Turis China, Australia, India Paling Suka Nikah di Pulau Dewata

0
447
Turis menikah di Bali (foto: maestro-bali.com)

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Ketua Bali Wedding Association (BWA) Ketut Agus Dion Satvika mengatakan wisatawan dari China dan Australia paling meminati melangsungkan pesta pernikahan di Pulau Dewata. Sedangkan konsep tema pernikahan yang diangkat, umumnya bergaya Barat, tetapi ada juga yang dipadukan dengan budaya Bali.

“Kalau dulu didominasi oleh wisatawan dari Australia, sekarang sudah bersaing jumlahnya dengan wisatawan dari China. Mereka ini sama-sama menyukai suasana pantai untuk menggelar pesta pernikahan,” kata Dion, di Denpasar, seperti dilansir laman Antaranews, Selasa (28/02/2017).

Diprediksi semakin banyak pesta pernikahan yang digelar di Pulau Dewata, karena pada bulan Januari yang biasanya cenderung sepi, tetapi awal tahun ini setiap hari ada saja yang menggelar pesta pernikahan, sambungnya.

Berkaca dari pengalaman tahun sebelumnya, pesta pernikahan di Bali akan mulai ramai dari bulan Mei. Sedangkan dari Januari sampai April, rata-rata per hari ada empat pesta pernikahan yang dilayani oleh anggota BWA, namun mulai Mei bisa mencapai 15 pesta nikah dalam sehari.

Wisatawan China dan Australia yang melangsungkan pesta nikah di Bali, umumnya tidak menyertakan undangan yang terlalu besar. Mereka lebih suka hanya mengajak kerabat dan teman terdekat. “Meskipun demikian, biaya yang mereka keluarkan tidak bisa dikatakan kecil karena segala pernak-pernik pernikahan hingga kateringnya adalah kelas yang terbaik,” ujarnya lagi.

Bali sebagai tempat pesta pernikahan, lanjut Dion, juga makin digemari oleh wisatawan dari Jepang dan India. Mereka juga menyukai pemandangan pantai hingga tebing untuk melangsungkan pernikahan. “Hanya saja, khusus wisatawan India, murni mengangkat konsep budaya setempat. Mereka memilih Bali lebih untuk mengejar view yang indah,” kata Dion lagi.

Public Relation Bali Wedding Association Elbie Damara menambahkan, Bali semakin digandrungi menjadi tujuan pelaksanaan pesta pernikahan, sekaligus menjadi potensi wisata baru.”Mereka dari luar negeri itu waktu tinggalnya juga lumayan lama, rata-rata 5-10 hari karena sekaligus digunakan sebagai kesempatan untuk berlibur, sehingga hotel-hotel juga ikut kebagian rezeki,” ujar Elbie.

Apalagi kalau yang menggelar pesta pernikahan itu orang Indonesia, meskipun relatif lebih singkat tinggal di Bali, tetapi biasanya jumlah undangannya cukup besar hingga 100 orang. “Menggeliatnya bisnis wedding di Bali setidaknya bisa menolong mengangkat okupansi hotel di tengah berlebih jumlah kamar hotel di sini,” tambahnya. (*/ANO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here