Womenpreneur di Daerah masih Memprihatinkan

0
447
Tumbuhkan jiwa Womenpreneur

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Hadapi era persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), pemerintahnya hendaknya mendorong tumbuhnya wirausahawan perempuan (womenpreneur), terutama di daerah agar bisa semakin kompetitif. Sejauh ini, kaum perempuan di daerah banyak alami kendala dalam merintis usaha secara mandiri.

“Saat ini banyak perempuan di berbagai pelosok Indonesia hidup dalam himpitan ekonomi. Mereka perlu dibangkitkan dari keterpurukan ekonomi, dengan menumbuhkan wirausaha,” saran pemerhati ekonomi dari Indosterling Capital, William Henley di Jakarta, Kamis (21/4/2016).

Saran ini berkaitan Hari Kartini pada 21 April. Sebagaimana Kartini, sepatutnya semua pihak berani memperjuangkan kesetaraan laki dan perempuan dalam berbagai bidang, termasuk dalam bisnis.

“Ini bisa dimulai dari perempuan itu sendiri. Mereka harus memiliki rasa percaya yang tinggi, bahwa mereka mampu mandiri secara ekonomi dan menjadi pebisnis tangguh,” ujarnya.

Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM), kaum perempuan adalah pihak yang paling banyak menggeluti sektor bisnis. Dari 52 juta pelaku UKM di Indonesia, sebanyak 60% dikelola perempuan.

Jika selama ini UKM dikatakan sektor paling kebal dari krisis dan menjadi penyelamat ekonomi nasional, sambung William, pengusaha perempuan tentunya memiliki peran sangat siginifikan dalam perekonomian nasional.

“Bercermin dari kondisi itu, perlu kiranya ada upaya yang lebih terencana untuk mendorong kemandirian perempuan secara ekonomi. Di sinilah peran pemerintah seharusnya mampu memberikan berbagai kemudahan buat kaum perempuan, terutama di daerah-daerah yang kondisinya masih memprihatinkan,” paparnya.

Sejauh ini, tambah dia, kaum perempuan yang ingin merintis usaha kerap kali mengalami kendala permodalan. Sektor perbankan, masih enggan mengucurkan kredit karena menganggap belum bankable dan usahanya tidak prospektif.

Kendala lain sulitnya menembus pasar. Mereka sudah mampu menciptakan produk bernilai ekonomi, namun bingung kemana produk akan dipasarkan. ”Minimnya informasi tentang target pasar dan buruknya infrastruktur mempersulit penjualan produk dari satu daerah ke daerah lain,” sambungnya seperti dikutip laman sindonews.com.

Padahal untuk membangun jiwa kewirausahaan di pedesaan, menurut William, sebenarnya bisa melalui komunitas. Pertimbangannya ikatan kekerabatan (keguyuban) masyarakat di pedasaan masih kuat. Perlu dibangun cluster – cluster pengembangan ekonomi sesuai karakteristik daerah masing-masing.

Dicontohkan di Palembang perlu dibangun cluster ekonomi kain songket dengan perempuan sebagai tulang punggungnya. Hal yang sama bisa dilakukan di Pakelongan untuk cluster ekonomi produk-produk berbasis batik. Lalu agar hasilnya maksimal, kata William, program tersebut harus bersifat lintas sektoral.

”Kita memiliki beberapa kementerian dan lembaga yang harusnya bisa mengemas program pemberdayaan perempuan yang mumpuni. Kementerian Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, dan Badan Ekonomi Kreatif harus satu irama untuk memberdayakan perempuan,” pintanya. (*/S)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.