Wisatawan Rusia Selundupkan Narkoba ke Pulau Dewata

0
667

DENPASAR, test.test.bisniswisata.co.id: Aksi penyelundupan narkoba ke Bali, kembali terjadi. Penyelundup melancarkan aksinya dengan berbekal visa kunjungan wisata. Kali ini Magnaeva Aleksandra (26) warga negara Rusia, yang menyamar sebagai wisatawan kedapatan membawa 2,1 kilogram narkotika jenis sabu-sabu. Aksi ini, ditangkap aparat Bea dan Cukai Bandar Udara Internasional Ngurah Rai Bali, pada Minggu (7/12/2014).

“Tersangka sudah beberapa kali membawa barang terlarang itu ke sejumlah negara, tetapi baru di Bali ia tertangkap,” kata Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Ngurah Rai, Budi Harjanto, di Denpasar Kamis (11/12/14).

Namun Budi tidak menyebutkan negara mana saja yang telah dikunjungi tersangka untuk mengedarkan barang haram itu yang diketahui sudah sepuluh kali melakukan hal yang sama.

Dijelaskan, pengangguran kelahiran Magadan, 3 November 1988 itu ditangkap di Terminal Kedatangan Internasional sesaat setelah mendarat dari Hong Kong sekitar pukul 18.00 Wita. Magnaeva menumpang Hong Kong Airlines, HX-707 rute Hong Kong-Denpasar itu berupaya menyelundupkan barang haram itu dengan modus yang konvensional yakni disembunyikan dirongga dalam koper berwarna ungu miliknya.

“Setelah dilakukan pemeriksaan mendalam terhadap barang itu melalui ‘narcotic test’, kristal benang tersebut merupakan sediaan narkotika jenis sabu-sabu,” ungkapnya.

Dalam koper tersebut ditemukan 10 bungkusan plastik bening yang dilapisi kertas karbon dan lakban bening berisi kristal bening. Hasil pengungkapan terhadap Magnaeva, tersangka diduga berperan sebagai kurir atas perintah seorang pria berinisial P, yang diketahui menjadi kekasihnya di Tiongkok. “Perkenalan tersangka dilakukan melalui media sosial,” jelasnya.

Kepala Sub-Direktorat Narkoba Polda Bali Ajun Komisaris John Lay menjelaskan pihaknya kesulitan melacak seseorang yang menerima barang haram itu di Bali. “Komunikasi dengan P sangat singkat. Nomornya pun kami tidak bisa telusuri karena menggunakan aplikasi ‘we chat’. Kami sulit memonitor P karena diduga di berada di Tiongkok,” ucapnya.

Begitupula saat polisi berupaya menangkap penerima narkotika itu mulai tanggal 7 hingga 10 November 2014 di sebuah hotel di Legian, Kuta, yang telah dipesan tersangka sebelumnya, juga gagal dilakukan. “Ini merupakan jaringan yang rapi sehingga komunikasi antara tersangka dengan penerima terputus,” paparnya seperti dikutip laman Antara.

Tersangka kini dilimpahkan ke Polda Bali untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Tersangka dijerat pasal 113 ayat 2 Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal pidana mati atau paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar. ****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.