GALUNGAN: “Galang Apadang?”

0
102
sodan-sederhana-tanpa-plastik

“BILA Galungan terbatas sebagai hari kemenangan “Dharma”, tidakkah ini berarti Dharma hanya menang sehari saja, pas di hari Galungan, lantas di luar Galungan, Dharma itu “keok” berhadapan dengan “adharma”?” tanya seorang sahabat.

BALI, bisniswisata.co.id: Saat umat muslim melaksanakan ibadah puasa, masyarakat Bali yang Hindu merayakan Galungan di tahun 2021 ini. Prosesi persiapan telah berlangsung sejak Minggu, 11 April dan puncaknya pada hari ini Rabu, 14 April.

Adalah Ketut Sumarta, jurnalis senior di Bali yang saat ini menjabat sebagai “Penyarikan” Majelis Desa Adat di Provinsi Bali, menanggapi pertanyaan seorang sahabat hal Galungan apakah galang apadang?

Menurut Ketut Sumarta, dalam teks tua Sundarigama, — lontar yang menyuratkan tandas pemaknaan serangkaian hari-hari suci Dresta Bali,— begitu benderang membahasakan Galungan sebagai patitis ikang adnyana galang apadang.

Maksudnya adalah “pemusatan pikiran sadar nan suci bersih”. Pemusatan pada apa? Pada Yang Mahasuci Mahabersih, Mahaterang-benderang (galang apadang). Upaya pemusatan ini tentu saja tidak dapat dilakukan tiba-tiba, seketika. Sepatutnya dilatih, dilatih, dan terus dilatih, sehingga jadi terbiasa.

Itu sebab, tradisi laku hidup Bali mau pun penyurat Sundarigama mengingatkan: Galungan dalam rangkaian penuh 60 hari, sejak Tumpek Wariga/Tumpek Uduh/Tumpek Bubuh/Tumpek Pangatag, hingga Buda Kliwon Pahang, Pegat Uwakan.

Bila pikiran dilatih terus berturut-turut saban hari, selama 60 hari (2 x 30 atau 25 + 35 hari), terpusat pada kesucian, maka akan terbentuklah habitat kehidupan sehari-hari yang suci, baik dalam tutur kata maupun tindakan, perilaku.

Laku utama yang disyaratkan dalam melakoni rangkaian panjang 60 hari-hari penting ini adalah: pengheningan pikiran dan batin. Bentuknya, berupa: anuduhakna adnyana sandhi (memusatkan pikiran nan jernih); pasang yoga Samadhi (menghubungkan pikiran dengan sang Mula Awal nan Murni); pasekung ikang adnyana nirmala (menjaga pikiran tetap bersih).

Puncak pemusatan pikiran sadar (adnyana) itu dimampat padatkan lagi pada saat siklus waktu menunjuk ke ruas pekan (wuku) waktu ke-10 Sungsang, ruas pekan (wuku) ke-11, Dunggulan. Tradisi spiritual Bali menyuratkan dengan istilah pasekung kumekas ikang adnyana nirmala, lamakane tan kasurupan dening sang Bhuta Galungan—pengendalian pikiran pada kesucimurnian, supaya tidak tersusupi oleh kegelapan.

Wuku ke-11 ini secara mistis dibaca paling “keramat” karena dimaknai sebagai ekadasa pepeking dewata—sebelas arah kesempurnaan sinar terang dewata, yang mencakup 8 arah mata angin + 3 lapis di pusat: atas, bawah, dan tengah. Ini dibaca sebagai momentum ngawindu, menyempurna, untuk mencapai keheningan (sunyata), yang memiliki daya penuh-utuh-seluruh, sehingga dipahami kemahadahsyatannya itu “tak terbatas”: tan patepi (tak bertepi), tan pabungkah (tanpa berpangkal), tan patungtung (tanpa berujung).

Laku menghening ini dilakukan dengan jenek awengi, sehari penuh, hingga esok hari, dinamakan Umanis Galungan.

Inilah inti-sari-pati sujati segenap tradisi keagamaan dalam visi tetua Bali yang dikemas nyata lewat hari-hari suci, terangkai siklis berulang-ulang itu. Melatih mengendalikan pikiran supaya bebas dari balutan mala (noda, gelap) sehingga senantiasa terpusat pada yang nirmala, tiada noda. Dengan pikiran nirmala, hidup pun niscaya menjadi enteng, bebas, merdeka, jujur, apa adanya. Tidak “salah sangka” terhadap kehidupan. Tidak pula “sesat pikir” tentang hidup dalam kehidupan.

Metode atau cara melatih pikiran agar nirmala itu beragam. Bisa dengan metode marerainan secara sosial-budaya-spiritual, atau menempuh jalan spiritual-personal dengan tapa brata yoga samadhi.

Ingat pada momentum hari-hari suci (rerainan), lalu menyiapkan banten; merangkai dedaunan, bunga, buah dalam bentuk yang rapi dan indah; matetuasan dan mareringgitan; mempersembahkan banten dengan rasa lascarya  (tulus ikhlas), adalah cara, bentuk, proses latihan bhakti demi latihan memfokuskan pikiran, hati, dan jiwa pada Yang Nirmala.

Bagi yang terbiasa menjelajah ke dalam diri, melakukan tapa brata yoga samadhi, duduk hening juga merupakan cara, bentuk, proses latihan bhakti, melaksanakan persembahan internal. Bagi yang mampu berderma, berbagi kepada sesama, itu juga merupakan bhakti sosial bermakna spiritual. Tujuan puncaknya satu: menjadikan pikiran nirmala, hati dan jiwa liang galang apadang, terang benderang-cemerlang.

Dia yang pikiran, hati, dan jiwanya telah senantiasa nirmala, galang apadang, bersih, bernas, terang cemerlang, tiada bernoda, tiada berkemelekatan, itulah yang sejatinya telah menang, jaya, unggul dalam kehidupan ini, kini, dan di sini. Karena dalam keseharian hidup dia telah menang atas kehidupan, maka orang sekelas ini tidak perlu lagi berpura-pura menang. Dia tidak perlu lagi pula mengalahkan siapa-siapa di luar “dirinya”. Karena, Yang Suci itu, sesejatinya tidak punya musuh, tiada tandingan, layaknya galang apadang  tak tersentuh noda gelap setitik jentik pun.

Selamat menjalani dan menjalankan Galungan, Sahabat dan Sameton Sami. Dumugi pikiran, hati, dan jiwa Sahabat serta Sameton Sami senantiasa liang galang apadang; kemenangan, kejayaan, keunggulan, senantiasa bersama Anda. Sukses dan Rahayu selalu. *Ketut Sumarta

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.