KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id: Ditengah gejolak ekonomi dunia dan pentingnya kerja sama regional yang sangat penting, Sri Lanka dan Malaysia telah memasuki babak baru yang penting.
Dilansir dari www.travelandtourworld.com, pada Forum Regional ASEAN (ARF) ke-32 yang diselenggarakan di Malaysia baru-baru ini, kedua negara membahas rencana – rencana inovatif untuk memperkuat hubungan diplomatik, ekonomi, dan ketenagakerjaan, seperti fasilitas visa saat kedatangan dan kuota yang besar bagi tenaga kerja Sri Lanka.
Langkah-langkah ini menandai babak baru dalam pemulihan hubungan yang erat antara negara kita dan negara tetangga, dari sudut pandang budaya, ekonomi, dan diplomatik.
Keterlibatan Diplomatik Menteri Vijitha Herath
SriLanka diwakili oleh Menteri Luar Negeri Vijitha Herath pada Pertemuan Menteri Luar Negeri Forum Regional ASEAN ke-32 di Malaysia pada 11 Juli 2025.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Herath menegaskan kembali dedikasi penuh Sri Lanka terhadap prinsip-prinsip fundamental ARF dalam membina stabilitas regional, upaya membangun perdamaian, dan kemakmuran ekonomi yang inklusif.
Menteri Herath menegaskan kembali komitmen Sri Lanka untuk lebih meningkatkan kerja sama dalam pemeliharaan perdamaian selama periode 2025-2026, yang menunjukkan proaktivitas negara dalam keamanan regional dan diplomasi multilateral.
Berdiskusi dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim
Di Forum ASEAN, Menteri Herath melakukan pertemuan bilateral penting dengan Perdana Menteri Malaysia Dr. Dato’ Seri Anwar bin Ibrahim di Kantornya di Putrajaya.
Pembicaraan bilateral antara kedua pemimpin berfokus pada dua aspek utama, yaitu operasionalisasi perjalanan bebas visa bagi warga negara Sri Lanka dan pembentukan sistem kuota 10.000 pekerjaan bagi warga negara Sri Lanka untuk bekerja di Malaysia.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim meminta otoritas Malaysia, khususnya Kementerian Sumber Daya Manusia dan Kementerian Dalam Negeri, untuk bekerja sama secara erat dengan mitra mereka di Sri Lanka guna menerapkan langkah-langkah praktis tersebut dan mempercepat pengaturan lainnya.
Pengaturan Perjalanan Bebas Visa
Pembicaraan tersebut juga mengemukakan banyak kemajuan yang telah dicapai menuju rezim bebas visa antara Sri Lanka dan Malaysia.
Pada awalnya, pemegang paspor diplomatik dan resmi kedua negara akan diprioritaskan dan prosesnya akan diperluas kepada pemegang paspor biasa kedua negara setelah semuanya dipelajari dan kesepakatan dicapai di antara kedua negara.
Salah satu langkah pelonggaran visa yang memungkinkan dapat secara signifikan meningkatkan jumlah wisatawan, kontak dan negosiasi bisnis, serta hubungan politik antara kedua negara dengan keterlibatan antarmasyarakat yang positif. Mobilitas yang lancar ini kemungkinan besar akan secara efektif mempromosikan perdagangan bilateral dan pertukaran budaya.
Kuota Pekerjaan untuk Pekerja Sri Lanka
Salah satu terobosan utama dari diskusi ini adalah peluang yang ditawarkan oleh Malaysia untuk menyediakan kuota pekerjaan bagi warga negara Sri Lanka.
Malaysia akan menyediakan kesempatan kerja bagi 10.000 pekerja terampil dan semi-terampil Sri Lanka di kedua sektor, termasuk konstruksi, perhotelan, layanan kesehatan, pertanian, dan manufaktur.
Sebuah kelompok kerja gabungan akan dibentuk pada kuartal keempat tahun 2025 untuk aspek operasional kerja sama ini. Hal ini sangat baik bagi negara seperti Sri Lanka, menawarkan peluang kerja yang berharga bagi pekerja Sri Lanka kami di luar negeri dan semakin meningkatkan perekonomian negara dengan mengumpulkan remitansi yang lebih tinggi.
Operasionalisasi Perjanjian Ketenagakerjaan
Menteri Herath juga mengadakan pertemuan lanjutan dengan para pejabat senior Malaysia (Kementerian Sumber Daya Manusia & Kementerian Dalam Negeri).
Pembicaraan ini mencakup elemen-elemen seperti prosedur perekrutan tenaga kerja, perlindungan hak-hak pekerja, dan kemudahan integrasi warga negara Sri Lanka yang mendaftar di pasar tenaga kerja Malaysia.
Fokusnya adalah pada penerapan sistem rekrutmen yang transparan untuk mencegah eksploitasi pekerja migran dan memastikan mereka bekerja dalam kondisi yang adil, sejalan dengan praktik terbaik dalam pengelolaan migrasi tenaga kerja internasional.
Forum Investor, Perdagangan & Pariwisata Sri Lanka 2025. Poster yang mengumumkan forum tersebut bertuliskan “Sri Lanka” di bagian atas dengan huruf besar, dan “Forum Investor Perdagangan & Pariwisata 2025” di bagian bawah dengan bendera Sri Lanka di sebelah kanannya.
Pertemuan menekankan kolaborasi ekonomi antara Malaysia dan Sri Lanka, Menteri Herath diundang untuk menjadi Pembicara Utama pada hari tersebut di Forum Investor, Perdagangan & Pariwisata Sri Lanka 2025, yang diselenggarakan oleh Komisi Tinggi Sri Lanka di Kuala Lumpur.
Acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 60 pemimpin bisnis, investor, dan perwakilan perdagangan terkemuka Malaysia yang tertarik berinvestasi dalam kemitraan pariwisata antara kedua negara.
Berbicara tentang peluang bisnis di berbagai sektor, termasuk energi terbarukan, infrastruktur pariwisata, pertanian, layanan digital, dan tekstil, forum tersebut menggarisbawahi niat strategis Sri Lanka untuk memperluas basis ekonomi dan menjalin hubungan yang mendalam dengan negara-negara ASEAN.
Meningkatkan Kerja Sama Pariwisata dengan Malaka.
Untuk memperluas kerja sama budaya dan pariwisata, Menteri Herath juga mengunjungi negara bagian bersejarah Malaka. Khususnya, mengenai kemungkinan peningkatan kerja sama antara Melaka dan Sri Lanka.
Referensi khususnya mengenai pariwisata warisan budaya, pembicaraan akan kembali dibahas oleh Gubernur Tun Seri Setia, Dr. Haji Mohd Ali Bin Mohd Rustam.
Dengan Malaka sebagai situs Warisan Dunia UNESCO, terdapat kemungkinan untuk promosi bersama dan paket kolaborasi pariwisata yang menghubungkan Malaka dengan situs warisan UNESCO milik Sri Lanka yang dapat meningkatkan prospek pariwisata kedua negara.
Pertemuan Bilateral dan Diplomasi Regional
Dalam pertemuan bilateralnya dengan Malaysia, dan pemanfaatan ARF, Menteri Herath memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkuat hubungan bilateral Sri Lanka dengan mitra regional lainnya.
Ia telah berdiskusi dengan para menteri luar negeri dan pejabat senior lainnya dari Australia, Bangladesh, Tiongkok, Pakistan, Filipina, Rusia, Korea Selatan, dan Thailand.
Stabilitas regional, kerja sama ekonomi, dan kepentingan strategis bersama merupakan poin-poin utama dalam agenda pertemuan-pertemuan ini.
Selain itu, pembicaraan dengan Wakil Menteri Luar Negeri AS, Allison Hooker, menyentuh isu-isu perdagangan, khususnya penurunan tarif untuk meningkatkan produk-produk Sri Lanka seperti pakaian. Hal ini menyoroti rencana diplomatik yang lebih luas di Sri Lanka untuk meningkatkan integrasi regional dan perdagangan dunia yang pesat.
Kesimpulan: Membangun Manfaat Bersama Jangka Panjang
Forum Regional ASEAN dan interaksi tingkat bilateral yang diadakan antara Sri Lanka dan Malaysia telah menunjukkan diplomasi regional dan kerja sama bilateral yang proaktif.
Pemberlakuan perjalanan bebas visa dan migrasi tenaga kerja yang lebih luas dapat membawa kemakmuran ekonomi, pengayaan budaya, dan kehangatan diplomatik bagi kedua negara.
Seiring kedua negara bergerak maju untuk melaksanakan inisiatif-inisiatif substantif ini, dorongan bagi perekonomian masing-masing kemungkinan akan berdampak positif bagi ribuan pekerja Sri Lanka, meningkatkan pariwisata bilateral, dan mendorong integrasi regional lebih lanjut ke dalam kawasan ASEAN.
Persahabatan ini merupakan dasar yang kuat untuk manfaat jangka panjang bagi kedua belah pihak dan kemakmuran bersamua.










