Dua Turis Ausie Nekat Mendaki Gunung Agung

0
297
Dua turis Australia, Ricky dan Jack, setelah turun dari puncak Gunung Agung di Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali. (Foto: RadarBali)

KARANGASEM, Bisniswisata.co.id: Meski sudah ada pemasangan portal besi untuk mencegah wisatawan naik Gunung Agung, namun masih ada pelancong asing yang nekat menerobos agar bisa mencapai puncak Gunung Agung secara diam-diam.

Kini, dua wisatawan asal Australia Ricky Tonacia (34) dan Jack Dennard (26) nekad mendaki pada Kamis, 4 Januari 2018, sekitar pukul 03.00 Wita. Pendakian diam-diam itu, terpantau relawan Pasebaya Jagabay dari lampu senter yang digunakan kedua pendaki. Ulah Turis Ausie menambah daftar panjang wisatawan asing yang melabrak larangan mendaki ke puncak gunung tertinggi di Bali itu selama erupsi.

Seperti dilansir laman JawaPos.com, Senin (08/01/2018), aksi nekat dua turis asing yang menginap di Hotel Raya Canggu, Badung, ini berawal dari kerja sama dengan guide freelance atau pemandu lepas untuk mengelabui petugas, termasuk relawan Pasebaya Jagabaya.

Guide dan sopir mengantar kedua tamu dengan menurunkan di bawah Pura Pasar Agung, tepat di portal yang dipasang di Dusun Sogra. Dua guide freelance yang mengantar: I Gusti Putu Ngurah Bagus Pradnyana (24) dan rekannya, I Gusti Gede Putu Merta (51).

Dari portal tersebut, kedua bule ini naik melalui jalur Pura Pasar Agung Selat. Sementara, kedua pemandu yang mengantar langsung pergi menjauh. Guide ini sudah berjanji akan menjemput tamunya tersebut jika sudah selesai mendaki.

Begitu mendapat laporan, relawan Pasebaya Jagabaya Lingkar Gunung Agung dipimpin Gde Pawana langsung menuju Pura Pasar Agung. Tak lama kemudian datang mobil APV Silver DK 1681 OS, dikemudikan Gusti Putu Ngurah Bagus Pradnyana bersama ayahnya, Gusti Gede Putu Merta.

Relawan Pasebaya menginterogasi kedua guide yang hendak menjemput tamunya. Keduanya juga sempat diajak ke Mapolsek Selat untuk dimintai keterangan. Tim relawan bersama aparat Polsek Selat juga dari Koramil Selat langsung naik ke Pura Pasar Agung.

Sekitar pukul 10.25 Wita, kedua WNA Australia berbadan atletis tersebut turun dengan wajah lusuh. Awalnya kedua turis didekati relawan Pasebaya Duda Utara, Nyoman Eka Semaputra, bersama dengan Made Renga.

Saat itu, Eka langsung bertanya dan berupaya mengabadikan keduanya dengan memotret pakai telepon seluler atau ponsel. Namun, kedua turis asing itu malah marah dan tidak terima. Mereka sempat merebut kamera yang dipegang Eka. Terjadi tarik-menarik antara Eka dan salah satu dari turis tersebut.

Mereka juga menantang relawan penjaga Gunung Agung itu untuk berkelahi. Untung saja para relawan masih berusaha sabar, sehingga perkelahian tak terjadi. Relawan yang dipimpin Gde Pawana langsung menjemput dua pendaki asal Australia, Ricky Tonacia (34) dan Jack Dennard (26) yang nekat mendaki saat Gunung Agung erupsi.

Mereka dijemput relawan dengan naik motor. Hanya saja, mereka menolak naik motor dan berjalan kaki. Baru setelah berjalan cukup jauh, mereka mau dibonceng relawan Pasebaya kemudian mengajaknya ke Polsek Selat.

Di sana sudah menunggu mobil jemputan mereka dan dua guide freelance yang mengantar. Dari interogasi yang dilakukan, diketahui petugas bahwa keduanya naik sekitar pukul 01.00 Wita, Kamis, 4 Januari 2018.

Keduanya mengaku berani mendaki karena guide yang mengantarnya mengatakan bahwa Gunung Agung aman. Sang turis asing juga mengatakan tidak ada pemberitahuan bahwa Gunung Agung tidak boleh didaki dan sedang erupsi.

“Sangat disayangkan, mereka nekat mendaki karena guide mengatakan aman. Mestinya mereka jujur mengatakan bahwa Gunung Agung tidak aman didaki karena berada pada status Awas,” ujar Pawana didampingi Sekretaris Pasebaya, I Wayan Suara Arsana, kepada JawaPos.com.

Keduanya juga dipastikan naik sampai puncak dan sempat mengabadikan kondisi kawah Gunung Agung. Hanya saja, petugas gagal meminta hasil rekaman dua turis asing tersebut.

Keduanya sempat menolak menyerahkan hasil rekamannya. Namun, setelah melalui berbagai upaya akhirnya rekaman tersebut diamankan pihak Pasebaya. Sang turis tersebut sempat beralasan, video yang dia ambil bersifat privacy. “Saya sempat emosi karena sempat merebut ponsel saya yang sedang mengambil foto mereka,” kata Eka. (JP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.