Foto arsip memperlihatkan wisatawan asing menjalani pemeriksaan imigrasi saat tiba di Terminal 1 NAIA di Kota Parañaquem. (Nonies Reyes)
MANILA, bisniswisata.co.id: Filipina dinobatkan sebagai destinasi pensiun terbaik di dunia untuk tahun 2026, lengkapi tahun yang memecahkan rekor bagi sektor pariwisata, di mana belanja domestik mencapai P3,26 triliun dan lapangan kerja di sektor ini meningkat menjadi 7,7 juta.
Dilansir dari businessmirror.com, seiring membanjirnya ribuan pensiunan asing ke negara tersebut setiap tahunnya, Biro Imigrasi berpacu memodernisasi sistem perbatasan negara—memastikan pintu masuk tetap aman sekaligus ramah bagi pendatang.
Tempat terbaik di dunia untuk masa pensiun
Filipina menempati peringkat pertama dari 20 negara dalam Retirement Abroad Index 2026 (Indeks Pensiun di Luar Negeri 2026) dari Expatriate Group, dengan skor 78 dari 100. Negara ini mengungguli Thailand (peringkat ke-2), Kolombia (peringkat ke-3), dan destinasi pensiun populer lainnya.
Indeks tersebut mengevaluasi negara-negara berdasarkan lima faktor: kualitas layanan kesehatan, aksesibilitas visa, persyaratan asuransi kesehatan, biaya hidup, serta komunitas dan integrasi ekspatriat. Filipina mencatatkan kinerja sangat baik dalam hal keterjangkauan biaya dan aksesibilitas visa.
Data menunjukkan bahwa pasangan pensiunan dapat hidup nyaman dengan anggaran sekitar £750 hingga £1.000 per bulan—atau sekitar US$998 hingga US$1.330. Sektor layanan kesehatan swasta yang kuat serta komunitas ekspatriat yang sudah mapan di Manila, Cebu, dan berbagai destinasi pulau populer membuat proses transisi menjadi lancar.
Komunitas pensiunan yang terus berkembang
Per Juni 2026, sebanyak 86.292 pensiunan asing dari lebih dari 150 negara telah menjadikan Filipina sebagai rumah kedua mereka. Jumlah pemegang aktif Special Resident Retiree’s Visa (SRRV) mencapai sekitar 62.000 orang, dan Otoritas Pensiun Filipina (Philippine Retirement Authority/PRA) menargetkan 4.700 pemohon baru pada tahun 2026.
“Pensiunan asing berkontribusi pada sektor ritel, perhotelan, dan pariwisata. Begitu mereka menetap di lokasi pilihan mereka, mereka akan bepergian ke seluruh penjuru negeri,” demikian kutipan pernyataan Presiden PRA, Roberto Zozobrado.
Menteri Pariwisata Dita Angara-Mathay menyebut peringkat tersebut sebagai “penegasan atas kemajuan yang telah kami capai dalam menciptakan pengalaman yang lebih ramah, mudah diakses, dan menyenangkan, baik bagi wisatawan maupun pensiunan.”
Pariwisata dalam angka
Data resmi terbaru dari Otoritas Statistik Filipina menunjukkan bahwa pengeluaran pariwisata domestik meningkat sebesar tiga persen menjadi P3,26 triliun pada tahun 2025, naik dari P3,16 triliun pada tahun sebelumnya.
Namun, pengeluaran wisatawan yang datang dari luar negeri (inbound spending) turun 6,4 persen menjadi P698,46 miliar dari P745,99 miliar pada tahun 2024.
Meskipun terjadi penurunan dalam perolehan devisa, jumlah kunjungan wisatawan asing justru meningkat—dari 5,44 juta pada tahun 2024 menjadi 5,87 juta (menurut portal eTravel) atau 5,94 juta (menurut catatan BI) pada tahun 2025.
Data ini menegaskan bahwa pasar domestik tetap menjadi basis ekonomi yang lebih besar dan lebih tangguh bagi pariwisata Filipina. Nilai tambah bruto langsung pariwisata (TDGVA) turun tipis sebesar 1,4 persen menjadi P2,27 triliun, sementara jumlah tenaga kerja di sektor pariwisata tumbuh 2,5 persen menjadi 7,70 juta.
Mengapa CAISS Penting Saat Ini
Civil Aviation and Immigration Security Services (CAISS)—sebuah skema Kemitraan Pemerintah-Swasta (KPS/PPP) senilai P10,74 miliar—bertujuan untuk memodernisasi pengendalian perbatasan di 11 bandara internasional, satu pelabuhan laut utama, dan enam pos pemeriksaan perbatasan bergerak (mobile).
Seiring meningkatnya arus wisatawan dan bertambahnya populasi pensiunan, kebutuhan akan pengelolaan perbatasan yang aman dan efisien pun turut meningkat.
Proyek yang memenuhi standar Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) PBB ini merupakan usulan inisiatif swasta (unsolicited proposal) dari Securiport LLC yang diajukan pada Mei 2023.
Proyek ini menerapkan solusi komprehensif yang unik dan telah dipatenkan, mencakup pertukaran data Advanced Passenger Information (API) dan Passenger Name Record (PNR), perangkat penilaian risiko berbasis kecerdasan buatan (AI), serta elemen pengendalian perbatasan biometrik (seperti e-gate, proses pendaftaran atau verifikasi, dan alur kerja pemeriksaan dalam satu platform terintegrasi.
Hal yang terpenting, proyek ini menggunakan model “tanpa biaya bagi pemerintah”: mitra swasta membiayai, merancang, membangun, dan memelihara platform tersebut, serta memulihkan investasi melalui biaya pengguna sebesar US$4 per wisatawan internasional yang disertakan dalam harga tiket pesawat. Setelah masa konsesi 20 tahun berakhir, seluruh aset akan dialihkan kepada pemerintah.
Keamanan tanpa mengorbankan keramahan
Pihak Biro Imigrasi (BI) telah berulang kali menyatakan pentingnya memodernisasi infrastruktur pengelolaan perbatasan negara guna memerangi kejahatan transnasional, perdagangan manusia, terorisme, dan ancaman keamanan baru lainnya secara lebih efektif.
Proyek CAISS mencakup seluruh pintu gerbang internasional utama, termasuk Bandara Internasional Ninoy Aquino, Clark, Davao, Mactan-Cebu, Boracay (Caticlan), Iloilo, Kalibo, Laoag, Bohol-Panglao, Puerto Princesa, dan Zamboanga.
Dengan menyelaraskan diri pada standar internasional yang diterapkan oleh negara-negara lain dan negara tetangga di ASEAN, sistem ini bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas dan kerja sama regional.
Di tengah jumlah kedatangan wisatawan asing yang mendekati angka enam juta jiwa, industri yang mempekerjakan lebih dari 7,7 juta warga Filipina, serta status baru Filipina sebagai destinasi pensiun nomor satu di dunia—yang dipilih sebagai tempat tinggal oleh para pensiunan dari Tiongkok, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan negara lainnya—proyek CAISS merupakan investasi krusial bagi infrastruktur yang akan menjaga keamanan dan efisiensi pintu-pintu masuk tersebut.
Hal ini sekaligus mempersiapkannya menghadapi gelombang kedatangan berikutnya. Seiring langkah BI untuk terus melakukan inovasi pada Advance Passenger Information System (Sistem Informasi Penumpang Awal) yang telah diluncurkan pada Maret 2025.
Tujuannya jelas yaitu mewujudkan sistem keamanan yang lebih efisien dan mendukung—bukan menghambat—pertumbuhan berkelanjutan pariwisata Filipina.










