Yusuf Roneo: Berbisnis Dan Beramal Lewat Celana Sarung Ucup

0
631

Yusuf Roneo Idrus ( kiri) bersama penyanyi religi Opick saat Milad ESQ 165 ke 17 pimpinan Ary Ginanjar Agustian bulan Mei lalu.( foto: HAS)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Hidayah adalah petunjuk yang datangnya dari yang Maha Suci (Allah) dan di karuniakan kepada semua mahluk-Nya. Apabila Allah hendak mengkaruniakan hidayah-Nya kepada seorang hamba,maka tidak ada satupun kekuatan yang dapat menyesatkanya.

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya” (QS al-Kahf:17).

Yusuf Roneo Idrus yang akrab dipanggil Ronie agaknya menjadi salah satu pemuda yang mendapatkan hidayah lewat sebuah celana sarung yang diberikan oleh Yudhi Hartono Idrus, salah seorang kakaknya. Celana sarung yang trendy dan simpel itu kemudian dikenakannya untuk pergi ke mall.

Senang adiknya memakai celana sarung, Yudhi langsung mendoakan adiknya itu mengikuti jejaknya untuk masuk Islam seperti dirinya. Ronie anak bontot dari 7 bersaudara saat itu masih mengikuti agama kedua orangtua mereka yaitu Kristen Advent.

“ Waktu itu bapak sudah meninggal dan kakak saya satu persatu lebih dulu masuk Islam baik karena perkawinan maupun karena memang keinginan sendiri. Tinggal saya dan ibu yang tetap beragama nasrani,” jelas penggemar traveling dan sinematografi ini.

Tak lama kemudian ibundanya meminta ijin untuk mengikuti jejak kakaknya kembali beragama Islam apalagi asalnya memang dari keluarga muslim. Ronie yang aktif di gereja berupaya keras agar ibunya tetap pada keimanan yang dianut bapaknya namun bundanya tidak bisa dicegah lagi untuk kembali menjadi muslim.

Malah prosesnya terlaksana di rumah seorang kakaknya di sebuah komplek militer di kawasan Bogor yang tiba-tiba kedatangan tiga orang berpakaian jubah putih. Maksud kedatangan mereka atas undangan ghoib untuk menuntun sang bunda mengucapkan syahadat.

Setelah mengucapkan syahadat dan sang bunda meninggalkan mereka untuk menjamu dengan minuman dan makanan, ketiga orang tersebut tiba-tiba sudah hilang. Datang tidak pernah diundang, pulang juga tidak diantar alias ghoib…

Butuh waktu dua tahun bagi Ronie untuk kemudian mengikuti jejak saudara-saudara kandung dan ibundanya sebagai mualaf. Anehnya sejak dua tahun sebelum menjadi muslim, dalam perjalanan sang waktu, Ronie terus gemar mengutak-atik beragam sarung menjadi celana sarung.

Dia juga kerap masuk ke dalam mesjid untuk ikut sholat berjamaah meskipun belum bersyahadat.Selama berada di dalam mesjid, dia selalu memperhatikan mulai dari kedatangan jamaah, cara berwudhu, memakai sarung sampai saat mereka kerepotan merogoh kantong celana untuk bersedekah mengisi kotak amal.

Berdiskusi dengan Yudhi, dia lalu mendesain celana-celana sarung untuk beribadah maupun fashion. Pokoknya si pemakai mudah naik motor, mengambil dompet dari kantong sarung dengan desain yang trendy dan simpel dan beraktivitas lainnya.

Ada kantong di kanan dan kiri, bagian depannya bentuk sarung belakangnya bentuk celana. Meski belum resmi menjadi pengusaha namun Ronie sudah memikirkan kenyamanan ketika seseorang menggunakan hasil rancangannya.

Tahun 2008 resmilah dia merintis usaha sarung celana dengan brand Ucup. Seiring dengan itu dia menjadi muslim dan tak lama kemudian mendapatkan jodoh seorang muslimah pula.

“Jadi saya masuk Islam bukan karena mau menikah dengan wanita muslimah tapi justru sudah muslim lebih dulu,” kata bapak dua putri yang kini aktif menjadi Generasi Muda  Mesjid Raya Pondok Indah (GEMA MRPI), Jakarta Selatan.

Sayangnya dalam lima tahun terakhir dari tujuh bersaudara terdiri dari 5 lelaki dan 2 perempuan, dua kakak lelakinya telah wafat termasuk bundanya tercinta sehingga Ronie kerap sedih karena merasa belum membahagiakan mereka.

Social Entrepreneur

Sepanjang bulan Ramadhan ini produk sarung celana Ucup bisa ditemui di area bazar di Mesjid Pondok Indah yang banyak melahirkan ustad kondang di negri ini. Setiap kali bertemu, Ronie banyak bercerita pengalamannya menimba ilmu dari para ustad di mesjid Pondok Indah seperti Arifin Jayadiningrat, ustad Bachtiar Nasir, Kang Rashied, ustad.Rusmono KPJ & ustad.Fadlan Garamatan Nuu War.

Pengalaman hidup, perjalanan spiritual sebagai mualaf dan hidayah yang diterima agaknya menjadikan Ronie lebih nyaman menjadi social entrepreneur. Ide-idenya terus bergulir agar sebagai pengusaha dia bisa sekaligus berdakwah dan beramal.

Boleh dibilang kreativitasnya tidak permah berhenti. Untuk pembuatan celana sarung merk Ucup, dia menggunakan bahan katun, maupun sarung tenun. Untuk desain yang digunakan pun selalu menggunakan motif khas Indonesia.

Soal warna, Ronie mengaku mengangkat semua ragam. Mulai dari merah,Hitam, putih, hijau, ungu, cream, coklat, kuning dan lainnya. “Motif yang digunakan adalah etnik khas Indonesia. Mulai dari batik Solo, Jogja, Cirebon, Pekalongan. Kita jadikan hal ini untuk mengenalkan budaya Indonesia dengan ciri khas sarung dan batik,” jelasnya.

Entah karena usahanya diawali dengan hidayah maka beragam kreativitas yang dimilikinya itu tidak membuat Ronie menjadi sombong. Bahkan setiap hari antara ucapan dan pikirannya tidak lepas dari kata berbagi…berbagi…berbagi.

“ Selain manfaat untuk Ibadah sholat, setiap pembelian celana sarung Ucup oleh customer ( pembeli) sudah termasuk membantu donasi infak atau sedekah melalui Progam Wakaf Celana Sarung Ucup ke masjid, musholla & pesantren yatim yang selama ini telah kami lakukan,”

Ronie mengenakan celana sarungnya di mesjid saat berbagi ilmu

Di dalam mesjid maupun musholla biasanya lebih mudah ditemui mukena, sementara untuk celana sarung masih langka. Oleh karena itu, dia juga membagikan produknya ke tempat-tempat ibadah itu agar jamaah bisa memakainya untuk sholat. Sama sekali tidak ada kekhawatiran bantuannya akan hilang karena dibawa pulang jamaah misalnya.

“Dalam Islam kita tidak boleh berburuk sangka jadi biarlah pengelola mesjid atau musholla juga menjaga alat-alat ibadah yang sudah diberikan,” ungkap pria kelahiran Jakarta, 29 Agustus 1979 ini.

Ditanya konsep pemasarannya ini apakah tidak mengganggu cashflow dan biaya produksi karena keuntungan yang diterimanya makin tipis, Ronie malah meyakinkan bahwa Allah SWT tidak pernah menyusahkan orang yang mau berdakwah di jalanNya.

“Selalu ada jalan bagi Allah untuk membukakan pintu-pintu rejeki bagi Ronie dan keluarga karena tidak terfokus pada penjualan celana sarung saja tapi juga melayani permintaan seragam sekolah. belakangan kami juga memproduksi baju koko, jilbab trendy sampai jacket sesuai permintaan pasar,” kata suami dari Nur Afni Farina.

Dia juga bermitra dengan event organizer ( EO) sebagai pelaksana acara-acara besar dan festival yang membutuhkan seragam kaos dan barang konveksi lainnya,” kata mantan manager marketing di berbagai perusahaan mulai dari perusahaan telekomunikasi, multi finance hingga asuransi ini.

Ronie juga gemar berbagi produk celana sarungnya pada para selebritas dan tokoh-tokoh nasional untuk menggunakan hasil karyanya karena dia memberikan bukti bukan janji. Biasanya setelah memakai produknya barulah si pemakai yakin dengan slogan trendy dan simpel yang digaungkannya melalui beragam media sosial.

Semangat berbagi dan mensponsori kegiatan Ramadhan di TV nasional juga dilakukannya termasuk aktif promosi di gerakan-gerakan shalat subuh berjamaah, shalat Jumat, sholat Taraweh. Untuk para pembawa acara Religi di TV dia memberikan secara personal saja.

“Usaha Ronie masih skala usaha mikro-kecil jadi untuk berpromosi di TV belum mampu. Tapi dengan mengendorse para pembawa acara di TV, Insya Allah banyak yang cari celana sarung Ucup,” tambahnya.

Yusuf Roneo Idrus  atau Ronie ini cukup bangga ketika Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, misalnya, dengan senang hati memakai produknya saat masa kampanye maupun di berbagai acara lainnya.

Ronie yang mendukung program Ok-OCE Anies-Sandy pada pilkada lalu mengatakan keberpihakan pada UMKM untuk membuka lapangan kerja baru telah dilakukannya dengan membuka peluang yang luas agar kalangan pemuda bisa menjadi re-seller.

Dia memberikan kemudahan bagi pemuda mesjid dan anak-anak pesantren untuk bisa menjadi re-seller menjual sarung Ucup di komunitasnya maupun di bazar-bazar sehingga akhirnya mereka nanti bisa membesarkan usaha.

Paduan tenun dan batik untuk kemeja trendy rancangan Ronie

Gerakan sedekah

Selalu berbuat baik kepada orang lain sesuai arahan Nabi Muhammad SAW menjadi kunci aktivitasnya sehari-hari. Semua perbuatan baik kita adalah untuk Allah dan karena Allah. Jadi bukan untuk maksud yang sifatnya kepentingan sementara saja, kata Ronie

Dia meyakini bahwa dengan banyaknya perbuatan baik inilah Allah akan memberikan balasan kebaikan pula. Oleh karena itu caranya berjualan juga menularkan ilmu sedekah.

Ayah dari Aira Rachmeida Yusuf, 6, serta Alika Reswara Yusuf,4, ini memang selalu semangat membahas kekuatan sedekah karena begitu banyak pengalaman pribadi yang dilaluinya karena berkah dari sedekah

“Sedekah itu bukan hanya berupa materi atau produk celana sarung Ucup. Memberikan senyuman dan melayani pembeli yang rewel dengan ikhlas juga sudah sedekah,” ungkapnya.

Celana Sarung Ucup mengajak masyarakat untuk bersedekah dengan cara yang sangat mudah, murah, namun punya dampak yang sangat dahsyat yaitu pahala yang tidak putus-putus karena di pergunakan untuk Ibadah Sholat.

“Saya sering share informasi sedekah celana sarung Ucup di medsos agar saudara-saudaea sesama muslim bersedekah celba sarung  untuk saudara-saudara muslim kita yang berada di Nias, Papua dan daerah-daerah terluar Indonesia lainnya terutama dimana kaum musliminnya minoritas maka menjadi prioritas,” jelas Ronie.

Dia rajin mengajak masyarakat untuk peduli pada lingkungan masjid,musholla serta untuk anak Yatim & Dhuafa dengan sedekah perlengkapan sholat seperti mukena dan celana sarung Ucup. Hasil sedekah dikumpulkan dan dititipkan pada para ustad-ustad pejuang dakwah ke daerah-daerah terpencil.

“Memang tidak mudah merubah mindset masyarakat untuk sedekah celana sarung guna disebarkan ke berbagai mesjid dan musholla di tanah air tapi kami juga tidak pernah berhenti menggaungkannya lewat akun instagram dan media sosial lainnya,”

Cepat atau lambat dia yakin pembeli celana sarung Ucup akan terpikir memberikan produk yang sama untuk dibagikan pada saudara-saudara mereka sesama muslim yang kurang mampu.

“ Produk kami ini juga tersedia di berbagai online shopping sehingga siapapun yang ingin membeli dan bersedekah celana sarung tidak sulit mendapatkan celana Sarung Ucup yang punya nilai ibadah tinggi,” kata Ronie.

Setelah menjadi pengusaha, Romie juga rajin sedekah ilmu dengan memberikan bimbingan, pelatihan & permodalan usaha untuk anak Yatim & dhuafa. Saat ini, kata Ronie, banyak sekali rumah yatim yang menampung sedekah dari masyarakat hingga ke berbagai pelosok jalan berikut papan-papan Rumah Yatim yang mencolok di tepi jalan strategis.

“Saya tidak ingin anak-anak yatim punya mental pasif menunggu sedekah. Tapi mereka harus punya jiwa entrepreneur dan bersikap mandiri. Oleh karena itu saya serius membimbing mereka untuk menjadi re-seller denga sistem kepercayaan,” tegasnya.

Sebagai produsen celana sarung Ucup dia juga aktif dalam berbagai kegiatan charity, tanggap pula jika ada bencana alam, korban banjir, kebakaran, tanah lonsor. Setiap ada kejadian di sekitar dan terjangkau Ronie terfokus menyiapkan tempat sholat dan celana sarung serta mukena agar para korban tidak lalai dalam beribadah.

“ Kalau di Jakarta paling sering terjadi kebakaran karena itu Ronie dan teman-teman akan segera turun lapangan memperhatikan kebutuhan ibadah, sementara pemerintah dan organisasi masyarakat lainnya menyiapkan bantuan ransum, baju-baju dan kebutuhan lainnya di tempat pengungsian,”

Jadi, ujarnya, setiap orang bisa dapat bersedekah dan setiap hari punya kesempatan untuk meraih kebaikan. “Yang bisa Ronie lakukan adalah terus berusaha, terus bergerak, terus berkarya, terus bekerja hingga akhir usia. Karena kita tidak pernah tahu, lewat amalan yang mana Allah akan memberikan surga kepada kita nantinya,” ujarnya mengakhiri obrolan.

Membentuk keluarga Samara, menjadi impiannya. Bersama istri dan dua putri kecilnya Ronie terus membangun komunikasi dua arah dimanapun dia berada. Jadi jangan heran kalau melihat pria imut ini tidak lepas dari telpon genggamannya karena bisa saja Aira yang menelpon dan menunggu ayahnya pulang untuk sholat berjamaah di rumah. ( Hilda Ansariah Sabri) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.