Woouw, Tiongkok Jadi Turis Nomor Satu di Bali

0
500
wisatawan asing di Ubud Bali (Foto: The Ritz-Carlton)

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Resepsionis hotel berbintang yang berjejer di kawasan wisata Nusa Dua, Jimbaran dan sekitarnya, di Kabupaten Badung, Bali itu, ditata sedemikian rupa tampak unik dan menarik dalam menyambut Tahun Baru Imlek 2568.

Selain hotel, rumah umat Khonghucu, wihara, kelenteng, dan kuil juga dihias sedemikian rupa bernuansa Imlek jauh hari sebelumnya. Prosesi barongsai dan naga yang dikemas dalam atraksi unik dan menarik mengawali perayaan Tahun Baru Imlek di kawasan wisata Kuta dan sekitarnya pada Jumat petang (27/1), sehari menjelang Imlek.

Prosesi berjalan mengelilingi Vihara Dharmayana dan jalan-jalan protokol di kawasan Kuta dan sekitarnya melibatkan lima barongsai serta dua naga dari puluhan koleksi barong dan naga.

Hubungan kerja sama antara Tiongkok dengan Indonesia, khususnya Bali, sebenarnya telah terjalin erat sejak abad XII. Sisa-sisa hubungan akrab itu bisa dijumpai hingga sekarang antara lain dalam bentuk pementasan kesenian, tempat suci, maupun arsitektur bangunan yang berciri khas negeri “Tirai Bambu” itu.

Bahkan penggunaan uang Tiongkok (pis bolong) dalam berbagai ritual keagamaan umat Hindu di “Pulau Dewata” hingga kini masih berlaku.

“Akulturasi seni budaya negara itu dengan seni budaya Bali terjadi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat yang dapat memperkokoh kehidupan seni budaya Bali yang diwarisi secara turun temurun,” tutur pengamat agama dan adat Dr I Ketut Sumadi seperti dilansir laman wartaekonomi.com, Senin (30/01/2017).

Sumadi yang juga Direktur Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar itu, menilai akultutasi seni budaya Tiongkok dengan seni budaya Bali menyangkut berbagai aspek kehidupan, namun sulit dibayangkan prosesnya karena sudah terjadi beberapa abad yang silam.

Akulturasi itu antara lain menyangkut proses berkesenian dan berbudaya masyarakat yang dapat dibuktikan seperti dalam tari Baris China, Patra China, Barong Landung, dan penggunaan uang kepeng (pis bolong) perlengkapan berbagai ritual dan adat di Bali.

Peradaban bangsa Tiongkok sebelum Masehi lebih tinggi dari masyarakat Bali, sehingga secara hipotesis, masyarakat yang peradabannya lebih rendah akan mengadaptasi ilmu pengetahuan maupun teknologi dari berperadaban lebih tinggi.

Atas dasar itu pula masyarakat Tiongkok kini semakin banyak berwisata ke Indonesia, khususnya Bali, termasuk dalam merayakan Tahun Baru Imlek 2568. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Adi Nugroho menjelaskan jumlah wisatawan Tiongkok berkunjung ke “Pulau Dewata” 907.028 orang selama Januari-November 2016, meningkat 41,28 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 642.000 orang.

Kunjungan masyarakat negeri “Tirai Bambu” itu mampu memberikan andil 20,22 persen dari total wisman yang berkunjung ke Bali 4,48 juta orang. Tiongkok menempati peringkat kedua setelah Australia dari 10 negara terbanyak yang memasok turis ke “Pulau Dewata”.

Australia berada di peringkat teratas masyarakatnya yang berwisata ke Bali tercatat 1,04 juta orang, meningkat 19,46 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya 876.748 orang Jumlah wisatawan Tiongkok yang berbondong-bondong menikmati liburan ke Pulau Bali, bisa menyalip pelancong asal Australia yang selama ini menempati urutan teratas.

“Kehadiran wisatawan Tiongkok ke Bali bisa lebih banyak dari masyarakat Australia, jika transportasi udara dari negeri ‘Tirai Bambu’ ke Bandara Ngurah Rai semakin lancar,” ujar pengamat pariwisata Bali, Tjokorda Gde Agung. (*/WEO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here