Asisten Menteri Datuk Joniston Bangkuai (ketiga dari kiri) bergabung dengan penduduk desa dan pejabat dalam melepaskan ikan ke Sungai Taaran sebagai bagian dari upaya konservasi tagal yang direvitalisasi di Kampung Romokon, Kiulu. (Foto: THE STAR)
KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id – Di Kiulu, daerah pemilihan dataran tinggi sekitar 60 km atau hampir dua jam perjalana masyarakat setempat mengubah praktik konservasi tradisional menjadi inisiatif pariwisata berkelanjutan yang menghasilkan manfaat ekonomi nyata.
Dilansir dari asianews.network, inti dari upaya ini adalah sistem tagal — metode pengelolaan sungai yang dipimpin masyarakat yang melarang penangkapan ikan di daerah tertentu agar populasi ikan dapat pulih. Apa yang awalnya merupakan praktik budaya kini menjadi tulang punggung model ekowisata Kiulu.
Asisten Menteri Pariwisata, Kebudayaan, dan Lingkungan Hidup Datuk Joniston Bangkuai, yang juga anggota DPRD Kiulu, mengatakan sekaranglah saatnya untuk meningkatkan pariwisata perikanan berkelanjutan sebagai bagian dari pendekatan yang lebih mengutamakan masyarakat.
“Kami tidak mengejar pariwisata massal. Yang kami inginkan adalah pengalaman yang bermakna dan berskala kecil yang menghubungkan masyarakat dengan alam dan budaya, sekaligus secara langsung memberi manfaat bagi masyarakat setempat,” katanya.
Joniston berbicara pada peluncuran sistem tagal yang telah direvitalisasi di Sungai Taaran di Kampung Romokon pada hari Kamis pekan lalu.
Inisiatif tersebut, yang didukung oleh Departemen Perikanan Negara Bagian, diresmikan di hadapan Wakil Direktur (Pembangunan) Datin Dr Shuhadah Mustapha.
Dia mengatakan beberapa desa di Kiulu telah mengubah situs sungai yang dilestarikan menjadi objek wisata ekologi, dengan menawarkan berbagai kegiatan seperti memberi makan ikan dan jalan-jalan di sungai dengan pemandu.
“Langkah selanjutnya adalah meningkatkan upaya ini dengan memperkenalkan penceritaan yang lebih baik, paket pengunjung yang terstruktur, dan koordinasi yang dipimpin masyarakat untuk menciptakan model pariwisata yang lebih berdampak dan berkelanjutan,” katanya.
Joniston, yang juga mengepalai Badan Pariwisata Sabah, mengatakan bahwa badan tersebut bekerja sama dengan Kementerian Pembangunan Pedesaan serta Kementerian Pertanian, Perikanan, dan Industri Makanan untuk mendukung upaya ini dengan infrastruktur dan keahlian teknis.
Ia juga mengusulkan agar situs tagal terpilih di Kiulu dikembangkan sebagai proyek percontohan wisata ekologi yang dipimpin oleh koperasi desa dan kelompok pemuda.
Tujuannya adalah untuk menciptakan model pariwisata pedesaan yang mempromosikan pendidikan lingkungan, merayakan budaya lokal, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat yang telah lama melindungi sumber daya alam ini, tambahnya.










