ENTREPRENEUR INTERNATIONAL SOSOK

Open Trip Masih Pilihan Teratas Gen Z Dalam Berwisata

Chief Executive Officer (CEO) Atourin Benarivo Triadi Putra ( tengah) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Open Trip menjadi pilihan favorit gen Z di Indonesia. Selain punya tipikal digital first dan berwisata terpengaruh media sosial, destinasi di Pulau Jawa masih jadi pilihan karena harga yang hemat dan sesuai budget, harga berdiskon jadi pikihab dan yang terpenting adalah mereka mendapatkan nilai dari pengalaman baru dari berwisata.

“ Destinasi di Pulau Jawa terutama Yogyakarta dan sekitarnya seperti Klaten dimana ada Desa Bugisan yang kerap dikunjungi wisatawan tipe gen Z. “ kata Chief Executive Officer (CEO) Atourin Benarivo Triadi Putra.

Bugisan Ini adalah sebuah desa di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sleman, DIY dan di Jogya juga banyak desa yang dikunjungi gen Z, tambahnya.

Menurut Rivo_panggilan akrabnya_ di era gen Z yang kerap merasa burn out akibat stres karena pekerjaan maka masuk komunitas lari, jogging dan komunitas lainnya seperti fotografi bisa mengurangi kondisi stres kronis di mana gen Z merasa lelah secara fisik, mental, dan emosional gara-gara pekerjaannya

Selain menambah teman maka komunitas juga menyukai wisata yang berkualitas namun terjangkau. Salah satu keuntungan masuk komunitas adalah banyak teman baru dan bisa berwisata bersama..

Gen Z menyukai aktivitas pariwisata yang berkelanjutan ( sustainable tourism) meskipun belum tumbuh dengan baik. Mereka juga suka petualangan, mengunjungi kota kecil seperti Subang, Jabar dan Solo untuk mengeksplore keunikan di destinasi pilihan mereka meski jumlahnya tak banyak

“ Open Trip dapat menampung ide-ide gen Z untuk memilih destinasi yang diinginkan dan sejauh ini bekerjasama dengan Kemenpar kami sudah memasarkan sedikitnya 100 desa wisata di tanah air yang jumlahnya lebih dari 6000 desa wisata,” ungkap Rivo.

Tak heran bleisure ( business & leisure), Gig-Tripping ( jalan-jalan mengikuti irama komunitasnya) serta berwisata dengan spontanitas menjadi ciri Gen Z untuk Traveling menghadiri konser/idola dan menunjukkan siapa diri mereka.

“Kecendrungan ini semua ada di gen Z kita namun kalau dalam pembelian paket wisata tipe open trip tetap yang populer,” ungkap Rivo.

Seperti gen Z lainnya. dia mendirikan PT Atourin Teknologi Nusantara, perusahaan rintisan (startup) di sektor pariwisata yang menyediakan jasa dan layanan baik secara online, maupun offline. Atourin didirikan di Bandung, 12 Desember 2019 oleh Benarivo Triadi Putra, CEO Atourin

Dia menyediakan informasi objek wisata se-Indonesia, rekomendasi rencana perjalanan, dan jasa pemesanan pemandu wisata bersertifikat. Atourin merancang tour virtual interaktif sehingga wisatawan dapat menjelajah ke berbagai tempat wisata tanpa beranjak dari rumah saat terjadi pandemi global COVID 19.

Atourin berawal dari keresahan Benarivo karena minimnya informasi pariwisata terpercaya serta sulitnya mendapat rekomendasi perjalanan. Nama perysahaannya ini mengandung dua arti. Pertama dibaca ‘Aturin’ yang artinya bisa ng-aturin, dan wisatawan bisa “diaturin” perjalanannya.

Kedua kalau dipisah ‘A-tour-in’ artinya dengan Atourin bisa tour ke mana aja. Atourin lolos berbagai program inkubasi dan kompetisi rintisan (startup) digital di Bandung dan Jakarta. Pada akhir Desember 2019, usahanya pindah ke Jakarta.

Mengingat Gen Z terbiasa dengan teknologi yang serba instan (aplikasi booking tiket, hotel dan last-minute deal). Mereka tidak harus merencanakan jauh-jauh hari untuk berwisata.

Cari pengalaman unik dimana mereka lebih menghargai experience-driven travel daripada sekadar destinasi populer. Kadang tujuan perjalanan diputuskan mendadak, karena melihat tren di TikTok/Instagram.

Selain itu punya sense adventure mindset dimana Gen Z cenderung menyukai kebebasan, kejutan, dan tidak terikat itinerary kaku maka Rivo menilai desa wisata menjadi destinasi yang tepat untuk mereka.

“Tahun 2021 kami mulai bekerjasama dengan Kemenpar. Bentuk kerjasamanya untuk meningkatkan penjualan paket wisata desa wisata dan optimalisasi pemasaran desa wisata secara digital,” kata Rivo.

Kolaborasi itu, juga untuk mendukung program Beli Kreatif Desa Wisata (Beti Dewi) untuk meningkatkan pemasaran desa wisata secara digital, sehingga dapat mendorong peningkatan kunjungan wisatawan dan penjualan paket wisata desa wisata.

Program itu bertujuan untuk mengajak wisatawan bepergian ke desa wisata dan dapat menopang perekonomian desa. Dengan kerja sama tersebut, produk wisata desa wisata telah dipasarkan melalui platform Atourin .

Tujuannya agar mendapatkan akses pasar yang lebih luas dan dapatkan dukungan pendampingan dari tim khusus Atourin dalam mengelola dashboard untuk optimalisasi pemasaran berbagai produk yang dimiliki tiap desa wisata.

Diharapkan melalui kerja sama itu dapat meningkatkan minat masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata ke destinasi wisata di Indonesia, khususnya ke desa wisata serta berkontribusi pada peningkatan perekonomian nasional dari sektor pariwisata dan ekonom kreatif.

Dalam kerja sama itu, Kemenparekraf dan Atourin melakukan beberapa kegiatan aktivitas pemasaran, diantaranya melalui kegiatan perjalanan wisata pengenalan (famtrip) di Kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Borobudur dan promosi paket wisata desa melalui program “Ayo ke Desa”.

Kegiatan famtrip telah dilakukan di kawasan DPSP Borobudur pada 27-29 Agustus 2024. Kegiatan tersebut diikuti peserta yang terdiri atas content creator, media, tour operator, dan travel agent.

Dalam kegiatan itu, peserta melakukan aktivitas wisata di desa wisata di sekitar kawasan Borobudur, yang merupakan bagian dari Borobudur Trail of Civilization (BToC).

Kegiatan tersebut diharapkan meningkatkan sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam pengembangan dan pemasaran DPSP Borobudur.

Kolaborasi Kemenparekraf/Baparekraf dan Atourin juga dilakukan melalui program promosi “Ayo ke Desa” dengan memberikan diskon hingga 100 persen atau potongan harga hingga Rp100.000 bagi wisatawan yang melakukan pembelian paket wisata melalui aplikasi dan laman resmi Atourin di www.atourin.com.

“ Di desa wisata kami banyak berinteraksi dengan warga Gen Z setempat terutama dari SMK yang sangat antusias dan kreatif untuk memasarkan desa wisata mereka secara digital,” kata Rivo.

Desa wisata desa digital adalah model baru pariwisata yang menggabungkan potensi wisata desa dengan teknologi digital. Desa-desa yang menerapkan model ini memanfaatkan teknologi digital untuk mempromosikan wisata, meningkatkan pelayanan kepada wisatawan, dan memberdayakan masyarakat setempat.

Di perkotaan seperti Jakarta, komunitas volunteer atau relawan juga mulai tumbuh dan banyak memberikan pelatihan bahasa Inggris. Ke depan dia berharap Gen Z relawan ini mau melatih warga desa untuk bahasa asing maupun pelatihan lainnya.

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)