Yunia Atika, Berbagi Pengalaman Ikuti P3BI

0
2994
Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso usai menyerahkan piala pada pemenang pertama Pemilihan Putra Putri Bahari Indonesia 2014 Andre Wilyanto dari Sumsel dan Fifi Sasta dari NTB ( foto Antara)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Pemilihan Putra-Putri Bahari Indonesia ( P3BI) 2014 memberikan pengalaman berharga bagi Yunia Atika, 20, mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid. Selama 10 hari mengikuti kegiatan karantina yang melahirkan duta wisata bahari, kini dia memiliki wawasan kelautan yang lebih luas.

”Wawasan kelautan itu diberikan langsung oleh tokoh-tokoh yang menguasai ilmu kelautan baik para mantan Menteri Kelautan seperti Rokhmin Dahuri, Kemala Motik dan para pakar lainnya,” kata Tika, sapaan akrabnya, hari ini.

Kegiatan final P3BI yang berlangsung 7 Desember 2014 di Gedung Mina Bahari, Kementrian Kelautan dan Perikanan, berlangsung meriah meskipun tanpa kehadiran Menteri KKP Susi Pujiastuti. Namun Tika tidak kecewa karena 50 peserta yang mengikuti kegiatan ini justru saling mendukung di saat kompetisi itu menentukan titik akhir.

”Selama 10 hari bersama kami sudah seperti saudara saja, setiap hari harus bangun jam 5.30 pagi untuk ibadah dan olahraga, lalu setiap hari begitu banyak kegiatan yang menantang mulai dari tes renang, belajar menyelam, naik kapal Angkatan Laut KRI Banda Aceh ke Kepulauan Seribu dan menghadiri pelatihan serta seminar-seminar kelautan,” kata Yunia Atika yang mewakili provinsi Kalimantan Barat.

Salah satu tantangan yang harus dihadapinya adalah presentasi mengenai potensi bahari dan pariwisata dari Kalimantan Barat mengingat dia berdomisili di Jakarta dan bukan utusan remi pemerintah Kalimantan Barat, mengingat provinsi itu tidak menyelenggarakan pemilihan di tingkat daerah dan mengirimkan wakil untuk berkompetisi di tingkat nasional.

Bisa melalui berbagai persyaratan, Tika akhirnya mendapat penghargaan khusus sebagai  Putra Putri berwawasan IPTEK bersama dengan Bram Elungan, wakil dari Jawa Timur. Malam itu, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menyerahkan penghargaan kepada Andre Wilyanto (Sumatra Selatan) dan Fifi Sasta  dari Nusa Tenggara Barat yang terpiklih sebagai Putra Putri Bahari Indonesia 2014.

Pemberian penghargaan telah diberikan oleh Presiden Jokowi pada peringatan Hari Nusantara 2014 di Kotabaru, Kalimantan Selatan. Pemenang lainnya adalah  Ivan Mahani  wakil dari Jakarta, Cindy Nathania (sumsel) sebagai Wakil 1, sementara di posisi Wakil 2 sama-sama dari Sumatra Utara yaitu Issan dan Corry Sagala.

Harapan 1 jatuh pada Febrian Adithya (Riau) dan Helena yang mewakili  Provinsi Bangka dan Belitung. Posisi harapan !! di isi oleh Chandra Pribadi dari Jateng dan Anggun Lazuardi  dari Bengkulu. Penghargaan khusus juga diberikan untuk Richa Reihana (Jambi) dan Deny (Lampung). Putra-putri Persahabatan diraih Afriza dari Jabar dan Mega Rorong  (Sulawesi utara) dan untuk penghargaan terfavorit jatuh pada Sevri  dari Sulawesi utara  dan Misela, mewakili Kalimantan tengah.

”Ternyata teman-teman dari daerah punya talenta yang luar biasa dan mampu memanfaatkan dunia internet untuk mengatasi hambatan-hambatan yang ada di daerah sehingga dalam hal life style, pengetahuan, gadget dan aspek lainnya mereka itu tidak kalah dengan orang Jakarta. Saya salut sayangnya kompetisi positif seperti Pemilihan Putra Putri Bahari Indonesia ini tidak semua daerah mau melaksanakannya,”

Seharusnya pemerintah provinsi kreatif menyelenggarakan beragam kegiatan untuk menggali potensi bakat putra putri daerahnya. Oleh karena itu Yunia Atika prihatin kalau pada kegiatan ini hanya 14 provinsi yang mengirim utusan resminya, sisanya hasil audisi dari peserta yang tinggal di Jakarta tapi mewakili daerah asalnya masing-masing.

 

Yunia Atika mewakili Kalbar, finalis yang mendapatkan penghargaan khusus bidang IPTEK
Yunia Atika mewakili Kalbar, finalis yang mendapatkan penghargaan khusus bidang IPTEK

Selama di gembleng di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan DKI Jakarta di Jl Nangka, Pasar Minggu, Tika mengatakan manfaatnya sangat banyak karena visi-misi President Jokowi mengenai pentingnya Indonesia menjadi bagian dari Poros Maritim Dunia dapat dipaparkan secara sistematis oleh para pembicara mulai dari pertahanan kelautan, tol laut hingga ke masalah tekhnis pengolahan sumber daya laut.

Tika baru paham mengapa dibutuhkan duta bahari dan bagaimana Peringatan Hari Nusantara itu berkaitan dengan Deklarasi Djoeanda 13 Desember 1957 yang sangat menentukan baik  secara geopolitik dangeoekonomi sangat penting bagi kejayaan dan kedaulatan bangsa Indonesia.

Pasalnya tanpa tanpa Deklarasi Djoeanda, potensi kekayaan laut Indonesia hanya sekitar sepertiga dari potensi yang kita miliki sekarang. Saat itu wilayah laut Indonesia saat itu hanya meliputi laut sejauh 3 mil dari garis pantai yang mengelilingi pulau-pulau kita. Sehingga, di antara pulau-pulau Indonesia terdapat laut bebas (internasional), yang memisahkan satu pulau dengan lainnya, memisahkan kita, dan ini berarti ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa NKRI.

Bersyukur Ir. H. Djoeanda, Perdana Manteri pada waktu itu dengan berani pada tanggal 13 Desember 1957 mendeklarasikan kepada dunia, bahwa wilayah laut Indonesia tidaklah sebatas itu, seperti diatur dalam Territoriale Zee Maritiem Kringen Ordonantie 1939. Wilayah laut Indonesia adalah termasuk laut di sekitar, di antara, dan di dalam Kepulauan Indonesia.

Deklarasi Djoeanda tidak langsung diterima oleh masyarakat dunia, bahkan Amerika Serikat dan Australia menentangnya. Namun, berkat kegigihan perjuangan diplomasi oleh para penerusnya seperti Prof. Dr Mochtar Kusumaatmadja dan Dr. Hasyim Djalal, maka deklarasi yang berisikan konsepsi Negara Kepulauan (Archipelagic State) tersebut diterima oleh masyarakat dunia, dan akhirnya ditetapkan dalam Konvensi Hukum Laut PBB (United Nation Convention on Law of the Sea, UNCLOS) 1982.

”Saya baru paham peran strategis laut karena kita memiliki wilayah laut, termasuk ZEEI, sangat luas 5,8 juta km2 yang merupakan tiga per empat dari total wilayah Indonesia. Di dalamnya terdapat 17.504 pulau dan dikelilingi garis pantai sepanjang 95.200 km, terpanjang kedua setelah Kanada. Fakta fisik inilah yang membuat Indonesia dikenal sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia.

Selain geopolitik, laut juga memiliki peran geokonomi yang sangat strategis bagi kemajuan dan kemakmuran Indonesia. Laut kita mengandung kekayaan alam yang sangat besar dan beragam, baik berupa SDA terbarukan (seperti perikanan, terumbu karang, hutan mangrove, rumput laut, dan produk-produk bioteknologi).

Untuk sumber daya alam (SDA) tak terbarukan juga berlimpah seperti minyak dan gas bumi, timah, bijih besi, bauksit, dan mineral lainnya,  energi kelautan (seperti pasang-surut, gelombang, angin, danOTEC atau Ocean Thermal Energy Conversion); maupun jasa-jasa lingkungan kelautan seperti untuk pariwisata bahari, transportasi laut, dan sumber keragaman hayati serta plasma nutfah.

”Kekayaan SDA dan jasa-jasa lingkungan kelautan tersebut dapat kita dayagunakan untuk kemajuan dan kemakmuran bangsa melalui sedikitnya 11 sektor ekonomi. Jadi kami juga mendapatkan pengetahuan mengenai a.l industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, pariwisata bahari, hutan mangrove dan industri dan jasa maritim lainnya. Benar-benar hari-hari yang melelahkan namun benar-benar membuka wawasan kelautan dan membedakan dengan jenis kompetisi lainnya,” kata Tika mengakhiri obrolannya dengan senyuman. Selamat ya bagi semua peserta ! ([email protected])

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.