Surga selancar dunia Nihi Rote
SINGAPURA, bisniswisata.co.id : Wisatawan Mulai Lirik Destinasi lain yang Tawarkan Keindahan Alam, Budaya, dan Karakter Lokasi Lebih Kuat. Babak baru pariwisata mewah Indonesia sedang dimulai dan lokasinya bukan di Bali, melainkan di pulau-pulau yang belum banyak dikenal.
Di ujung selatan kepulauan ini, tepat di mana garis pantai bertemu dengan ombak selancar legendaris Bo’a Barrel, NIHI Rote telah dibuka dengan 21 vila dan hunian *duplex*, lengkap dengan akademi perhotelan untuk melatih talenta lokal.
Dilansir dari travelweekly-asia.com.
Belitung yang hanya berjarak satu jam penerbangan dari Singapura juga semakin diminati seiring wisatawan mulai menjelajahi destinasi di luar pulau paling populer di Indonesia tersebut.
Rote dan Belitung merupakan bagian dari tren yang lebih luas. Sumba, Rote, Lombok, Komodo, dan Kepulauan Riau kini juga menarik investasi resor yang sebelumnya hampir secara eksklusif tertuju pada Bali.
Mark Wong, Senior Vice President Asia Pasifik Small Luxury Hotels of the World, menggambarkan perubahan ini dengan sederhana: “Bali selama ini menjadi pintu gerbangnya. Kini, wisatawan mulai melangkah melewatinya.”
Alasannya, sebagian terkait dengan kepadatan pengunjung. “Di Bali, bahkan saat menginap di properti mewah sekalipun, Anda tetap merasakan kepadatan pariwisata massal di sekitar Anda,” jelasnya.
Sebaliknya, hal yang dicari para tamu adalah sensasi nikmati pemandangan alam seolah milik sendiri”, sesuatu yang menurut Wong semakin langka di dunia dan bernilai harga premium yang tinggi.
Dia menambahkan bahwa Australia tetap menjadi pasar sumber wisatawan yang paling konsisten bagi destinasi pulau di Indonesia, berkat jarak yang dekat, koneksi penerbangan yang mapan, serta kedekatan budaya.
Telunas Private Island, dapat dicapai dalam beberapa jam perjalanan feri dan perahu dari Singapura. Riau memang pelarian yang mudah dijangkau bagi wisatawan dari Singapura,
Kepulauan Riau membuktikan bahwa lokasi yang terpencil tidak selalu berarti harus menempuh perjalanan jauh.
Andrew Dixon, salah satu pendiri Cempedak dan Nikoi Private Islands, mengatakan bahwa tamu semakin mencari tempat di mana mereka bisa melepaskan diri dari hiruk-pikuk
keseharian.
“Ada apresiasi yang tumbuh terhadap destinasi yang terasa masih alami dan belum terjamah, tempat Anda bisa benar-benar melambat dan menikmati alam tanpa gangguan yang sering kali muncul di pusat-pusat wisata yang sudah sangat ramai.”
David Krishnan, Direktur Penjualan dan Pemasaran di Telunas Private Island, sependapat dengan hal tersebut. Dapat dicapai dalam beberapa jam menggunakan feri dan perahu dari
Singapura, Telunas dirancang untuk menghadirkan pengalaman pulau yang lebih tenang dan berorientasi pada komunitas.
“Bagi Telunas, kemewahan berarti merasa diperhatikan, memiliki ruang untuk menikmati hidup dengan lebih santai, dan dikelilingi oleh alam,” ujarnya.
The Samara Lombok akan dibuka pada tahun 2028. Sumba dan Lombok alami dan belum terjamah. Di wilayah yang lebih timur, Sumba telah menjadi simbol bagi kemewahan yang alami dan
kaya akan keaslian budaya.
Martha E Booke, pendiri The Asa Maia, mengatakan bahwa hal yang memikatnya ke pulau ini adalah lokasinya yang terpencil serta keasliannya.
“Rasanya seolah Anda berada sangat jauh dari Bali, padahal jarak tempuhnya hanya satu jam penerbangan.”
Dia meyakini bahwa wisatawan masa kini tidak lagi cukup puas hanya dengan hotel yang indah, melainkan menginginkan destinasi yang meninggalkan kesan mendalam.
Lombok pun menempuh jalur serupa. Steve Ebsworth, salah satu pendiri Samara Lombok sekaligus pemilik Rascal Voyages, percaya bahwa wisatawan yang berkunjung ke pulau ini akan segera memahami daya tariknya.
“Bali menerima lebih dari tujuh juta pengunjung tahun lalu. Begitu Anda
merasakan alternatifnya, Anda tidak ingin melepaskannya.”katanya
The Ayana Komodo Waecicu Beach
Komodo adalah penjelajahan yang bertanggung jawab. Komodo menarik minat tamu yang sudah sering berkunjung ke Bali, ungkap Michi Sonoda, EAM bidang penjualan dan pemasaran Ayana Hospitality.
“Kami melihat minat yang semakin besar terhadap tempat-tempat di Indonesia yang terasa lebih luas,
privat, dan penuh dengan pengalaman penjelajahan,” ujarnya.
Saat ini, permintaan untuk destinasi ini didominasi oleh wisatawan asal Tiongkok, diikuti oleh wisatawan domestik Indonesia, Australia, Amerika Serikat, dan Jepang.
Namun, dia mengingatkan bahwa pertumbuhan harus tetap seimbang.
“Ini bukan destinasi di mana kemewahan bisa berdiri terpisah dari tempat itu sendiri.” ujar Michi Sonoda.
Kemewahan harus berlandaskan pada rasa hormat terhadap lingkungan sekitar, budaya lokal, dan masyarakat yang menjadikan wilayah ini sebagai rumah mereka.










