Wow, Nilai Konstruksi Hotel Tembus Rp 7,85 Triliun

0
1107
konstruksi hotel baru

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: SEPANJANG Januari-Mei 2015, nilai konstruksi properti hotel di Indonesia tercatat mencapai Rp 7,85 triliun. Tahun 2015, Indonesia diprediksi kedatangan sekitar 149 hotel baru atau setara dengan 27.632 kamar.

Bisnis properti hotel bagi para pengembang properti menjadi sebagai salah satu sumber pendapatan berkesinambungan (recurring income). Sekalipun demikian para pengembang diminta agar benar-benar memperhatikan segmen pasar yang akan digeluti. Sedangkan pemerintah diminta mendorong terus pertumbuhan pariwisata nasional sebagai salah satu pemicu utama bergairahnya bisnis hotel.

Demikian rangkuman pendapat dari Direktur Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, Manajer Pengembangan Usaha STR Global Indonesia, Christy Megawati, Assistant Research Manager BCI Asia, Cahyono Siswanto, dan Managing Director KSO Waskita Darmo Permai, Kevin Yaphon Sanjoto yang dihubungi terpisah baru-baru ini.

“Wilayah dengan realisasi terbesar hingga Mei 2015 adalah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, dengan masing-masing senilai Rp 1,66 triliun dan Rp 1,42 triliun,” jelas Cahyono Siswanto.

Dia menjelaskan, realisasi ini berdasarkan jumlah proyek yang tumbuh sebanyak 45 hotel dengan sebagian besar segmen hotel budget. Di wilayah Jabotabek dan Jawa Barat tercatat masing-masing sebesar Rp 1,08 triliun dan Rp 644 miliar. Tahun 2014, kedua wilayah itu mencatat masing-masing nilai konstruksi Rp 4,82 triliun dan Rp 4,59 triliun.

Realisasi nilai konstruksi proyek properti hotel untuk wilayah lain diantaranya, Bali-Nusa Tenggara Rp 1,29 triliun, Sulawesi-Kalimantan Rp 464 miliar dan Sumatera Rp 1,26 triliun.

Menurut Ferry Salanto, merosotnya tingkat hunian atau okupansi hotel di Jakarta berdampak negatif bagi para pebisnis hotel. Okupansi hotel di Jakarta yang turun hingga 56 persen sepanjang Maret 2015. Potensi bisnis hotel untuk jangka pendek belum menunjukkan angka yang membaik.

“Hal ini bisa terlihat dari okupansi hotel-hotel di Indonesia yang masih kurang ideal. Sebab, beberapa pengembang hotel di sejumlah wilayah di Indonesia juga masih belum menunjukkan tingkat hunian yang cukup signifikan,” kata dia.

Saat ini, hotel-hotel dalam negeri cukup jenuh karena permintaan tak sebanding jumlah ketersediaan. Banyak yang berlomba-lomba bangun hotel karena melihat lokasi strategis. Namun, semakin banyaknya hotel yang ada, jumlah tamu hotel juga berkurang. “Tidak hanya di Jakarta dan Bali, Yogyakarta pun menunjukkan okupansi yang tidak cukup bagus,” ujar Ferry.

Prospek Hotel

STR Global Indonesia memperkirakan, Indonesia kedatangan 149 hotel sepanjang tahun 2015. Hotel-hotel kini memasuki tahap konstruksi. “Dari keseluruhan hotel itu pembangunannya masih dalam tahap konstruksi,” kata Christy Megawati.

Menurut dia, dari 149 hotel Indonesia mendapat tambahan 27.632 kamar. Hotel-hotel itu, didominasi kelas upscale, midscale, dan independent. “Selain itu, area dengan tingkat pembangunan tertinggi berpusat di pulau Jawa, Bali dan Kalimantan,” ujarnya.

Bagi Kevin Yaphon, bisnis hotel masih cukup prospektif. Karena itu, pihaknya bakal melengkapi proyek superblok 88 Avenue, Surabaya dengan fasilitas hotel. “Kami akan membangun hotel di superblok kami. Ini untuk melengkapi penghuni kawasan CBD tersebut,” paparnya.

Menurut Ferry, pengembang properti mendapatkan pendapatan berkesinambungan (recurring income) dari properti hotelnya. Di sisi lain, tambahnya, bisnis hotel merupakan bisnis bergengsi dan fleksibel. Meski demikian, pihak hotel perlu juga mempertimbangkan potensi customer. “Dengan begitu, di tengah masa okupansi yang kurang bagus, pihak hotel masih bisa mendapatkan income,” ujarnya.

Di tengah persaingan ketat antar hotel, pemerintah sebaiknya meningkatkan sektor perekonomian dengan cara meningkatkan kunjungan wisatawan. Dengan semakin tingginya kunjungan wisatawan, bukan tidak mungkin pihak hotel bisa kembali memperoleh income. “Masing-masing pihak hotel punya cara sendiri untuk menggaet konsumen. Disinilah kreativitas itu diperlukan agar terlihat menarik, meski banyak juga yang sudah menekan rate,” tutur Ferry.

Meski jangka pendek potensi bisnis hotel belum membaik, namun Ferry berharap dalam jangka panjang tingkat hunian akan pulih kembali. “Perlu intensif yang bisa mendorong bisnis perhotelan bergerak maju lagi,” kata dia seperti dikutip laman investordaily.com, Sabtu (04/07/2015). (*)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.