. Jadi ingat juga Kisah Petualangan Tintin di Istanbul by Herge, nama pena dari Georges Prosper Remi yang menampilkan Turki dalam komiknya.

Pastinya  penulis komik dan seniman berkebangsaan Belgia ini jatuh cinta dengan keindahan kota Istanbul  sehingga menuangkan dalam karya-karyanya.

Melihat daun maple berguguran  jadi ingat daun ini punya makna tersendiri, bahkan menjadi lambang negara Kanada. Mitosnya, jika melihat daun maple maka kita akan merasa damai dan bahagia.

Negeri yang penduduknya 90 persen adalah Muslim ini sungguh memiliki posisi yang sangat strategis dan kebudayaan tinggi mereka adalah gabungan dari era Byzantium, Romawi dan Dinasty Ottoman .

Dalam hati saya bersyukur bahwa negeri ini sungguh diridhoi Allah SWT dan Masya Allah baru tiba saja saya sudah bertekad untuk bisa berkunjung kembali secepatnya ke Turki di lain kesempatan.

Dahulu Istanbul memiliki nama Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Romawi Byzantium. Kota ini berganti nama ketika Sultan Muhammad Al-Fatih berhasil merebutnya, lalu jadilah ia Islambul yang berarti Kota Islam.

Perjalanan yang panjang tersebut kini membuat Istanbul menyimpan berbagai objek wisata sejarah. Di antaranya ada Hagia Sophia, contoh terbaik untuk menemukan harmoni antara Islam dan Kristen.

Bangunan megah sekaligus ikon wisata Istanbul ini merupakan museum terbuka yang boleh dikunjungi siapa pun. Bangunan ini begitu megah dengan gaya bangunan Turki yang memadukan gaya Eropa, Asia dan Timur Tengah.

Hagia Sophia atau Aya Sofya (dari bahasa Yunani) adalah sebuah bangunan bekas basilika, masjid, dan sekarang museum, di Istanbul, Republik Turki. Dari masa pembangunannya pada tahun 537 M sampai 1453 M, bangunan ini merupakan katedral Ortodoks dan tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel.

Pada tahun 1204 sampai 1261, tempat ini diubah oleh Pasukan Salib Keempat menjadi Katedral Katolik Roma di bawah kekuasaan Kekaisaran Latin Konstantinopel. Bangunan ini menjadi masjid mulai 29 Mei 1453 sampai 1931 pada masa kekuasaan Kesultanan Utsmani dan pada 1 Febuari 1935 fungsinya berubah menjadi museum.

Nah saat mau masuk Hagia Sophia ada kejadian unik, tiba-tiba di sambut dan diantar oleh guide khusus jadi kami tak perlu mengantri untuk membeli tiket. Padahal yang jelas terlihat antrian mengular panjang.

Kemanapun kami melangkah sapaan ramah dari penduduk Turki selalu ada. Nah rajin membalas sapaan mereka itulah yang mungkin  membawa kami dapat beragam kemudahan dari Allah SWT.

Keindahan interior masjid Sultan Ahmed

Topkapi Palace

Bangunan megah lainnya yang kini menjadi museum adalah Topkapi Palace, istana kekaisaran Ottoman yang kini beralih fungsi sebagai museum dan menyimpan benda-benda peninggalan Rasulullah, Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Istana Topkapı merupakan kediaman resmi Sultan Utsmaniyah selama lebih dari 600 tahun (1465-1856). Pembangunan istana ini dimulai pada tahun 1459 atas perintah Sultan Mehmed II. Kompleks istana terdiri dari empat lapangan utama dan banyak bangunan-bangunan kecil.

Pada puncaknya, istana ini dihuni oleh 4.000 orang. Selain sebagai tempat tinggal kerajaan, istana digunakan untuk acara-acara kenegaraan dan hiburan kerajaan. Sekarang menjadi daya tarik wisata dan berisi peninggalan suci penting dari dunia Muslim, termasuk pedang dan jubah Nabi Muhammad.

Tidak jauh dari situ, kita bisa menemukan Blue Mosque. Dibangun oleh Sultan Ahmed untuk menandingi Hagia Sophia. Lengkap dengan kubah besar, tiang menjulang tinggi, dan keramik iznik berwarna biru benderang yang menghiasi dindingnya.

Masjid ini dibangun antara tahun 1609 dan 1616 atas perintah Sultan Ahmed I, yang kemudian menjadi nama masjid tersebut. Ia dimakamkan di halaman masjid yang terletak di kawasan tertua di Istanbul.

Dikenal dengan nama Masjid Biru karena warna cat interiornya didominasi warna biru. Akan tetapi cat biru tersebut bukan merupakan bagian dari dekor asli masjid, maka cat tersebut dihilangkan. Sekarang, interior masjid ini tidak terlihat berwarna biru.

Arsitek Masjid Sultan Ahmed adalah Sedefhar Mehmet Aga yang diberi mandat untuk tidak perlu berhemat biaya dalam penciptaan tempat ibadah umat Islam yang besar dan indah ini.

Struktur dasar bangunan ini hampir berbentuk kubus, berukuran 53 kali 51 meter. Orang yang melakukan Shalat menghadap ke Makkah, dengan mihrab berada di depan.

Kubah mesjid  dan menaranya mendominasi cakrawala kota Istanbul. Alhamdulillah saya bisa sholat maghrib dan Isya di sini dengan interior yang cantik. Bahagia rasanya bisa sholat disini walau suhu sekitar 10 celcius.Kuping dan tangan terasa beku, beruntung masjid-masjid disini menyediakan air wudhu hangat sehingga gigi tidak ngilu saat kumur-kumur dengan air sedingin es.

Icon wisata Blue Mosque Turki

Saat menunggu sholat magrib  tiba-tiba terdengar obrolan sejumlah wanita dengan bahasa Indonesia. Langsung saya berkenalan dengan mbak Nana, pemilik restoran Dapoer Melayu yang tengah menjajaki membuka restoran Indonesia di Istanbul.

Nana yang sholat bersama beberapa mahasiswi Indonesia di Turki langsung mengajak saya dan Mutia untuk menikmati malam di Selat Bosphorus. Subhanallah rejeki anak saleha, langsung di traktir pengusaha wanita yang mondar-mandir Turki-Jakarta ini.

Di sini bisa pakai kartu transportasi yang terintegrasi  untuk naik kapal maupun kereta api sehingga malam itu kami punya pengalaman naik beragam transportasi saat menikmati Istanbul di waktu malam.

Selain situs bersejarah, keindahan kota Istanbul Turki yang wajib dikunjungi juga menawarkan nuansa alam yang begitu damai. Coba saja jalan-jalan sepanjang Selat Bosphorus ini.  Menyaksikan kapal-kapal tongkang berlalu-lalang. Duduk rehat sambil menikmati hembusan angin laut dan sesekali bertemu burung-burung camar.

Bila malam tiba, suasana pun jadi lebih romantis. Jembatan dan bangunan-bangunan kuno tampak meriah oleh cahaya lampu. Bila sempat, jangan lupa naik private boat untuk menikmati aliran Selat Bosphorus yang begitu tenang.

Sebagai salah satu destinasi wisata favorit, Turki menyimpan segala hal yang memanjakan liburan semua orang. Mulai dari wisata religi, wisata alam, bangunan bersejarah, kuliner lezat, serta pusat-pusat perbelanjaan.

Selain Istanbul atau Kapadokya, ternyata Turki juga menyimpan kota lain yang tak kalah menarik, loh. Sebuah daerah berpredikat kota aman paling aman dan nyaman di Turki. Kota pelabuhan yang menawarkan suasana tenang, santai, dan menepi dari kebisingan serta polusi kota. Istanbul juga dikenal dgn kota seribu masjid dan sejuta kucing

Uniknya sambil jalan-jalan maka dimana-mana dengan mudah kita akan bertemu kucing dan anjing dengan bentuk tubuh gemuk dan jinak ( friendly) Walau mereka hewan tak bertuan tapi negara merawatnya dengan baik dan semua binatang liar diberi vaksin.

Anjing diberi peneng dikuping supaya ter registered dan anjing disini besar-besar seperti anak beruang. Anjing sejenis ras
Malamut Alaska banyak dijumpai di jalanan. Ras ini adalah salah satu ras anjing bertubuh besar yang berasal dari Alaska.

Dulunya ras anjing ini dimanfaatkan untuk menarik kereta barang yang tahan terhadap suhu sangat dingin, namun sekarang anjing ini dirawat sebagai peliharaan keluarga dan anjing pertunjukan. Harga anakan ras ini bisa mencapai Rp 35 juta/ ekor, sementara di sini mereka dengan aman melenggang di tengah keramaian.

Anehnya kemanapun kami melangkah banyak anjing dan kucing yang mengikuti langkah kami.  Ratusan meter kami diikuti anjing putih dan baru berhenti setelah kami memberinya roti.

Saat jalan-jalan dan cuci mata inilah baru membutuhkan Lyra Turki ( LT), mata uang Turki yang bila di kurs ke Rupiah  sekitar Rp 2600. Tak perlu membeli uang Lyra Turki sebelum berangkat karena tidak tersedia di Money Changer di Jakarta. Padahal tiap bulan ribuan orang Indonesia berwisata ke Turki. Begitu juga ribuan pelajar Indonesia kuliah di Turki.

Solusinya bawa saja ATM dan dengan mudah kita bisa menarik uang tunai dari ATM yang banyak tersedia sejak mulai mendarat di bandara dan di sudut-sudut kota lainnya.

Nah untuk kebutuhan internet selama perjalanan ini saya pakai paket salah satu operator selular untuk umroh yang bisa dipakai di Turki, hanya Rp 275.000 untuk online selama 10 hari karena kalau beli di Turki ternyata jauh lebih mahal. Alhamdulilah untuk urusan telekomunikasi, Indonesia lebih membanggakan deh dan harganya terjangkau.

Bisnis dan leisure

Memadukan kegiatan bisnis dengan
leisure adalah salah satu keahlian wanita dalam mengemas jadwal perjalanannya ke luar negri seperti yang dilakukan group kami ini. Soalnya hari berikutnya kami sibuk menghadiri pertemuan dengan para pebisnis Turki. Terima kasih atas DEiK diketuai Irhan Erdal yang sekaligus menjadi tuan rumah yang baik.

Hari kedua  setelah makan pagi, kami mengadakan pertemuan dengan organisasi di bawah Kamar Dagang Turki yaitu Istanbul Ticaret Odesi ( ITO). Turki dapat menjadi gerbang masuk produk Indonesia ke Eropa Barat, Eropa Timur, serta Afrika Utara.

Kami benar-benar menyimak dan mengikuti pembicaraan dengan serius.Tak ingin melewatkan meeting-meeting formal maupun informal. Produk-produk yang potensial dari RI untuk diekspor ke Turki antara lain benang, kain, ban, gelas, keramik, serta mainan anak.

Kumpul dan kuliner bersama tim dari Turki

Esoknya kami menghadiri jamuan makan yang disekenggarakan oleh DEiK di Hamdi Restaurant, salah satu restoran terbaik di Istanbul. Jamuan dihadiri kepala konjen RI, Perwakilan Kemenlu dan para pengusaha papan atas Turki.

Segala makanan terbaik dihidangkan disini dengan nama yang tidak akrab ditelinga kita seperti Lahmajun, Icli Kofte Ekmek. Ditutup dengan Turkish delight,   Baklava yang rasanya super legit dan manis.

Bagi saya semua makanan ini enak dan enak  banget. Tapi beberapa sahabat terlihat berjuang mengunyah pada rasa yang mereka belum familiar di lidahnya.

Akhirnya ajang penghargaanpun tiba dan event yang diberi nama Indonesia Turkey Global CEO Awards ini dihadiri  Dubes RI di Turki, Wardhana. Ada juga Konjen RI, perwakilan dari Kementrian Luar Negeri RI dan para pengusaha/ Chairman dari Indonesia dan Turki.

Berjalan sukses lancar dan penuh ramah tamah, kami  bersyukur langsung terjadi mutual transaction antara pebisnis online JD. iD , Maya Miranda dengan DEIK Turki diketuai Ilhan Erdall.

Penghargaan The Best CEO / Global Leaders Award 2018 – 2019 ini dinobatkan kepada Perusahaan dan CEO. Penerimanya dari Indonesia adalah Donny J Subakti dari PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri, Maryono Sumaryono dari PT Asuransi Jiwa Taspen, Ituk Herarindri dari PT. Angkasa Pura II.

Penghargaan juga diberikan kepada Ahmad Irfandari PT Bank BJB, Abdullah Firman Wibowo dari PT BNI Syariah,Trisya Suherman dari PT LNC (Bambu SPA), Prof.DR.dr.Fachmi Idris mewakili BPJS Kesehatan, Maya Miranda dari bisnis online JD.id.

Penerima award lainnya dari perusahaan yang beragam yaitu Sripeni Inten Cahyani dari PT. Indonesia Power, Samsir Ismail dari PT. Bank Kalbar, Maryono dari PT. Bank BTN dan Imam Fathorrahman dari PT. Kimia Farma Apotek.

Para penerima Indonesia Turkey Global CEO Awards

Usai bertugas sebagai master of ceremony, saya dan teman-teman masih sempat belanja ke Chilly Market  yang mirip Grand Bazaar versi kecil tapi tutup jam 7 malam untuk berburu oleh-oleh.

Acara shopping masih berlanjut  ke salah satu mall terbesar di Istanbul yaitu Vadistanbul, sedikit lebih berkelas diatas mall Pacific Place di Jakarta. Namun uniknya mall ini dikelilingi oleh taman dan air mancur yg sangat luas dan terang benderang sehingga  menjadi spot foto yang Instagramable.

Sempat cuci mata masuk butik Zara yang ternyata banyak produknya bertuliskan made in Indonesia. Rasanya senang sekali produk mendunia itu hasil tangan-tangan terampil para pekerja pabriknya di Indonesia.

Usai acara penghargaan, teman-teman dari Indonedia pulang keesokan harinya. lementara saya dan Mutia Sari memperpanjang tinggal selama dua hari lagi karena penduduknya yang ramah dan punya teman-teman baru warga Turki seperti Ramadhan. Dia pula yang merekomendasikan hotel untuk dua malam berikutnya dengan harga seperempat dari hotel bintang lima.

Citra masyarakat Indonesia ramah tamah dengan tamu juga saya rasakan yang sama pada masyarakat Turki. Mereka yang kami temui umumnya  ramah, tulus dan penolong. Bukan cuma masyarakatnya, negara ini juga mau menampung para pengungsi dari Siria

Hal yang membanggakan pula adalah ribuan mahasiswa Indonesia kuliah di Turki didominasi alumni  Gontor yang banyak menerima beasiswa disini. Tinggal di negeri orang, mahasiswa kita ini sangat santun, penolong, profesional dan sangat koperatif.

Mereka juga sudah fasih berbahasa Turki sehingga bisa menjadi teman shopping yang efektif untuk mendapatkan harga-harga dengan diskon khusus. Meski akhirnya waktu pulang ke tanah airpun tiba, rasanya hati kami tertambat di Turki apalagi living cost hampir sama dengan Jakarta.

Goodbye Istanbul, Inshaa Allah saya akan kembali membawa teman-teman berwisata ke berbagai pelosok negri yang cantik ini.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.