Kapal Doulos Hope saat sandar di Pelabuhan Tanjung Priok
Oleh: Wiwiek Widyawati
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Membaca dari medsos kapal Doulos Hope akan singgah di Pelabuhan Tanjung Priok dan parkir selama bulan September – Oktober 2026 rasanya girang sekali. Kehadirannya memberi- kan kesempatan masyarakat terutama warga Jabodetabek menikmati kapal perpustakaan yang keliling dunia.
Kapal ini tidak hanya menceritakan kapal yang membawa ribuan buku, tetapi juga mengangkat Doulos Hope sebagai pengalaman wisata edukasi, pertukaran budaya, dan pariwisata berbasis pengalaman atau di dunua kerap disebut experience-based tourism yang kini menjadi tren dunia.
Ya wisata pengalamanlah yang kini disukai traveler dunia, bukan sekedar foto-foto dan jalan – jalan tapi karena kita akan turun naik tangga kapal, keluar – masuk ruangan kapal besar dengan dua ribuan koleksi buku pastinya menjadi pengalaman tersendiri.
Makanya ketika hari “ H” tiba pada
9 Oktober lalu saya bergegas langsung menuju titik keberangkatan yaitu Gelanggang Remaja Jakarta Utara
( GRJU). Tiba di lokasi dari Apartemen The SpringLake Summarecon Bekasi, tampak antrian mengular menggam- barkan antusias warga Jakarta naik menuju Kapal Doulos Hope di pelabuhan.
Ada 20 armada bus kecil kapasitas 19 orang Bolak-Balik 15 Kali sehari antar pengunjung ke perpustakaan terapung itu. Antrian bukan hendak menonton pertandingan, melainkan menanti giliran naik shuttle bus menuju kapal perpustakaan terapung terbesar di dunia, MV Doulos Hope yang tengah bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Sistem transportasi menuju kapal diatur dengan sangat rapi oleh panitia. Pengunjung wajib berkumpul di GRJU sebagai titik kumpul utama, tidak bisa langsung menuju pelabuhan. Dalam sehari, setiap bus bisa beroperasi sebanyak 14 hingga 15 kali, mulai pukul 13.30 hingga 21.00 WIB.
Setibanya di pelabuhan, pengunjung disambut gagahnya kapal putih MV Doulos Hope. Untuk naik ke atas kapal, pengunjung harus menaiki tangga kapal (gangway) dengan memperhatikan faktor keamanan. Di tangga terpasang peringatan “Untuk keamanan, mohon tidak menggunakan handphone selama di tangga” dan batas maksimal 26 orang di tangga.

Di atas kapal, pengunjung disuguhi pengalaman literasi yang unik. Selain ribuan judul buku internasional dari anak hingga dewasa, terdapat area pameran dengan ikon tulisan besar “HOPE” yang menjadi spot foto favorit dengan tulisan “Selamat Datang” dan pertanyaan inspiratif “What is The Power of Hope?”.
Momen paling mengharukan terjadi saat bertemu dengan seorang pengunjung bernama Pak Condro yang akrab dipanggil Opa. Di usianya yang sudah 87 tahun dan menggunakan kursi roda, Opa Condro tetap bersemangat menjelajahi setiap sudut kapal. Semangatnya menjadi inspirasi bagi pengunjung lain.
Di atas kapal juga terjadi perbincangan hangat dan akrab dengan Opa Condro. Sempat terjadi perdebatan kecil penuh keakraban soal asal usul kapal, apakah milik Belanda atau Jerman ?.
Setelah berbincang, diketahui bahwa MV Doulos Hope dioperasikan oleh GBA Ships e.V., sebuah organisasi nirlaba asal Jerman yang membawa misi mulia “We share knowledge, help and hope to the world“.
Fasilitas lain yang menjadi favorit adalah cafe di dek terbuka. Pengunjung dapat membeli camilan seperti menikmati popcorn dan minuman ringan sambil menikmati hembusan angin laut dan pemandangan aktivitas Pelabuhan Tanjung Priok. Para crew kapal yang berasal dari berbagai negara juga terlihat sangat ramah dan membantu.
Angin sepoi-sepoi dan dikelikingi teman-teman baru seperti opa dan teman sesama warga senior seperjalanan membuat kami cepat akrab, sibuk bergantian memotret atau sama-sama diam terpaku melihat jejeran rak buku, bengong sejenak mau mulai dari mana.

Ini kapal sangat menarik diangkat sebagai inovasi tourism experience, bukan sekadar pameran buku di atas kapal. Justru di sinilah nilainya bagi dunia pariwisata Indonesia. Sebuah kapal menjadi ruang pengalaman yang memadukan literasi, wisata maritim, interaksi lintas budaya, dan pembelajaran.
Kalau orang pemerintahannya cerdas, seharusnya selama “ parkir” di Jakarta ada seminar dengan tema misalnya, “Membangun Nilai Baru Pariwisata Indonesia melalui Pengalaman,”
Soalnya Doulos Hope bisa menjadi contoh nyata bahwa daya tarik wisata tidak harus berupa pemandangan alam atau bangunan bersejarah. Jadi tema itu tidak hanya berlaku bagi kapal ini, banyak kreativitas lain yang bisa digali.
Pengalaman yang memberi pengetahuan, emosi, dan interaksi manusia juga dapat menjadi produk pariwisata. Maklum sebagai co founder Lembaga Studi Pariwisata Indonesia ( LSPI) yang dirintis mitra saya jurnalis senior alm Khodyat.
Saya juga pernah berkiprah di berbagai lembaga penelitian, pusat studi, dan unit kerja khusus (UKK) yang berfokus pada riset multidisiplin dan pengabdian masyarakat termasuk di Universitas Indonesia.
Siapa sangka baru memasuki beberapa ruangan saja saya jadi baper, “ hanyut” ke masa masih aktif dengan beragam ide dan pelaksanaan event-event di daerah. Pengalaman lama seakan tiba-tiba muncul kembali dalam ingatan.
Kapal pameran buku terapung internasional Doulos Hope kembali bersandar di Jakarta. Kehadiran kapal ini menjadi kunjungan perdana setelah 38 tahun, sejak kapal saudaranya, Doulos berlabuh di ibu kota pada tahun 1988.
Doulos Hope membawa lebih dari 2.000 judul buku dengan harga terjangkau. Tak hanya menjadi tempat berburu buku, kapal ini juga menghadirkan ruang literasi dan rekreasi edukatif yang dapat dinikmati masyarakat dari berbagai generasi.
Meski tidak jumpa langsung dengan Project Koordinator Jakarta Doulos Hope, Madalena Reinaldo namun infonya soak kehadiran Doulos Hope memang untuk menjangkau masyarakat seluas mungkin melalui penyediaan buku berkualitas dari berbagai bidang yang relatif sulit diakses dengan harga terjangkau.
Kunjungan ke Jakarta juga menjadi momentum untuk membangun kembali hubungan yang telah terjalin sejak 1988, sekaligus menjalin kemitraan dengan organisasi dan komunitas lokal serta berbagi pengalaman dengan generasi baru.
Kali ini Doulos Hope membawa misi interaksi dan pertukaran gagasan dan membawa sekitar 100 kru dari berbagai negara turut terlibat dalam perjalanan. Tak heran saat di Cafe semua crew dari berbagai bangsa.
Jadi di kapal putih besar ini sudah mewakili motto atau semboyan bangsa kita Bhineka Tunggal Ika karena crew ada yang berwajah bule, latinos, berkulit gelap. keren kan motto atau semboyan negara kita yang artinya “Berbeda – beda tetapi tetap satu jua” juga diterapkan bangsa lain di dunia.
Semboyan yang tertulis pada pita yang dicengkeram oleh kaki lambang negara Indonesia, yaitu Garuda Pancasila yang jelas sih karangan Mpu Tantular, berasal dari bahasa Jawa Kuno di jaman kerajaan Majapahit.
Bangga dong dengan semboyan bangsa kita ini kan kapal Doulos Hope produk kekinian. Lagi pula semboyan itu sudah tercantum dalam Pasal 36 A Undang-Undang Dasar ( UUD) RI 1945.


Kehadiran kapal ini yang jelas menawarkan konsep baru seperti experience tourism dan ruang yang bisa dinikmati keluarga dan mendorong anak-anak kembali tertarik pada buku edukasi maupun buku anak.
Apa pelajaran bagi pariwisata Indonesia? Doulos Hope mengingatkan kita bahwa inovasi pariwisata tidak selalu membutuh- kan pembangunan objek wisata baru dengan investasi besar.
Inovasi dapat muncul melalui cara baru memanfaatkan ruang, mengemas aktivitas, dan bangun hubungan antara pengunjung dengan pengalaman yang ditawarkan.
Indonesia miliki potensi untuk kembangkan pendekatan serupa. Kapal tradisional, pelabuhan bersejarah, perahu nelayan, museum maritim, pasar ikan, kampung pesisir, hingga kehidupan masyarakat di sekitar sungai dapat dikemas sebagai pengalaman wisata yang memiliki cerita dan tujuan pembelajaran.
Bayangkan wisatawan tidak hanya berlayar dengan kapal pinisi, tetapi juga mempelajari pengetahuan pelayaran orang Bugis, mendengar kisah para pelaut, mengenal proses pembuatan kapal, dan menikmati kuliner pesisir bersama masyarakat setempat.
Atau pengunjung tidak hanya mendatangi pelabuhan tua, tetapi mengikuti perjalanan yang menjelaskan sejarah perdagangan, pertemuan budaya, dan pertumbuhan kota.
Pengalaman semacam ini dapat ciptakan nilai ekonomi bagi pemandu lokal, perajin, pelaku kuliner, komunitas budaya, dan usaha mikro, kecil, dan menengah. Duh jadi berandai-andai semoga industri pariwisata kita terinspirasi ya
Doulos Hope terbuka untuk umum di Pelabuhan Tanjung Priok mulai 16 September hingga 11 Oktober 2026. Pengunjung dapat melakukan check in di Gelanggang Remaja Jakarta Utara (GRJU) sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan shuttle bus menuju lokasi kapal. Tiket dibanderol Rp15 ribu per orang dan gratis bagi anak-anak berusia 12 tahun ke bawah serta lansia berusia 65 tahun ke atas.
Menjadi warga senior pecinta wisata maka pengalaman sejenak di kapal terapung ini selain memberikan pengalaman dan interaksi sosial dengan warga seumuran juga memberi pengetahuan, membuka wawasan juga meninggalkan kesan yang bermakna.
Kehadiran kapal seperti Doulos Hope memang bersifat sementara di setiap pelabuhan. Namun, gagasan di baliknya dapat menjadi inspirasi jangka panjang: mengubah kunjungan biasa menjadi pengalaman yang memberikan makna. Selamat berlayar kembali Doulos, Till We Meet Again..










