Wisatawan ke Taman Impian Jaya Ancol Disuguhi Bau Busuk

0
3279

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Wisatawan nusantara yang berwisata ke Taman Impian Jaya Ancol, mengeluh. Keluhan itu bersumber dari bau busuk yang tak sedap bahkan sangat menyengat hidung. Bau itu bersumber dari sekitar 750 Kilogram berbagai jenis ikan, yang mati di pantai Ancol Jakarta. Bau busuk itu terjadi sejak lima hari lalu, namun hingga Selasa (01/12/2015) bau masih menyebar.

Penyebaran ini jelas mengganggu wisatawan yang ingin berwisata ternama di pinggiran kota Jakarta. Memang, pihak pengelola Taman Impian Jaya Ancol masih melakukan pembersihan matinya ribuan ikan di sepanjang Pantai Ancol. Namun seolah tak pernah habis, bangkai ikan yang mati itu terus muncul ke permukaan sehingga mengotori pemandangan pantai juga menyebar bau tak sedap.

Petugas keberhasilan lainnya sempat menyisir pantai menggunakan serokan dari satu titik lokasi ke titik lokasi lainnya. Sedikitnya di satu titik saja ada enam plastik ukuran 4 kg yang sudah terisi bangkai ikan dari penyisiran yang dilakukan siang hari ini.

Salah seorang petugas Pantai Ancol, Muhidin mengatakan pembersihan dilakukan karena masih tercium bau busuk yang mengganggu kenyamanan pengunjung. “Sudah semingguan ini pada mati ikannya. Jadi bau busuk masih tercium dari kemarin sampai hari ini. Pengunjung Pantai Ancol juga banyak mengeluh, makanya sepi,” kata Muhidin, Selasa (1/12/2015).

Biasanya, kata dia, banyak pengunjung menikmati suasana pantai sambil bermain di bibir pantai. Namun semenjak bangkai ribuan ikan terpapar di pinggiran pantai dan menyebarkan bau membuat banyak pengunjung enggan menyentuh air laut Pantai Ancol. “Sekarang jadi mereka segan nginjek air. Biasanya banyak yang mandi tapi sekarang enggak ada,” ujarnya.

Saat ini, tambah dia, sekira 20 orang petugas diterjunkan untuk menyisir pantai dari wilayah barat pantai hingga ke wilayah timur pantai Ancol. “Dari Pantai Karnaval dan Pantai Indah yang paling banyak mati ikannya,” tuturnya.

Manager Corporate Communications PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Rika Lestari mengatakan, matinya ikan di lokasi akibat fenomena iklim yang tidak menentu saat ini. Pasalnya, hal tersebut pernah terjadi sekira tiga tahun lalu. “Tepatnya itu tiga tahun yang lalu, kejadian seperti ini sudah terjadi di Ancol,” ujarnya

Rika menjelaskan, matinya ratusan ‎ikan tersebut tidak membuat pihak Ancol merasa kaget. Sebab, dalam sepekan terakhir tanda-tanda serupa juga pernah terjadi tiga tahun lalu. “Satu minggu yang lalu, tim kita di lapangan, sudah melihat gelagat tiga tahun lalu akan terulang. Tim melihat air di pantai berbusa,” ungkap Rika.

Saat ini, lanjut dia, bangkai ikan ini telah diangkut petugas dengan menggunakan satu unit mobil bak terbuka. Selanjutnya, pihaknya tengah melakukan uji laboratorium untuk memastikan penyebab peristiwa langka ini terjadi. “Tim kita langsung membawa sampel ikan ke laboratorium buat diuji apa penyebabnya. Kalau hasilnya sudah ada, kita pasti kabari,” ucapnya.

Rika menambahkan, guna memastikan keselamatan para wisatawan, para petugas di Ancol mengimbau agar aktivitas berenang di sekitar kawasan ditemukannya ikan mati untuk dikurangi. “Ini sih buat jaga-jaga saja,” tandas Rika.

Pemprov DKI melalui Kepala Bidang Perikanan Dinas ‎KPKP DKI, Lilik Litasari mengungkapkan, total ada 750 kilogram total ikan yang mati di seluruh kawasan Pantai Ancol, Pademangan, Jakarta Utara. Perubahan cuaca yang ekstrem menjadi pemicu atas matinya ikan yang biasa ditangkap oleh nelayan pesisir Ibu Kota tersebut. “Ini data yang ada dari Jumat 26 November 2015 kemarin. Matinya ikan itu sudah terjadi sejak Jumat kemarin. Jumlah ikan yang mati mencapai 750 kilogram,” kata Lilik

Peneliti Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sri Turni Hartati memprediksi kematian ikan itu dikarenakan peningkatan populasi alga merah yang terlalu tinggi. Namun ia belum bisa memastikan hal itu karena menunggu analisa laboratorium. Alga merah tergolong salah satu jenis dari tumbuhan planton yang hidup di perairan terpapar sinar matahari. “Sebabnya nutrien yang cukup tinggi. Dipicu cahaya yang cukup. Jadi oksigen berebut dengan ikan. Kita juga perlu melihat apakah insang ikannya tertutup planton,” katanya.

Guna mengantisipasi kematian ikan terjadi lagi, ia menilai perlu memperbaiki pengelolaan limbah di wilayah pantai Jakarta. Sebab, peningkatan nutrien yang merupakan makanan alga dipicu dari limbah seperti detergen. “Jadi yang mati itu ikan pinggiran seperti ikan sembilang, belana, dan ketang-ketang. Analisa lengkapnya kita tunggu seminggu,” katanya.

Selain itu, penyebabnya peningkatnya populasi planton dipicu faktor lainnya seperti suhu, C02, dan nitrogen fosfor. Ia mengatakan jika faktor penyebab tumbuhnya alga meningkat, populasi bisa meningkat lagi. Ia pun tidak bisa memprediksi kapan hal itu akan terjadi.

“Lebih dari 70 persen penyebab tumbuhnya alga asalnya dari limbah domestik seperti detergen, kita bangun masyarakat jangan buang langsung limbah ke air. Harus ada kerja masyarakat. Harus dibuatkan WC-WC komunal. Dibandingkan negara lain, pengelolaan limbah negara kita buruk,” ungkapnya. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.