DESTINASI ENTREPRENEUR EVENT HALAL INTERNATIONAL

Konsumen Resto Agar Patuhi SOP Dilarang Bawa Makanan dari Luar

Foto: Getty Images/NickyLloyd

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pernah lihat Restoran memasang tulisan “Dilarang membawa makanan dan minuman dari luar”. Itu memang bukan sekadar aturan sepele. Tapi ada alasan bisnis, hukum, hingga operasional di baliknya, kata coach Wuri Fajar, Auditor dan penyelia Halal di LPP-JPH Universitas Ary Ginanjar di Menara 165, Jakarta.

“Restoran melindungi sumber pendapatan utama dari bisnis restoran yang hidup dari penjualan makanan & minuman. Kalau pengunjung membawa makanan sendiri:
Mereka tetap memakai meja, kursi, AC, listrik, toilet, tapi tidak membeli produk restoran,” ungkapnya.

Dari sisi bisnis ini disebut free rider menikmati fasilitas tanpa membeli dan bayangkan jika satu meja dipakai selama 2 jam dan tidak ada transaksi maka restoran rugi opportunity cost. Sementara pemilik atau pengelola restoran harus menjaga model bisnis & fairness karena restoran harus membayar banyak biaya tetap sewa tempat, gaji karyawan, pajak, listrik, air, peralatan dapur, lisensi & sertifikasi jika restoran Halal.

Menurut Wuri, menuju program sertifikasi Halal Secara Nasional yang jatuh pada 17 Oktober 2026, usaha restoran berupaya menjaga perlindungan terhadap izin usaha & sertifikasi. Beberapa restoran memiliki sertifikat halal, sertifikasi hygiene SOP dan  dapur ketat. Oleh karena itu makanan dari luar yang tidak diketahui sumber & prosesnya bisa merusak standar sertifikasi yang mereka miliki.

“Kesimpulan sederhananya, larangan ini bukan karena restoran “pelit”, tetapi karena:
bisnis , keamanan , hukum dan pengalaman pelanggan. Restoran harus mengontrol apa yang dikonsumsi di dalam area mereka agar usaha tetap sehat dan berkelanjutan,” tegasnya.

Dia mengingatkan kasus menarik yang terjadi pada Manajemen Bakso Afung pada medio akhir Juli 2023 dimana gerainya di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali kedatangan
Selebgram Jovi Adhiguna yang datang ke restoran Bakso A Fung halal tapi saat makan membuat konten makan kerupuk kulit Babi yang langsung banjir hujatan di media sosial.

Manajemen Baso A Fung menyampaikan permohonan maaf usai video itu beredar lalu manajemen menghancurkan mangkok yang ada dan membuat viral karena mangkok yang dipakai sudah terkontaminasi dengan mangkok lainnya.

Management A Fung sampai menghancurkan peralatan makan itu untuk menjaga sertifikat halal usai video viral influencer Jovi Adighuna tengah memakan bakso campur kerupuk babi di gerainya.

“Soalnya jika dibiarkan akan mengganggu kelangsungan bisnis, keamanan, hukum dan pengalaman pelanggan. Kasus ini menjadi contoh nyata yang bisa menjadi pelajaran bagi pengusaha lainnya,” kata Wuri.

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)